TINJAUAN ” MASA LALU DAN MASA DEPAN BAHASA KEI “

Ir. Petrus beruatwarin, m. Si
Ir. Petrus Beruatwarin, M.Si

TINJAUAN ” MASA LALU DAN MASA DEPAN BAHASA KEI ”

Oleh : Ir. Petrus Beruatwarin, M.Si

Bahasa yang digunakan dalam suatu daerah merupakan alat komunikasi utama dalam berinteraksi secara sosial oleh kelompok masyarakat tertentu dalam suatu daerah, disebut bahasa daerah.

Karena bahasa merupakan alat pemersatu masyarakat yang menggunakannya sekaligus menggambarkan budaya suatu daerah setempat, maka bahasa daerah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan, termasuk nilai dan marwah bahasa kei menuntut tanggung jawab kita.

Pada Tahun 1919, Pater H. Geurtjens MSC, Seorang misionaris berkebangsaan Belanda untuk pertama kali melakukan penelitian bahasa kei yang saat itu belum memiliki referensi sebagai panduan tertulis.

Hasilnya tahun 1921, terbit buku dengan judul asli :
Uit een Vreemde Wereld – Het Leven en Streven der Unlanders op de Kei – eilanden.
Diterbitkan pada Teulings’ Uitgevens Maatschhappij, ‘s – Hertogenbosh ( Belanda ).

Diterjemahkan dalam tulisan Bahasa Indonesia, diterbitkan cetakan pertama pada bulan oktober tahun 2016, dengan judul :
KEHIDUPAN ORANG KEI DI ZAMAN DULU.
( Catatan Etnografis )
Penerbit Gunung Sopai
Jl. Cenderwasih No 067
Kalitirto Berbah Sleman Jogjakarta.
Pengarang : H. Geurtjens, MSC
Penerjemah : P. C. J. Bohm, MSC
Editor : Ignasius S. S. Refo, MA

Tahun 1985, J. Tetelepta dkk dari Universitas Patimura, Ambon melakukan penelitian tentang Struktur Bahasa Kei ( Proyek Kementerian Pendidikan Nasional ),
Mengatakan bahwa penulisan bahasa kei yang berpedoman pada tata bahasa eropa kuno dan modern, belum tentu cocok dengan tata bahasa Indonesia.

Dalam konteks tersebut, pada tanggal 25 – 27 Oktober 1990 di Tual, Kabupaten Makuku Tenggara melalui APBD Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 1990, membiayai pelaksanaan Seminar Bahasa Kei dengan Tema ” Masa Lalu dan Masa Depan Bahasa Kei ”
Diselenggarakan atas kerjasama Pusat Studi Maluku ( PSM ) dengan Summer Institute of Linguistics ( SIL ) Ambon dan Pemerintah Daerah MalukuTenggara sebagai pelaksana seminar.

Sebagai Koordinator, O. Labetubun, BA ( Kandep Depdikbud Kabupaten Maluku Tenggara ).
Ketua Panitia, Drs. B. R. Koedoeboen ( Kabid Sosial Budaya Bappeda ) dan Sekretaris Panitia, Ir. Petrus Beruatwarin ( staf Bappeda Maluku Tenggara ) sekaligus sebagai ketua Tim Perumus. Dengan Narasumber adalah Eddy Travis, MA dari SIL.

Materi dibedah dari berbagai sisi oleh bermacam unsur, antara lain, para Rat dan Pemuka adat Lor Lim dan Ur Siuw, Orang Kai dan perangkat adat baik dari kei kecil maupun kei besar, Pemuka Agama, Guru – Guru, unsur Generasi Muda dan Unpatti Ambon serta banyak mendapat masukan dari peserta seminar antara lain bpk.Hi. A. G, Wokanubun, B A. bpk. Gregorius Rahawarin dan Rat Maur bpk. J. P. Rahail.

Seminar merekomendasikan beberapa hal berikut :
1.Sampai saat ini, masing- masing orang kei bebas menterjehmakan bahasa kei menurut keinginannya sehingga perlu ada tulisan bahasa kei yang baku.
2.Perlu ada buku bahasa kei yang ditulis agar dapat dipelajari oleh generasi penerus mulai dari SD, SMP, SMA dan Umum.
3.Perlu ada keseragaman dalam tulisan dan ucapan bahasa kei walaupun dialek masing-masing wilayah berbeda misalnya antara kei kecil, kei kecil barat, kei besar selatan dan kei besar utara.

Sehubungan dengan itu, maka pada tahun 2021 terbit buku Pelajaran Bahasa Kei Sehari – Hari Untuk Umum,
Volume 1, oleh :
Fr. Ferry Gamgenora, S. Psi
Penerbit
Komojoyo Press ( Anggota IKAPI )
Jl. Kumojoyo 21 A, RT 11, RW 4, Mrican
Caturtunggal, Depok
Sleman 55281

Kesimpulan.
1 Pater H Geurtjens MSC
– Kehidupan Orang Kei Zaman Dulu, belum ada referensi sebagai panduan tertulis sehingga tulisannya masih menggunakan bahasa Belanda dan berpedoman pada tata bahasa eropa kuno dan modern.
– Penulisan bahasa kei ditulis oleh misionaris Belanda untuk kepentingan mereka saat itu.

2.Menurut J. Tetelepta dkk ( Unpatti Ambon,1985 ), mengemukakan,

Bahwa penulisan bahasa kei
dengan menggunakan
tata bahasa eropa kuno
dan modern tidak
sesuai dengan tata
bahasa Indonesia sehingga
direkomendasikan kepada
Pusat Study Maluku dan
Summer Institute of
Linguistics ( SIL) Ambon
Untuk melakukan penelitian
lanjutan dan dibuatlah
seminar di Tual tahun 1990.

3.Pada tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara membentuk Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah dengan salah satu misi adalah melakukan komunikasi dan kerjasama dengan pihak Simanari Keuskupan Amboina agar dapat menelusuri dan menerjemahkan buku tentang kearifan lokal kei, terkait adat dan budaya yang ditulis oleh para pemerhati budaya, baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Belanda, Belgia dan Inggris, baru terealisasi di tahun 2019 dalam 5 buku dengan Editor Ignasius S. S. Refo, antara lain :
1).Lagenda Orang-Oran Kei,
2).Lagu-Lagu Perjalanan, Cerita-Cerita Tempat,
3).Suatu Masyarakat Dari Rumah -Rumah Yang Bergerak Menuju Arah Yang Luas,
4).Landasan Bersama Di Kepulauan Kei,
5).Perang Dunia Kedua Melanda Kepulauan Kei.

4.Fr. Ferry Gamgenora, S.Psi ( 2021 ) menekankan bahwa :
Tidak perlu berlarut- larut dalam pertentangan menyangkut Struktur Bahasa Kei tetapi sebagai orang kei, bahasa kei harus dihidupkan ( ditulus ) agar bahasa kei tidak punah seperti sebagian bahasa daerah di dunia yang sudah mengalami kepunahan karena tidak ada penuturnya lagi dan selanjutnya menyarankan sebaiknya kita belajar dari saudara – saudara kita di pulau jawa, anak berbicara kepada orang tua dan sebaliknya, tetangga dengan tetangga selalu menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi bahkan disarankan Bahasa Kei menjadi pelajaran muatan lokal mulai dari SD, SMP dan SMA atau sederajat.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.