Kategori
Artikel Anda Artikel Anda

Soal Kekosongan Raja Wain

Biarkan Rakyat Yang Menilai

BIARKAN RAKYAT YANG MENILAI

Umumnya kita orang Kei mengenal keluarga dalam arti sempit dan dalam arti luas. Keluarga dalam arti sempit adalah “keluarga batih” terdiri dari suami, istri dan anak. Sedangkan keluarga dalam arti luas mencakup keluarga dari ibu maupun ayah. Unsur utama yang mencolok sebagai identitas dalam sistem kekerabatan keluarga Kei bercorak hirarkis. Sistem kekerabatan keluarga dimaksud dalam budaya orang Kei adalah setiap orang akan masuk dalam struktur jaringan keluarga/hirarki keluarga. Sistem kekerabatan keluarga ala Kei ini dapat dilihat secara jelas pada dua hal yaitu yan’ur dan mangohoi. Yan’ur berarti pihak yang “menerima” mempelai wanita dalam suatu perkawinan, sedangkan mangohoi adalah pihak yang “memberi” mempelai wanita. Dalam perkawinan adat kedua pihak yan’ur mangohoi diikat oleh harta kawin. Harta kawin dalam adat Kei memiliki makna ganda secara simbolik. Artinya  harta kawin mengungkapkan harkat dan martabat seorang perempuan, dilain pihak harta kawin sebagai perekat antara yan’ur  dan  mangohoi. Dari makna simbolik inilah maka muncullah ungkapan leluhur “uviat na var vat na’a tahit samsiu ni yan’ur navar vat vilin na’a nangan,  mo vat vilin een te hob-hob te i mo hob bo hob-hob rok i” (uviat=sejenis siput di dasar laut dalam) artinya siput uviat membawa batunya dilaut dalam dan yan’ur membawa harta kawin di darat, maka harta kawin sudah dibayar lunas tetap dianggap belum lunas dan belum lunas tetap belum lunas. Maksudnya harta kawin yang dibayar dianggap gubal (bulir) sedangkan intinya (minan) adalah manusianya. Substansi  dari ungkapan diatas adalah kekerabatan yan’ur mangohoi harus dijaga dan dipelihara dalam segala aspek dan saling menghargai dan menghormati hak masing-masing. Karena relasi yan’ur mangohoi ini bercorak hirarkis, sehingga pihak mangohoi sebagai pemberi mempelai wanita selalu diberi kedudukan terhormat dan harus didengar oleh pihak yan’ur. *********

Guna membantu semua pihak untuk meneliti dan mempelajari silsilah calon Rat Sakmas Wain secara tepat, benar,  jujur dan terbuka, saya berusaha menggabungkan silsilah Vanlentinus Esomar “beran yanan” dan silsilah Saleh Leisubun yang mengklaim dirinya sebagai “vat yanan”. Data yang saya gunakan berasal dari tulisan saya yang dimuat di koran Vox Populi edisi Kamis 12 Mei 2011 dan edisi Senin 18 Juli 2011. Masing-masing tulisan dengan judul “Silsilah Rat Nen Dit Sakmas Wain Belum Punah” dan “Silsilah Rat Sakmas Wain Bukan Raja Radmas Wain”. Skema/bagan  silsilah dari calon Rat Sakmas Wain baik versi VALENTINUS ESOMAR maupun versi SALEH LEISUBUN dibuat untuk memudahkan anda membaca silsilah kedua  calon tersebut. Dengan membaca skema/bagan silsilah ini mudah-mudahan anda dapat mengetahui dengan pasti mana calon yang asli dan mana calon tempelan. Dilain pihak pembuatan skema/bagan SILSILAH RAT SAKMAS WAIN untuk memudahkan kita mempelajari silsilah kandidat calon RAJA WAIN VII. Membacanya pun tidak  sekedar mengerti  bahwa si A memperanakan si B, si B memperanakan si C  dan seterusnya, tapi membaca dalam kaca mata adat yaitu “laar in baba ni wiir in soso” (berdasarkan pancaran/aliran darah). Dalam konteks inilah kiranya semua pihak mengerti, memahani dan mengakui diktum teteen tempo dulu yakni “hira ni natub fo ini, it did natub fo it did”. Dengan mengakui hak milik seseorang yang sah secara turu-temurun maka percayalah bahwa “duang loor mahiling nahoov i”. Dilain pihak biarkanlah agar masyarakat luas dapat membaca dan menilai sendiri bahwa siapa yang paling layak untuk duduk di singgasana kursi RAT SAKMAS WAIN.  Selain itu skema/bagan ini dapat memberi gambaran detil kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan agar tidak gegabah dalam membuat kebijakan.  Memberi peluang bagi seorang bukan vat yanan asli untuk menjadi calon Raja itu suatu kesalahan vatal, apalagi sampai menjadi pesaing bagi beran yanan itu suatu bencana. Tolong diingat, kesaksian suatu silsilah boleh dimanipulasi tapi aliran darah di dalam tubuh tidak dapat dibohongi.  Berikut ini skema/bagan SILSILAH RAT SAKMAS WAIN.

Dari skema diatas maka membacanya demikian ; 1) JANIBA RENUVAT adalah vat yanan marga ESOMAR.  2) SOLEHA vat yanan marga RENUVAT, karena ibunya JANIBA RENUVAT. 3) SAHABUDIN vat yanan marga ibunya SOLEHA. 4) SALEH LEISUBUN vat yanan dari marga istri bapanya SAHABUDIN. Sebaliknya dalam konteks yan’ur mangohoi maka kita membacanya sebagai berikut :  1) ARMAU RENUVAT adalah vat yan’ur dari marga ESOMAR atau sebaliknya marga ESOMAR adalah mangohoi utin dari ARMAU RENUVAT. Lalu bagaimana dengan SALEH LEISUBUN? Sebut dulu nama fam ibunya secara benar, jujur dan terus terang, kalau tidak ya….. tutup buku saja! Tapi bila SAHABUDIN punya istri marga ESOMAR maka SAHABUDIN punya mangohoi utin marga ESOMAR atau sebaliknya marga ESOMAR punya vat yan’ur adalah SAHABUDIN. Dengan demikian SALEH LEISUBUN boleh menyebut dirinya vat yanan marga ESOMAR, bila ibu kandungmu bukan dari marga ESOMAR maka saudara cukup bangga leluhurmu “NISUM TIKAL” berasal dari marga ESOMAR. Kesimpulannya bila instansi teknis terkait memberi peluang SALEH LEISUBUN maju sebagai calon RAT SAKMAS WAIN untuk berkompetisi melawan VALENTINUS ESOMAR itu sama halnya dengan memberi restu untuk suatu KEJAHATAN ADAT dan manupulasi SILSILAH RAT SAKMAS WAIN. siapa berani???

Penulis

Pemerhati adat dan Budaya Kei

Gerson Rahanubun.

Oleh tualnews

tualnews.com adalah portal berita di Kepulauan Kei sebagai media publik penyambung suara hati masyarakat. semoga media ini menjadi sarana informasi dan publikasi yang aktual, tajam dan terpercaya