BUMDes Nawaripi Jaya Jadi Penopang Ekonomi Warga, Raup  Rp 30 Juta per Tahun dari Wisata Rohani dan Kolam Pemancingan

Img 20251222 wa0033

Timika, Tualnews.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nawaripi Jaya kian menunjukkan peran strategisnya sebagai tulang punggung ekonomi Kampung Nawaripi, Distrik Wania,  Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Terbukti, melalui pengelolaan potensi sumber daya alam, khususnya wisata rohani dan kolam pemancingan, BUMDes ini mampu menghasilkan pendapatan hingga hampir Rp 30 juta dalam setahun.

Direktur BUMDes Nawaripi Jaya, Rafael Taorekeyau, menegaskan pembentukan dan pengelolaan BUMDes merupakan amanat regulasi yang tidak sekadar bersifat administratif, melainkan instrumen nyata untuk mendorong kemandirian kampung.

“BUMDes ini wajib secara aturan. Untuk membangun Kampung Nawaripi, kita harus mengelola potensi yang ada, terutama sumber daya alam di sekitar kampung,” ujar Rafael.

Ia menjelaskan, penguatan sumber daya manusia menjadi langkah awal penting pascapergantian kepengurusan.

” Dengan pengurus baru, BUMDes diharapkan mampu menghadirkan inovasi dan tata kelola usaha yang lebih profesional, ” Ungkapnya.

Saat ini, kata dia, sejumlah unit usaha telah berjalan, meskipun belum sepenuhnya optimal.

Direktur bumdes nawaripi jaya, rafael taorekeyau
Direktur Bumdes Nawaripi Jaya, Rafael Taorekeyau ( Foto – Dok Kampung Nawaripi )

” Dua sektor yang sudah beroperasi dan memberikan hasil nyata adalah wisata rohani dan kolam pemancingan, yang akan terus dikembangkan seiring dukungan modal awal yang telah diterima, ” Terang Rafael.

Diakui, belum semua program bisa dijalankan. Tapi kolam ikan dan wisata rohani sudah berjalan, dan akan terus dikembangkan dengan modal yang ada.

Ke depan, BUMDes Nawaripi Jaya menargetkan pengembangan sektor pertanian, peternakan ayam, dan budidaya ikan, guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga kampung.

Rafael juga membuka peluang kerja sama dengan mitra dan investor, termasuk Pangan Sari dan POMS, agar potensi lokal tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Kebutuhan pangan itu sebenarnya bisa dipenuhi dari tanah, air, dan udara Papua, khususnya di Mimika,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, senin ( 22 / 12 / 2025 ), mengakui manfaat BUMDes tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga menopang jalannya pemerintahan kampung.

Norman menyebut, BUMDes pernah menjadi penyelamat ketika pemerintah kampung mengalami kekosongan anggaran untuk kebutuhan mendesak.

“Waktu itu kami tidak punya dana, tapi BUMDes punya stok. Kami bisa meminjam. Ini bukti BUMDes benar-benar berfungsi,” ungkap Norman.

Menurutnya, BUMDes Nawaripi Jaya telah membuktikan diri bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting dalam mendorong kemandirian ekonomi kampung.

Ia pun mendesak pemerintah pusat, khususnya Kementerian Desa dan Kementerian Hukum dan HAM, agar mempercepat proses penerbitan akta notaris BUMDes guna membuka ruang pengelolaan usaha berskala lebih besar.

Pendapatan BUMDes Nawaripi Jaya bersumber dari penjualan air bersih, wisata rohani, kolam pemancingan, serta kegiatan usaha di wilayah Mil 21 dan kawasan Luas Satu.

Menariknya, kata Norman, BUMDes juga menjalankan fungsi sosial dan keagamaan.

“Hasil wisata rohani kami setorkan ke gereja-gereja terdekat, seperti Gereja Nawaripi, Santo Yos Nawaripi, Gereja Stefano Sempan, dan Gereja Tiga Raja. Itu murni hasil BUMDes, bukan dana desa,” jelas Norman.

Dalam kurun waktu satu tahun, total pendapatan BUMDes tercatat sekitar Rp 20 juta hingga hampir Rp 30 juta, capaian yang turut mengantarkan Kampung Nawaripi ditetapkan sebagai desa mandiri.