Ubah Kegagalan Jadi Inovasi, Mahasiswa KKN Ciptakan “Pot Semen” Penyelamat Mangrove di Elaar Let

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) mengembangkan metode "pot semen" untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan pantai terbuka yang selama ini dikenal memiliki gelombang kuat.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) mengembangkan metode "pot semen" untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan pantai terbuka yang selama ini dikenal memiliki gelombang kuat.

Maluku Tenggara, Tualnews.com  – Kegagalan penanaman mangrove di pesisir Elaar Let, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, justru melahirkan sebuah inovasi sederhana namun menjanjikan.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) mengembangkan metode “pot semen” untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan pantai terbuka yang selama ini dikenal memiliki gelombang kuat.

Program yang dipimpin Naufal Fitrah Hutama tersebut dilaksanakan pada 14 Juli 2026 dengan dukungan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), melibatkan 30 mahasiswa KKN, serta lebih dari 10 pemuda dan warga Desa Elaar Let.

Dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu 18 juli 2026, Naufal Fitrah Hutama mengungkapkan kalau inovasi ini lahir,  setelah tim mengevaluasi kegagalan metode penanaman konvensional yang berulang kali membuat bibit mangrove hanyut sebelum sempat berakar kuat.

” Pantai Elaar Let yang langsung berhadapan dengan laut lepas memiliki karakter gelombang tinggi sehingga membutuhkan teknik penanaman yang lebih adaptif,” Ujarnya.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) mengembangkan metode "pot semen" untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan pantai terbuka yang selama ini dikenal memiliki gelombang kuat.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) mengembangkan metode “pot semen” untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan pantai terbuka yang selama ini dikenal memiliki gelombang kuat.

Kata dia, berangkat dari hasil kajian berbagai metode rehabilitasi pesisir di sejumlah negara, tim KKN kemudian mengembangkan pot berbahan campuran semen dan pasir dengan komposisi 1:3 sebagai penyangga bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata.

” Pot tersebut dilengkapi lubang drainase dan ditanam setengah terbenam di substrat saat air laut surut, ” Jelasnya.

Naufal menjelaskan, bobot pot berfungsi sebagai jangkar alami yang menjaga bibit tetap stabil ketika diterpa arus dan gelombang pada fase awal pertumbuhan.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding penggunaan ajir bambu yang mudah lapuk akibat paparan air laut.

Keunggulan metode tersebut juga terletak pada kemudahan penerapannya.

Diakui, seluruh bahan baku tersedia di wilayah kepulauan, biaya relatif murah, serta tidak memerlukan peralatan berat maupun keahlian teknis khusus.

” Seluruh proses, mulai dari pencetakan pot, pengeringan selama tiga hingga tujuh hari, hingga penanaman bibit dengan pola zig-zag berjarak 0,5–1 meter melawan arah gelombang dominan, dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa dan masyarakat setempat, ” Ungkapnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi media transfer pengetahuan agar warga mampu melanjutkan rehabilitasi mangrove secara mandiri.

Menurut Naufal Fitrah Hutama, metode pot semen diharapkan mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove secara signifikan dibanding metode sebelumnya yang gagal diterapkan di Elaar Let.

Selain mendukung upaya menekan abrasi pantai, keberhasilan program ini diharapkan mampu memulihkan fungsi ekologis kawasan pesisir sebagai habitat pembesaran berbagai biota laut (nursery ground) sekaligus memperkuat penyimpanan karbon biru (blue carbon) yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.

” Program ini juga menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Warga dilibatkan sejak proses pembuatan pot hingga pemantauan pascatanam, dengan target keberhasilan mengacu pada standar nasional, yakni tingkat kelangsungan hidup bibit minimal 60 persen pada akhir tahun pertama, ” Terangnya.

Kata Naufal, inovasi sederhana berbasis pemberdayaan masyarakat ini menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah upaya konservasi.

” Sebaliknya, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat, tantangan rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir berenergi tinggi dapat diubah menjadi solusi yang berpotensi direplikasi di berbagai daerah kepulauan Indonesia, ” Pungkasnya.