Ambon, Tualnews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Maluku menggelar Konsolidasi Daerah dan Diskusi Publik bertema “Meneguhkan Sapta Cita: Sinergi Keamanan, Mahasiswa, dan Pemerintah dalam Mengawal Arah Pembangunan Daerah” di Aula Rektorat Universitas Pattimura Ambon, Senin (22/12/2025).
Kegiatan ini dihadiri Rektor Universitas Pattimura Ambon atau perwakilan, pimpinan dan pengurus BEM se-Kota Ambon, unsur Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Maluku, organisasi kepemudaan (OKP), LSM, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Maluku.
Turut hadir dan memberikan opening speech Gubernur Maluku yang diwakili Kepala Bappeda Provinsi Maluku.
Hadir pula sebagai narasumber Komisi III DPRD Provinsi Maluku Reza Mony serta Ketua DPD KNPI Maluku, Arman Kalean Lessy.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi strategis mahasiswa dalam merespons isu-isu pembangunan daerah, keamanan, serta stabilitas sosial di Maluku.
Ketua Panitia dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Universitas Pattimura Ambon yang telah menyediakan ruang akademik bagi mahasiswa untuk berdiskusi secara kritis dan konstruktif.
Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan rekomendasi konkret sebagai bahan advokasi mahasiswa ke depan.
Koordinator Nusantara BEM Maluku–Papua yang mewakili Pengurus Pusat BEM Nusantara, Dinar R. Aminuddin, menegaskan keamanan dan stabilitas sosial merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan pembangunan daerah.
“Tanpa situasi yang aman dan kondusif, berbagai agenda pembangunan hanya akan menjadi wacana di atas kertas,” ujarnya.
Menurut Dinar, Sapta Cita harus dimaknai sebagai komitmen kolektif seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan kontrol sosial untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kepentingan rakyat.
“Mahasiswa tidak boleh berada di luar proses pembangunan. BEM Nusantara hadir untuk memastikan arah pembangunan daerah, khususnya di Maluku, tetap berada dalam koridor keadilan sosial, stabilitas wilayah, dan keberlanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Daerah BEM Nusantara Maluku, Adam R. Rahantan, menilai konsolidasi daerah ini menjadi momentum penting dalam memperkuat barisan gerakan mahasiswa Maluku agar tetap satu tujuan dan satu komitmen.
Ia menekankan bahwa tantangan pembangunan Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan karakter sosial yang kompleks membutuhkan peran aktif mahasiswa dalam menjaga keamanan sosial dan mengawal kebijakan publik.
“Mahasiswa harus hadir sebagai subjek pembangunan yang kritis, solutif, dan bertanggung jawab. Sapta Cita harus menjadi kompas bersama dalam mengawal pembangunan yang adil dan inklusif,” ujar Rahantan.
Ia juga menambahkan mahasiswa memiliki peran penting dalam mencegah potensi konflik sosial, menangkal disinformasi, serta menjaga ruang demokrasi tetap sehat.
Menurutnya, sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sipil merupakan kunci utama dalam menjaga Maluku tetap aman dan damai.
Diskusi publik berlangsung dinamis dan partisipatif. Berbagai pandangan, kritik, serta gagasan disampaikan peserta sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masa depan Maluku.
Konsolidasi ini menghasilkan sejumlah poin rekomendasi strategis yang akan dijadikan bahan advokasi kebijakan ke depan.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memastikan pembangunan daerah tidak kehilangan arah. Konsolidasi ini menjadi momentum menyatukan pikiran dan langkah mahasiswa dalam menjaga stabilitas sosial, keamanan, serta keberlanjutan pembangunan di Maluku,” tegas Rahantan.
Melalui kegiatan ini, BEM Nusantara Maluku menegaskan komitmennya untuk terus mengawal Sapta Cita, menjaga keamanan dan stabilitas sosial, serta memastikan pembangunan daerah Maluku berjalan secara berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.
Konsolidasi daerah ini diharapkan menjadi titik tolak penguatan peran mahasiswa sebagai mitra kritis dalam pembangunan daerah.