Waspada Varian Baru COVID-19: NB.1.8.1 Masuk Indonesia, Kasus Naik di Asia Tenggara

Img 20250604 wa0051

Jakarta, Tualnews.com — Gelombang baru COVID-19 kembali melanda kawasan Asia Tenggara. Negara-negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Hong Kong mengalami lonjakan kasus akibat varian baru turunan Omicron.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merespons cepat dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor SR.03.01/C/1422/2025 tertanggal 23 Mei 2025 guna memperketat kewaspadaan nasional.

Varian-varian yang saat ini mendominasi wilayah tersebut adalah XEC dan JN.1 di Thailand, LF.7 dan NB.1.8 di Singapura, XEC di Malaysia, serta JN.1 di Hong Kong.

Indonesia: Kasus Turun, Tapi Ancaman Nyata

Meski Indonesia mencatat tren penurunan kasus—dari 28 kasus di minggu ke-19 menjadi hanya 3 kasus pada minggu ke-20 dengan positivity rate 0,59 persen, Kemenkes tetap mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lengah. Varian dominan saat ini adalah MB.1.1, turunan dari Omicron.

Dalam surat edaran tersebut, Kemenkes menegaskan perlunya deteksi dini, pemetaan varian, edukasi masyarakat, serta penguatan protokol kesehatan di fasilitas layanan kesehatan.

NB.1.8.1 Dikonfirmasi Masuk Indonesia

Pada 3 Juni 2025, Kemenkes mengumumkan tujuh kasus varian NB.1.8.1 telah terdeteksi di Indonesia.

Varian ini pertama kali teridentifikasi di Tiongkok pada Januari 2025, dan oleh WHO telah dikategorikan sebagai Variant Under Monitoring (VUM) sejak 23 Mei 2025 karena kecepatannya dalam menyebar secara global.

NB.1.8.1 merupakan turunan dari varian XDV.1.5.1 dalam garis keturunan JN.1, dengan mutasi kunci seperti T478I, A435S, dan V445H yang meningkatkan infektivitas serta menurunkan efektivitas antibodi, meskipun belum terbukti lebih mematikan.

Varian ini kini telah ditemukan di lebih dari 20 negara dalam kurun waktu lima bulan terakhir.

Singapura Alami Lonjakan: Indonesia Siaga

Singapura mencatat lonjakan tajam dengan 14.200 kasus dalam sepekan (27 April–3 Mei 2025), naik dari 11.000 kasus pekan sebelumnya. Lonjakan ini dipicu dominasi LF.7 dan NB.1.8, varian yang kini mulai memasuki wilayah Indonesia.

Presiden Panggil Menkes: Situasi Terkendali

Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ke Istana, Selasa (3/6/2025), untuk mendapatkan laporan langsung. Menkes menyatakan situasi dalam negeri masih terkendali.

“Kenaikan kita sangat kecil. Tapi kami tetap siaga di titik-titik surveilans,” ujar Menkes Budi kepada awak media.

Langkah Kemenkes: Perketat Surveilans dan Edukasi

Kemenkes meminta seluruh laboratorium, rumah sakit, dan dinas kesehatan untuk meningkatkan pelaporan, pengambilan spesimen, serta analisis genomik. Surveilans melalui SKDR, sentinel ILI/SARI, dan deteksi dini KLB juga diperkuat.

Selain itu, edukasi publik tentang gejala gangguan pernapasan ditingkatkan. Di bandara dan pelabuhan internasional, pengawasan pelaku perjalanan diperketat.

PDPI Terbitkan Imbauan untuk Tenaga Medis

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengeluarkan Surat Imbauan No. 169/SD/PP-PDPI/VI/2025 yang berisi panduan bagi tenaga medis:

Gunakan masker saat bergejala atau di keramaian

Gunakan APD sesuai standar

Ventilasi ruangan harus dijaga baik

Hindari makan bersama di ruang tertutup

Cuci tangan rutin, terapkan PHBS

Vaksinasi booster sesuai anjuran

Ikuti seminar ilmiah untuk update penanganan COVID-19

Imbauan untuk Masyarakat: Jangan Panik, Tetap Siaga

Walau belum ditemukan peningkatan tingkat keparahan akibat varian NB.1.8.1, kecepatan penularan tetap menjadi perhatian utama.

Juru Bicara Kemenkes menegaskan, masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan, terutama bila mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, atau setelah melakukan perjalanan internasional.

“Kesiapsiagaan adalah kunci. Kita tidak ingin mengulang gelombang besar seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya.