Lomba Renang Tradisional di Nawaripi: Menyelamatkan Anak-Anak Papua dari Miras Lewat Bakat Alam

Di lokasi wisata paieve merah putih mile 21, pemerintah kampung nawaripi kembali menggelar lomba renang tradisional anak-anak, jumat (
Di lokasi wisata Paieve Merah Putih Mile 21, Pemerintah Kampung Nawaripi kembali menggelar Lomba Renang Tradisional Anak-Anak

Nawaripi, Papua Tengah — Di lokasi wisata Paieve Merah Putih Mile 21, Pemerintah Kampung Nawaripi kembali menggelar Lomba Renang Tradisional Anak-Anak, sebuah ajang yang bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi intervensi sosial untuk menyelamatkan generasi muda dari jerat miras dan pergaulan negatif.

Dalam Rilis Pers kepada media ini, Jumat ( 12 / 12 ), Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun mengaku sebanyak 30 peserta usia 8–18 tahun ambil bagian dalam lomba yang terbagi dalam empat kategori.

Hadiah yang disediakan pemerintah Kampung Nawaripi pun cukup besar untuk ukuran lomba kampung:

Juara 1: Medali + alat tulis + Rp1 juta

Juara 2: Medali + alat tulis + Rp750 ribu

Juara 3: Medali + alat tulis + Rp500 ribu

Peserta lainnya: Uang pembinaan Rp100 ribu

” Ini merupakan penyelenggaraan kedua sepanjang tahun 2025, setelah event pertama sukses digelar pada 17 Agustus 2025, ” sebutnya.

Kepala kampung nawaripi, norman ditubun memberikan hadiah kepada para peserta di lokasi wisata paieve merah putih mile 21, jumat ( 12 / 12 )
Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun Memberikan Hadiah Kepada Para Peserta Di Lokasi Wisata Paieve Merah Putih Mile 21, Jumat ( 12 / 12 )

Menghidupkan Identitas Kamoro Lewat Air

Menurut Ditubun, bagi masyarakat Kamoro, air bukan sekadar elemen alam, melainkan identitas.

” Mereka adalah perenang alam, pewaris kemampuan maritim yang sudah berlangsung turun-temurun, ” Ujarnya.

Namun, kata Norman, ditengah gempuran miras, urbanisasi, dan hilangnya ruang bermain, bakat alam ini perlahan terkikis.

” Nawaripi memilih jalan berbeda,  menghidupkan kembali kebanggaan dan identitas suku Kamoro melalui ruang kegiatan positif. Lomba renang tradisional ini menjadi penegas bahwa penyelamatan generasi muda harus dimulai dari kampung, dari aktivitas yang dekat dengan budaya mereka, ” Tegasnya.

Img 20251212 wa0014

Diakui, dalam kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai institusi, yaitu Lembaga Anti Narkoba Mimika, Danlanal Mimika, Lanud Kapiyau Mimika, Polres Mimika, Kepala BNN Mimika, Sekretaris Distrik Wania Aloesius, Karang Taruna Nawaripi, BUMDes Nawaripi, Ketua APKM Distrik Wania serta ratusan warga yang memadati lokasi lomba.

Dalam sambutannya, Danlanal Mimika, Letkol Laut ( P ) Bekti Sutiarso S.H., Mtr.Opsla, memberikan apresiasi tinggi sekaligus membuka peluang besar bagi anak-anak Kamoro dan Amungme dipersilakan datang setiap hari ke kompleks AL untuk bermain dan berlatih.

”  Pintu TNI AL terbuka lebar bagi mereka yang ingin meniti karier sebagai prajurit laut, ” Tegasnya.

Hingga akhir 2025, Nawaripi menjadi satu-satunya kampung di Papua Tengah yang mampu menggelar lomba renang tradisional sebanyak dua kali dalam setahun.

Di saat banyak kampung di Papua menghadapi persoalan serius miras, tawuran, anak putus sekolah, Nawaripi membuktikan bahwa solusi tidak harus mahal. Yang dibutuhkan adalah kemauan politik dan keberanian mengambil langkah.

Nawaripi sedang mengirim pesan kuat “Jika ingin menyelamatkan anak-anak Papua, mulailah dari kampung. Dari aktivitas positif. Dari identitas budaya.”

Untuk diketahui, semua hadiah perlombaan ini disiapkan lembaga Anti Narkoba Mimika dan Satuan Narkoba Polres Mimika.