Sather Soroti Sistem Pengelolaan Sampah Kota Tual

Img 20230525 wa0023

Tual News – Sistem pengelolaan sampah pada Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Kota Tual di Desa Ohoitel menjadi sorotan Anggota DPRD Kota Tual asal Partai NasDem, Rivai Sather, S.H.

Dalam keterangan Pers via whatsaap kepada tualnews.com, Kamis ( 25 /5/2023), Sather menyoroti penggunaan sistem operasi damping, yaitu cara membuang sampah diatas lahan, tanpa ada perlakuan apapun.

Anggota dprd kota tual asal nasdem, rifai sather, s. H
Anggota Dprd Kota Tual Asal Nasdem, Rifai Sather, S.h

” Sistem seperti ini dapat mencemari lingkungan dan kesehatan bagi petugas yang bekerja di TPA atau warga sekitarnya, ” Sorotnya.

Menurut Sather, sistem ini membuat bau sampah menjadi lebih menyengat dan gas metana sampah membahayakan bumi.

” Bagi lingkungan, sistem open dumping dapat menjadi sumber polutan bagi air di lingkungan sekitar, sebab tumpukan sampah serta air lindi mencemari tanah dan air tanah didalamnya, apalagi lokasi TPA hanya berjarak kurang lebih dua hingga tiga kilometer dari sumber air minum yang dikelola PDAM Maren Kota Tual, ” Ujarnya.

Kata Sather, TPA Ohoitel pada lapisan dasar telah dilapisi plastic khusus, namun dari beberapa informasi masyarakat sekitarnya, kalau pernah terjadi kebakaran didalam lokasi TPA, sehingga sebahagian plastic pelindung tanah tersebut telah rusak.

” Sistim open dumping, hanya akan terus menumpuk sampah lebih cepat, karena tidak ada pengelolaan sampah di TPA, ” Jelasnya

Kata dia, akibat sistem ini menghasilkan dampak negatif besar, maka sistem itu telah dilarang sebagaimana amanat pasal 44 dan 45 UU No 18 tahun 2008.

Anggota DPRD Kota Tual asal Nasdem yang adalah salah satu putera terbaik Utan Tel Timur berharap perhatian Pemerintah Kota Tual teristimewa Dinas Lingkungan Hidup.

” Solusi dari saya adalah sistim open dumping yang saat ini dipakai Dinas Lingkungan Hidup dalam mengelola TPA Ohoitel harus diganti dengan sistem Sanitari Landfill, ” Pinta Sather.

Dikatakan penggunaan sistem Sanitary landfill, yakni dengab cara menimbun dan memadatkan sampah, lalu kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup.

” Dengan adanya lapisan penutup tersebut, membuat TPA dengan sistem sanitary landfill dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, ” Katanya.

Selain itu dia juga mengusulkan agar mengoptimalkan metode pengurangan sampah sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 huruf a Perda 03 tahun 2017, yakni dengan cara mendorong kelompok kelompok swadaya masyarakat , pihak swasta memanfaatkan limbah sampah an organic terutama sampah plastic yang dapat diolah menjadi bahan jadi maupun bahan setengah jadi.

” Kalau ini dilaksanakan, Pemerintah Daerah menerima manfaat besar diantaranya, mengurangi jumlah sampah plastic di TPA , buka lapangan kerja , meningkatkan pendapatan masyarakat dari usaha pengelolaan sampah plastic, ” Terangnya.

Menurut Sather, pengoptimalan metode pengurangan sampah menjadi salah satu solusi agar tidak terjadi penumpukan sampah di TPA, mengingat jumlah produksi sampah dikota Tual cukup besar, namun lokasi TPA yang terbatas apalagi luas wilayah daratan kota Tual hanya 1,8 persen, sudah terbagi baik itu wilayah pertanian , perkantoran dan pemukiman.

” Perlu adanya edukasi yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan kepada masyarakat terkait metode pengurangan sampah sehingga mainset masyarakat terkait TPA dengan pengertian ( Tempat Pembuangan Sampah) bisa dirubah menjadi TPA ( Tempat Pemrosesan Akhir ), ” Harapnya.