Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

AI MAS NAA TNEBAR EVAV

AI MAS NAA TNEBAR EVAV

Tradisi adat dan budaya Kei memukul tipa -gong mengantar para penari di setiap acara adat dan serimonial

Tnebar Evav i nuhu yan ain naa Nuhu Roa tutu. Umat naa Tnebar Evav voho hir Kristen, voho Salamlam, ne voho vel hob r’taha wawat teten ub-nus i fo vusin. Adat evav i hob r’taha bok li re.

Norang tom ain n’mel-mel naa bal rayat Tnebar Evav i, lalain la naa nuhu yan i leran faa tuban ain na mtuk n’tal lanit. Tuban ni sasaai i tomat wau; baran –ran hir fit enhov urar ain.Hir r’var ai mas voat.

Ai mas ni ngain i kasber utan, ni roan i bakean ne ni vuan i mas. Ohoi ni sasaai rar lai tevat r’liik ai i. De faa kot ain n’ron navsumen re. In’ron haukai vuan i ma n’ot renan Lefmanut n’tub-dok na wa’id. Hira n’war na i fi n’yar n’ron waid. Renan n’tahang na n’denar yanan n’ron dedan defruan waid, renan n’lur ran fo yanan ni suk-suk i jad. Dedan n’utang kot i renan n’fea ai i ni hanga kbo na na ni vuan. Nuhu n’fitik mar fabriang ma na fdod dunyai kanimun. Doot laai n’su n’fakbohan bum. Ai mas i na mut ne ai hanga naa kot i renan liman ran i n’il fo sad-sad kot ain.

Sarit la bo, ai mas i leran n’vosak naa Tarnat. Baran – ran hir fit i ra fyait n,tal Tnebar Evav r’ba tabwaruk nuhu lilian. Leran hir ru jad sultan naa Tarnat enhov Tidor. Famehe haran ler i sad – sad, ain n’tal – tal ai mas hanga i, hob r’kulik naa Tnebar Evav. ****

Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia

POHON EMAS DI TANIMBAR KEI

Tanimbar Kei adalah sebuah pulau kecil yang terletak di ujung selatan pulau Kei Kecil. Sebagian penduduknya memeluk agama kristen, sebagian memeluk agama Islam dan sebagian lagi masih memegang teguh kepercayaan para leluhurnya. Budaya Kei masih dipertahankan dengan baik sekali.

Dalam tradisi lisan yang hidup di masyarakat Tanimbar Kei, dahulu kala di pulau itu pernah turun dari langit sebuah tempat tidur berisi delapan saudara yang terdiri dari tujuh anak laki – laki dan seorang anak perempuan serta sebatang pohon emas.

Pohon emas itu berbatang lela, berdaun pakaian dan berbuah emas. Penduduk kampung sangat gembira menyaksikan pohon itu. Pada suatu malam seorang anak kecil menangis tak henti – hentinya. Anak kecil itu ingin mendapatkan buah pohon itu. Ia tidak dapat dibujuk untuk berhenti menangis. Ibunya yang bernama Lefmanut panik dan bingung. Karena tidak tahan lagi melihat anaknya menangis terus – menerus, menjelang malam ia pun mematahkan ranting dan memetik pohon emas itu. Tiba – tiba halilintar sambar – menyambar dan guntur pun menggelegar. Hujan lebat turun ke bumi . Seketika itu juga pohon emas menghilang. Ranting yang berada didalam tangan sang ibu serta merta berubah menjadi sebuah sad-sad kecil. Konon, pohon emas itu kemudian muncul di Ternate. Tujuh anak laki – laki bersaudara itu kemudian meninggalkan Tanimbar Kei. Mereka menyebar di beberapa tempat. Kemudian dua orang diantara mereka menjadi sultan di Ternate dan Tidore. Sampai saat ini sad – sad yang berasal dari ranting pohon emas itu masih disimpan di Tanimbar Kei. ****

Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

WNA Thailand Ikut Coblos Pilpres dan Pileg 2019 di Malra, Warga Lapor Bawaslu

Tual, News – Walaupun pelaksanaan Pilpres dan Pileg 17 April  2019 telah berlalu, namun dikabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku masih menyisahkan berbagai kecurangan dan  tindak pidana pemilu yang belum diselesaikan Bawaslu RI. Hal ini terbukti dengan adanya laporan warga masyarakat yang ditujuhkan kepada Bawaslu RI, tertanggal  11 Mei 2019 lalu.

Adam Mebut Warbal, warga Ohoira, Kecamatan Kei Kecil Barat dalam laporan tertulis yang dilayangkan ke Bawaslu mengungkapkan kalau pelaksanaan pemilu 17 April 2019 di Ohoi Ohoidertutu, Kecamatan Kei Kecil Barat diwarnai berbagai kecurangan dan tindak pidana pemilu, terbukti salah satu warga negara asing ( WNA ) Thailand ikut serta melakukan pencoblosan di TPS 04 Ohoidertutu, dengan nomor DPT 196 berinsial WAK. “ Atas temuan kejadian khusus tersebut, saya melaporkan persoalan ini kepada panitia pengawas pemilu ( Panwascam ) Kei Kecil Barat tanggal 26 April 2019 sesuai nomor pengaduan atau laporan pelanggaran pemilu 2019 nomor : 01/Panwalu.KKB/IV/2019 “ ungkap Warbal.

Adam Mebut Warbal Mengaku, WNA Thailand tersebut adalah nelayan asing perikanan yang tinggal di Ohoidertutu sudah mencapai 10 tahun dan luput dari pengawasan pihak Imigrasi Tual. “ warga asing ini sudah kawin dengan penduduk setempat dan tidak memiliki dokumen kependudukan yang jelas, namun anehnya Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Maluku Tenggara menerbitkan Kartu Keluarga ( KK ) WNA Thailand tersebut dengan nama warga Negara Indonesia, atas nama WAK, alamat Ohoidertutu, dengan nomor Kartu Keluarga 8102142009160011 “ Sesalnya.

Dikatakan, saat rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara tingkat Kecamatan Kei Kecil Barat, tanggal 28 April 2019, saksi parpol mempersoalkan temuan kejadian khusus tersebut, kemudian secara mengejutkan Panwascam Kei Kecil Barat menindaklanjuti laporan warga masyarakat melalui rekomendasi penerimaan laporan nomor : 01/Panwalu.KKB/IV/2019, jumat 26 April 2019, jam 10.00 Wit di ibu kota Kecamatan KKB di Ohoira.

“ Dalam uraian singkat kejadian, Panwascam KKB mengakui WNA Thailand tersebut terlibat langsung dalam menggunakan hak pada Pilpres dan Pileg 2019, karena namanya ada dalam Daftar pemilih tetap (DPT) dengan nomor DPT 196, tidak memiliki KTP dan menggunakan hak dengan melakukan pencoblosan di TPS 004 Ohoidertutu “ terang Warbal dalam laporanya itu.

Selain itu kata Warbal, Panwascam dalam rekomendasinya kepada Bawaslu Kabupaten Maluku Tenggara,  mempertanyakan kinerja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Maluku Tenggara yang menerbitkan Nomor Induk Kependudukan  (NIK) bagi WNA tersebut padahal telah terbukti memalsukan tempat lahir. “ WNA tersebut tidak memiliki bukti kependudukan baik paspor, dan atau putusan Pengadilan yang menyatakan saudara WAN telah pindah dari negara asalnya menjadi warga negara Indonesia “ tegas Panwascam dalam rekomendasinya yang juga diterima Tual News.Com

Atas temuan kejadian khusus ini, kata Warbal Panwascam Kei Kecil Barat merekomendasikan pemungutan suara ulang ( PSU ), namun karena sudah melewati batas waktu maka hal ini diteruskan ke Bawaslu Kabupaten Maluku Tenggara.  

“ Rapat Pleno Rekapitulasi perhitungan suara tingkat PPK Kecamatan Kei Kecil Barat berjalan molor karena semua saksi parpol berkeberatan atas temuan kejadian khusus tersebut, namun atas keterangan Ketua KPU Kabupaten Maluku Tenggara, via Telpon Seluler kepada PPK Kei Kecil Barat yang direkam lalu diputar kembali oleh PPK untuk didengar keterangan oleh saksi Parpol.  Ketua KPU Malra dalam keteranganya  meminta maaf kepada semua saksi Parpol atas ketidakhadiranya untuk menjelaskan persoalan dimaksud dan meminta saksi parpol agar rapat pleno rekapitulasi dilanjutkan. Selain itu Ketua KPU Malra, minta agar temuan kejadian khusus itu dituangkan saksi parpol dalam form keberatan saksi DA2- KPU, karena nanti dalam pelaksanaan rapat Pleno rekapitulasi  tingkat KPU Kabupaten Malra  akan diselesaikan. “ Katanya.

Namun Adam Mebut Warbal sangat menyesalkan pernyataan Ketua KPU Malra yang hanya slogan dan manis dibibir, terbukti disaat rapat pleno rekapitulasi tingkat KPU Kabupaten Maluku Tenggara untuk Kecamatan Kei Kecil Barat, permasalahan ini tidak diangkat dan diselesaikan dalam rapat pleno.

 “ Atas dasar berbagai persoalan dugaan kecurangan pemilu dan pelanggaran administrasi pemilu yang dilakukan para penyelenggara pemilu ditingkat bawah secara terstruktur, sistematis dan massif ( TSM ), maka kami minta kepada KPU dan Bawaslu RI, melalui KPU dan Bawaslu Kabupaten Maluku Tenggara,  agar hasil rekapitulasi perhitungan suara di TPS 04 dan TPS 02 Ohoidertutu, Kecamatan Kei Kecil Barat ditinjau kembali, karena tidak sesuai ketentuan Perundang – Undangan yang berlaku “ Tegasnya.

Apabilah hal ini tidak dilakukan dan tidak diindahkan, Warbal mengancam akan melaporkan para penyelenggara pemilu baik KPPS, PTPS, PPK dan Panwascam, termasuk KPU dan Bawaslu Kabupaten Maluku Tenggara  ke pihak Kepolisian setempat, atas perbuatan tindak pidana pemilu dan pelanggaran administrasi yang dilakukan, sehingga merugikan parpol dan calon lain, berdasarkan amanat UU Nomor 7 Tahun 2017, pasal 532,  PKPU Nomor  3 dan 4. ( team tualnews )

Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

SEJARAH OHOI DAN WOMA OHOI MARFUN, KEI KECIL TIMUR

Oleh : Nery Rahabav

Tua Adat Ohoi Marfun Mengangkat siri pinang pada acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Baru St. Isidorus Marfun

Asal usul sebutan nama Ohoi Marfun.

Ohoi Marfun berasal dari kata “Mar” dan “Fun”. Kata “Mar” berarti Terang (Nyala/Cahaya Gemilang) dan kata “Fun” berarti Kemenangan. Jadi Marfun berarti (Terang Kemenangan yang Gemilang). Ohoi Marfun memiliki beberapa keunikan baik dari sisi Sejarah maupun Adat misalnya Hukum Adat Larvul Ngabal yang merupakan tonggak sejarah yang menjadi ciri khas masyarakat Kei secara turun – temurun. Fungsi dan peranan Ohoi Marfun sebagai salah satu pencetus Hukum Adat Larvul Ngabal lewat pembagian “Kerbau Siw”.

Secara administratif Pemerintahan, Ohoi Marfun berdiri pada tanggal 1 Januari 1969. Setelah zaman penjajahan Belanda dan Jepang, dimana penduduk atau masyarakat yang saat itu menetap di Ohoi – Ohoi lain seperti Ohoi Wain Ohoitom, Semawi, Raat dan Ohoi – Ohoi lain kembali ketempat asal sekarang ini. Pada saat itu masyarakat masih hidup dalam kelompok – kelompok kecil.

Setelah rekomendasi dari Pemerintah pendudukan Jepang yang mengharuskan agar penduduk Ohoi Marfun yang mayoritasnya 10 kepala keluarga yang pada waktu itu bermukim di Ohoi Semawi dan Ohoi Hoar Un (Raat) harus kembali ke Marfun. Sebagai saudara maka mereka berkumpul kembali dan membentuk sebuah kampung yang namanya “Marfun” sesuai dengan nama yang diberikan oleh 7 (tujuh) orang Leluhur pendiri kampung Marfun yang disebutkan dalam bahasa Kei sebagai (Teten Baranfit).

Dari sisi adat, Ohoi Marfun bergabung dalam kelompok UR SIW (Pata Siwa) wilayah Ratshap Dit Sakmas Wain, begitu juga dari sisi pemerintahan maka Ohoi Wain sebagai Ohoi Induk dan Marfun sebagai salah satu Dusunnya. Kepemimpinan dari kedua Ohoi ini berbeda – beda sesuai dengan tugas dan perannya masing – masing. Ohoi Wain dikepalai oleh seorang Kepala Ohoi (Kepala Desa), sedangkan Ohoi Marfun yang statusnya Ohoi Soa (Dusun) dik epalai oleh seorang Kepala Ohoi Soa (Kepala Dusun) yang mana Kepala Ohoi Soa ditunjuk oleh Kepala Ohoi berdasarkan usulan dan persetujuan masyarakat tanpa mempertimbangkan umur dan garis keturunan.

Fakta sejarah menyatakan bahwa Ohoi Marfun saat ini dalam pengangkatan Pemimpin atau Kepala Ohoi tidak lagi berdasarkan pola lama yakni atas persetujuan warga semata (bukan hanya berdasarkan usulan dan persetujuan masyarakat tanpa mempertimbangkan umur, garis keturunan atau marga tertentu) namun sebaliknya pengangkatan Kepala Ohoi saat ini harus berdasarkan syarat paling utama yakni status usia (warga yang umurnya lebih tua dan dianggap mampu memimpin Ohoi) maka orang itulah disepakati bersama untuk diangkat menjadi Kepala Ohoi.

Menurut masyarakat Ohoi Marfun, cara ini sangat baik dan cukup efektif karena memberikan kesempatan dan peluang yang sama kepada semua masyarakat yang ada untuk dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinannya lewat berbagai organisasi yang ada agar kelak usianya lanjut bisa dapat dipertimbangkan untuk diangkat menjadi Kepala Ohoi, cukup efektif karena (tidak membeda – bedakan golongan Mel, Ren, I’ri).

Pola pengangkatan seperti ini hanya dijumpai di Ohoi Marfun dan dapat dikatakan bahwa pola seperti ini tidak dapat dijumpai di Ohoi – Ohoi lain di Kepulauan Kei karena sebagian besar Ohoi di Kepulauan Kei masih menggunakan pola Pengangkatan Kepala Ohoi berdasarkan keturunan (Garis Lurus).

Dengan tidak bermaksud mengabaikan realita sejarah bahwa di Kepulauan Kei terdapat golongan Mel, Ren, I’ri dengan fungsi dan peran masing – masing di Ohoi yang pada mulanya oleh leluhur sudah ditentukan misalkan; Pemimpin di Ohoi diangkat berdasarkan garis keturunan, golongan atau marga tertentu yang memiliki hak untuk menjadi pemimpin.

Namun menurut masyarakat Ohoi Marfun bahwa pola pengangkatan Kepala Ohoi yang berdasarkan keturunan (garis lurus), golongan atau marga tertentu faktanya saat ini hanya akan menimbulkan konflik internal dimasyarakat karena sudah dipengaruhi berbagai faktor, sehingga cara seperti itu dipandang tidak lagi efektif diterapkan saat ini.

Nama Woma, Nama Pintu, Lutur, Laut, Hutan dll.

Ohoi – ohoi pecahan dari Ohoi Wain Ohoitom misalnya Ohoi Wain Baru walaupun sudah berdiri sendiri namun masih menggunakan nama Woma, Pintu, Lutur, Laut, Hutan dan lain – lain adalah sama dengan yang ada di Ohoi Wain Ohoitom. Berbeda halnya dengan Ohoi Marfun yang mana walaupun juga merupakan pecahan dari Ohoi Wain Ohoitom namun memiliki nama Woma, Lutur, Pintu, Hutan, laki – laki dan perempuan berbeda dengan sebutan yang sama digunakan di Ohoi induk Wain Ohoitom misalnya “Woma”.

Berawal dari perjalanan sejarah terbentuknya Ohoi Marfun yang mana mengalami tiga kali perpindahan tempat tinggal (masyarakat pada saat itu masih hidup secara  “NOMADEN” atau hidup berpindah – pindah dari suatu tempat ketempat lainnya). Walaupun demikian belum ada sumber yang menjelaskan alasan perpindahan ini dan nama tempat Ohoi pertama dan kedua, hanya sebutan nama tempat ketiga yakni yang sekarang ini dihuni yaitu Ohoi Marfun. Dengan tiga kali perpindahan penduduk itulah maka Pusat Kampung atau (Woma) juga mengalami tiga kali perpindahan disertai penamaan yang berbeda – beda yakni yang pertama namanya “Rivun Sdov”, yang kedua namanya “Nang Ni Ohoi” dan yang ketiga atau yang terakhir digunakan hingga sekarang namanya adalah “Wellob Lesat”. Turunan Woma Wellob Lesat terbagi atas beberapa pecahan Woma, salah satunya Woma Wellob Lesat di Ohoijang. Sebutan lain dapat diurutkan sebagai berikut:

– Nama Woma (Pusat Kampung): Wellob Lesat.

– Nama Pintu masuk Kampung :     Fid Nang Armau.

– Lutur Tembok/Pagar               :     Vat Ngod.

– Hutan                                        :     Davin Ifit.

– Rahan/Rumah                          :     Vovot Ifit.

– Nama Perempuan                     :     Dit El Ngemas.

– Nama Laki-Laki                        :     Mebut Korheng.

Atas usaha dan perjuangan yang cukup panjang tentu membutuhkan waktu dan menguras tenaga dan biaya yang jumlahnya tidak sedikit serta pengorbanan yang cukup pula, yang pastinya melibatkan semua lapisan masyarakat Ohoi serta semua unsur yang ada, maka atas kemurahan dan restu dari Tuhan dan Leluhur; pada Tahun 2014 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten. Maluku Tenggara menetapkan Ohoi Marfun berubah status dari Ohoi Soa (Dusun) menjadi Ohoi (Desa) Definitif. Demikian Sejarah Ohoi dan Woma Ohoi Marfun, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kabupaten Maluku Tenggara.

Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

Korupsi Antara Racun Kuasa, Latar Belakang dan Sebab Akibat

OLEH : A.S.MARs

“Power Poison” (racun kuasa) merupakan zig-zag kuasa dalam dunia dewasa ini. Kuasa dimanfaatkan sekian demi meraih interese pribadi. Kongkalikong dan iming-iming diterapkan secara apik untuk mencapai reputasi dan special purpose (tujuan khusus). Salah satu teknik meracuni kuasa adala korupsi. Power tends to corrupt, seru Lord Acton. Uang pelancar, uang pelicin, suap, sogok, uang semir dan uang rokok dipakai guna membungkam atau memuluskan. Money politic dan status quo menjadi teman karib, erat terkait dan saling bergandeng tangan.

Tindakan tak memisahkan milik masyarakat dan milik pribadi, sesungguhnya sudah di mulai sejak zaman dulu. Pelaku tindakan ini adalah seorang raja dengan wewenang mutlak, tak tergoncangkan. Dengan kuasa itu,banyak aturan bisa diterapkan, malah hingga memungut hasil dari masyarakat atau rakyat jelata. Rakyat dibungkam, hanya “bilnd obedience” (ketaatan buta) jalan terbaik, walau itu sebagai “stepping stone” (batu loncatan) untuk meraih kekayaan pribadi.

Pada masa feodal ada tanah milik raja, praktek memungut pajak, sewa membayar  upeti dari rakyat. Bukan hanya itu, jabatan raja pun menjadi turun-temurun (birokrasi patrimonial). Dengan ini, penumpukan kekayaan pada sebuah dinasti makin diperjelas. Sikap ini diwariskan kepada anak cucunya. Kini sistem feodal tidak ada secara terang namun posisi raja diganti oleh penguasa dengan potensi itu. Dan sesungguhnya praktek korupsi dilatarbelakangi oleh sistem feodal pada zaman kerajaan itu. Selain itu, ada beberapa sebab korupsi.

Pertama, pemimpin dalam posisi kunci tak mampu memberikan ilham yang berpengaruh terhadap tingkah laku korupsi. Kelemahan pemimpin dalam menjinakkan korupsi bisa disebabkan oleh keterlibatan pemimpin dalam praktek ini. Akibatnya, tutur kata dan tindakan menjadi rancu. “Knowing how to do something and doing it is two  different things” (Tahu bagaimana melakukan sesuatu dan melaksanakannya adalah dua hal yang berbeda). Dengan kata lain, “Do like I say, don’t like do” (Lakukan seperti yang saya katakan, jangan lakukan seperti yang saya lakukan). Kedua, kelemahan pengajaran etika dan moral. Kriteria hidup baik dan pantas belum diketahui; norma-norma dan aturan moral tak diberikan secara tuntas. Karena itu, bahan pertimbangan menjadi minim. Ketiga, lilitan kemiskinan mendorong orang memanfaatkan kesempatan dan menghalalkan berbagai cara agar keluar dari cengkaraman itu. Keempat, lemahnya sistem kontrol, manajemen yang kurang baik membawa peluang korupsi. Juga lemahnya kontrol sosial termasuk lingkungan dan keadaan masyarakat memacu para pelaku korupsi tetap bertengger atau memotivir koruptor baru untuk mulai terlibat. Kelima, ketidakpastian hukum, lunaknya tindakan hukum memberi peluang terciptanya korupsi. Keenam, struktur pemerintahan yang sentralistik, bertumpu pada pusat, bergantung sepenuhnya tanpa boleh mengambil keputusan sendiri, sangat rentan bagi munculnya korupsi. Bawahan mudah dipercundangi. Ketujuh, providing for old age is one of life’s elementary precautions (menyiapkan hari tua adalah tindakan pencegahan dasar terhadap hidup). Setiap individu berupaya menabung sepanjang hidup dan hidup dari bunga pengumpulan pensiunan. Tingkat pensiunan pribadi bergantung pada pendapatan, kemauan untuk menabung dan bunga rata-rata pada tabungan. Hal ini mendorong terjadinya korupsi. Kedelapan, sebab psikologis, yakni semboyan “seandainya”. Stephen Leacock menulis: Urut-urutan hidup kita sungguh aneh! Anak kecil berkata bahwa, “Bila sudah besar”. Tapi apa artinya ini? Anak yang sudah besar berkata, “Bila saya sudah dewasa”. Kemudian jika ia sudah dewasa. Ia akan berkata, “Bila saya sudah kawin”. Selanjutnya, pikirannya berubah dan berkata. “Bila saya sudah pensiun”. Akhirnya, jika masa pensiun tiba ia melihat kembali pemandangan luas yang telah dilewatinya. Rupanya angin sepoi-sepoi basah berhembus di lapangan luas tetapi semuanya telah menjadi lampau dan hilang. Kita terlambat mengetahui bahwa hidup ini ada pada diri kita, ada pada setiap saat, setiap hari dan setiap jam. Selalu tak puas apa adanya, kini dan di sini adalah tipe manusia yang sulit berbahagia.

Menurut Thomas Aquinas, alam memang merupakan sumber kehidupan dan kehidupan itu sendiri, akan tetapi ia perlu dijaga sebagaimana kehidupan manusia itu sendiri. Hal ini hanya mungkin bila manusia dibiarkan memiliki secara pribadi bagian tertentu dari alam ini. Hanya dengan ini manusia bersedia bertanggung jawab merawat, untuk peduli pada hidup itu, sehingga hak milik pribadi memungkinkan manusia menjaga dan melestarikan hidup.

Thomas Hobbes mengatakan: kalau setiap orang menuntut haknya, dengan sendirinya setiap orang harus juga menghargai hak orang lain. Jika tidak maka terjadilah “manusia menjadi serigala bagi sesamanya”. Karena kecenderungan mepertahankan hidup pribadi setiap orang lain akan dengan sendirinya menghargai hidup dan hak orang lain  di bawah bimbingan akal budi atau perasaan moral universal. Manusia tak hanya mempertahankan hidup “Aku” partikular melainkan juga “Aku” universal. Manusia bertindak secara harmonis demi keselarasan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, demi menghargai dan melestarikan hidup aku universal tadi. Untuk menjaga kelestarian kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, hukuman menjadi faktor penentu, karena Hukum bagian integral dari hidup.

Cita-cita mencapai harmoni dituangkan dalam hukum positif, penjamin hak setiap orang dengan tujuan akhir  menegakkan ketertiban dan disiplin dalam masyarakat. Masyarakat lalu tertib bukan karena diutamakannya hak bersama melainkan karena hak setiap individu dijamin. Dengan ini setiap orang merasa ada kepastian terhadap haknya. Ia yakin hukum membelanya kalau ia benar dan akan menghukumnya kalau ia salah. Maka setiap orang akan mendisiplinkan dirinya demi haknya.

Hukum harus menjadi bagian hidup kita. Kita harus merasa yakin akan kepastian keberlakuan hukum, ini dimaknai dalam kehidupan sehari-hari, baik di jalanan maupun dalam menghargai aturan lalu lintas, bahkan dalam menunggu giliran di berbagai tempat umum. Orang merasa pasti akan gilirannya karena ada aturan main (Hukum tertulis dan kebiasaan tak tertulis) menjamin hak dan gilirannya. Keadilan menjadi tempat sakral. Marcus Tulius, mengatakan keadilan berfungsi menjaga agar orang tidak saling merugikan. Kedailan mengarahkan manusia untuk menggunakan hak milik bersama demi kepentingan bersama dan hak milik pribadi demi kepentingan masing-masing. Dan jelas keadilan hanya ditegakan melalui hukum. Orientasi hukum menjadi sangat kuat karena dengan hukum haka setiap orang ditegakan yaitu dengan menggunakan hukum Kodrat dan hukum Positif. Hukum Kodrat merupakan serangkaian norma, abstrak, tak tertulis yenga mengatur keharmonisan alam. Hukum ini di tuntun oleh akal budi dan bisikan hati nurani. Bahaya hukum ini adalah bisa di gunakan pertimbangan manusiawi dan pendekatan kekeluargaan, sedangkan hukum positif adalah hukum tertulis dengan aturan praktisnya dalam menilai perilaku manusia maupun dalam menjatuhkan sanksi. Untuk menyelesaikan persoalan korupsi, hukum postif ditawarkan sebagai patokan. selain penegakan hukum dalam mengatasi korupsi, integritas pemimpin juga menjadi faktor penting. 

Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

KEPEMIMPINAN ORANG KEI

Penulis : Nery Rahabav

Kepemimpinan orang Kei menurut,  Cos Labetubun (alm) mantan Kepala Desa Elaar dalam makalahnya dengan judul Lahirnya Hukum Laarvul Ngabal menguraikan tentang tiga ciri  kepemimpinan orang Kei.

Teori kepemimpinan ala orang kei dikenal dengan ungkapan “TI M’DIR U M’VAR HORAN, MA UM DOK MUR MAM BAING LAN, O NA’A FARUAN UMVEL SIL”. Konsep kepemimpinan Kei ini nyaris sama dengan ungkapan Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, “ Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing Madya Mangunkarso, Tutwuri Handayani”.  Seorang pemimpin tampil di depan sebagi pejuang untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemaslahatan yang dipimpinnya.  Sil adalah alat pesembahan yang dihiasi dan dipangku oleh pemimpin, artinya seorang pemimpin sebagai pengayom,   panutan bagi umatnya sekaligus sebagai perantara dengan “DUANG LOR MAHILING”(Allah Yang Maha Rahim).

Pemimpinlah yang mempersembahkan persembahan umatnya. MAM BAING LAN adalah ungkapan lain dari “VAVU YAB-YAB, MAD WALEU”.  Dibelakang seorang pemimpin sebagai pelindung sekaligus penengah “VIS BAD”, juga sebagai motivator dan inspirator demi perbaikan hidup dan kehidupan rakyat banyak yang dipimpinya. 

Dalam menyelesaikan masalah, pemimpin harus menempatkan diri sebagai hakim yang adil dan netral, menghindari sikap  main hakim sendiri. Maka seorang  pemimpin  diharapkan  lebih menghayati diktum teteen Evav tempo doeloe yakni “TI M’DIR U M’VAR HORAN, O NA’A FARUAN UMVEL SIL”. Seorang pemimpin adalah guru, pejuang sekaligus pendoa. Menjadi ayah bagi anak-anak, berjuang demi kesejahteraan dan kemakmuran  rakyatnya (bawahannya) dan berdoa demi keselamatan umatnya.

Hari ini tepatnya tanggal 03 November 2018 secara resmi tampuk pemerintahan Kabupaten Maluku Tenggara diserahterima dari Ir. Anderias Rentanubun kepada pemimpin Malra baru, Drs. Hi. M. Thaher Hanubun – Ir. Petrus Beruatwarin, M.Si sebagai Bupati Malra dan Wakil Bupati Malra periode 2018 – 2023.

Sosok kepemimpinan Thaher – Etus dengan akronim MTH – PB diharapkan menjadi panutan dan teladan dalam menerapkan teori kepemimpinan orang Kei yang dikenal dengan “ VIS BAD “. Visi Missi Sinergi membangun Maluku Tenggara harus diaktualisasikan dalam jiwa dan semangat sebagai seorang pemimpin Kei  sejati.

Sinergitas berasal dari kata Sinergi ( synergy ) yang artinya kegiatan, hubungan, kerjasama atau operasi gabungan. Selain itu makna sinergitas juga memiliki arti kerjasama unsur atau bagian atau fungsi atau instansi atau lembaga yang menghasilkan suatu tujuan lebih baik dan lebih besar daripada dikerjakan sendiri.

Banyak yang dihasilkan dari bersinergi diantaranya tercipta saling menghargai dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban agar menjadi lebih maksimal dan efisien. Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyebutkan kalau bersinergi  ada syaratnya seperti dikutip dari detiknews yakni komitmen-saling percaya- interaksi – hilangkan factor penghambat.

Pidato perdana Bupati Malra, Drs Mohamad Thaher Hanubun pada sidang paripurna istimewa DPRD Malra yang menegaskan kalau momentum serahterima jabatan Bupati Malra sebagai tonggak sejarah baruh meninggalkan perbedaan, membangun Nuhu Evav dengan damai merupakan satu komitmen yang tulus dari sosok pemimpin Kei massa depan.  

Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

Soal Kekosongan Raja Wain

Biarkan Rakyat Yang Menilai

BIARKAN RAKYAT YANG MENILAI

Umumnya kita orang Kei mengenal keluarga dalam arti sempit dan dalam arti luas. Keluarga dalam arti sempit adalah “keluarga batih” terdiri dari suami, istri dan anak. Sedangkan keluarga dalam arti luas mencakup keluarga dari ibu maupun ayah. Unsur utama yang mencolok sebagai identitas dalam sistem kekerabatan keluarga Kei bercorak hirarkis. Sistem kekerabatan keluarga dimaksud dalam budaya orang Kei adalah setiap orang akan masuk dalam struktur jaringan keluarga/hirarki keluarga. Sistem kekerabatan keluarga ala Kei ini dapat dilihat secara jelas pada dua hal yaitu yan’ur dan mangohoi. Yan’ur berarti pihak yang “menerima” mempelai wanita dalam suatu perkawinan, sedangkan mangohoi adalah pihak yang “memberi” mempelai wanita. Dalam perkawinan adat kedua pihak yan’ur mangohoi diikat oleh harta kawin. Harta kawin dalam adat Kei memiliki makna ganda secara simbolik. Artinya  harta kawin mengungkapkan harkat dan martabat seorang perempuan, dilain pihak harta kawin sebagai perekat antara yan’ur  dan  mangohoi. Dari makna simbolik inilah maka muncullah ungkapan leluhur “uviat na var vat na’a tahit samsiu ni yan’ur navar vat vilin na’a nangan,  mo vat vilin een te hob-hob te i mo hob bo hob-hob rok i” (uviat=sejenis siput di dasar laut dalam) artinya siput uviat membawa batunya dilaut dalam dan yan’ur membawa harta kawin di darat, maka harta kawin sudah dibayar lunas tetap dianggap belum lunas dan belum lunas tetap belum lunas. Maksudnya harta kawin yang dibayar dianggap gubal (bulir) sedangkan intinya (minan) adalah manusianya. Substansi  dari ungkapan diatas adalah kekerabatan yan’ur mangohoi harus dijaga dan dipelihara dalam segala aspek dan saling menghargai dan menghormati hak masing-masing. Karena relasi yan’ur mangohoi ini bercorak hirarkis, sehingga pihak mangohoi sebagai pemberi mempelai wanita selalu diberi kedudukan terhormat dan harus didengar oleh pihak yan’ur. *********

Guna membantu semua pihak untuk meneliti dan mempelajari silsilah calon Rat Sakmas Wain secara tepat, benar,  jujur dan terbuka, saya berusaha menggabungkan silsilah Vanlentinus Esomar “beran yanan” dan silsilah Saleh Leisubun yang mengklaim dirinya sebagai “vat yanan”. Data yang saya gunakan berasal dari tulisan saya yang dimuat di koran Vox Populi edisi Kamis 12 Mei 2011 dan edisi Senin 18 Juli 2011. Masing-masing tulisan dengan judul “Silsilah Rat Nen Dit Sakmas Wain Belum Punah” dan “Silsilah Rat Sakmas Wain Bukan Raja Radmas Wain”. Skema/bagan  silsilah dari calon Rat Sakmas Wain baik versi VALENTINUS ESOMAR maupun versi SALEH LEISUBUN dibuat untuk memudahkan anda membaca silsilah kedua  calon tersebut. Dengan membaca skema/bagan silsilah ini mudah-mudahan anda dapat mengetahui dengan pasti mana calon yang asli dan mana calon tempelan. Dilain pihak pembuatan skema/bagan SILSILAH RAT SAKMAS WAIN untuk memudahkan kita mempelajari silsilah kandidat calon RAJA WAIN VII. Membacanya pun tidak  sekedar mengerti  bahwa si A memperanakan si B, si B memperanakan si C  dan seterusnya, tapi membaca dalam kaca mata adat yaitu “laar in baba ni wiir in soso” (berdasarkan pancaran/aliran darah). Dalam konteks inilah kiranya semua pihak mengerti, memahani dan mengakui diktum teteen tempo dulu yakni “hira ni natub fo ini, it did natub fo it did”. Dengan mengakui hak milik seseorang yang sah secara turu-temurun maka percayalah bahwa “duang loor mahiling nahoov i”. Dilain pihak biarkanlah agar masyarakat luas dapat membaca dan menilai sendiri bahwa siapa yang paling layak untuk duduk di singgasana kursi RAT SAKMAS WAIN.  Selain itu skema/bagan ini dapat memberi gambaran detil kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan agar tidak gegabah dalam membuat kebijakan.  Memberi peluang bagi seorang bukan vat yanan asli untuk menjadi calon Raja itu suatu kesalahan vatal, apalagi sampai menjadi pesaing bagi beran yanan itu suatu bencana. Tolong diingat, kesaksian suatu silsilah boleh dimanipulasi tapi aliran darah di dalam tubuh tidak dapat dibohongi.  Berikut ini skema/bagan SILSILAH RAT SAKMAS WAIN.

Dari skema diatas maka membacanya demikian ; 1) JANIBA RENUVAT adalah vat yanan marga ESOMAR.  2) SOLEHA vat yanan marga RENUVAT, karena ibunya JANIBA RENUVAT. 3) SAHABUDIN vat yanan marga ibunya SOLEHA. 4) SALEH LEISUBUN vat yanan dari marga istri bapanya SAHABUDIN. Sebaliknya dalam konteks yan’ur mangohoi maka kita membacanya sebagai berikut :  1) ARMAU RENUVAT adalah vat yan’ur dari marga ESOMAR atau sebaliknya marga ESOMAR adalah mangohoi utin dari ARMAU RENUVAT. Lalu bagaimana dengan SALEH LEISUBUN? Sebut dulu nama fam ibunya secara benar, jujur dan terus terang, kalau tidak ya….. tutup buku saja! Tapi bila SAHABUDIN punya istri marga ESOMAR maka SAHABUDIN punya mangohoi utin marga ESOMAR atau sebaliknya marga ESOMAR punya vat yan’ur adalah SAHABUDIN. Dengan demikian SALEH LEISUBUN boleh menyebut dirinya vat yanan marga ESOMAR, bila ibu kandungmu bukan dari marga ESOMAR maka saudara cukup bangga leluhurmu “NISUM TIKAL” berasal dari marga ESOMAR. Kesimpulannya bila instansi teknis terkait memberi peluang SALEH LEISUBUN maju sebagai calon RAT SAKMAS WAIN untuk berkompetisi melawan VALENTINUS ESOMAR itu sama halnya dengan memberi restu untuk suatu KEJAHATAN ADAT dan manupulasi SILSILAH RAT SAKMAS WAIN. siapa berani???

Penulis

Pemerhati adat dan Budaya Kei

Gerson Rahanubun.