Pansus LKPJ Temukan Proyek Gagal Air Bersih di Ohoira & Ohoinol

Tual News – Pansus LKPJ DPRD Kabupaten Maluku Tenggara, dalam kunjungan kerja di Kecamatan Kei – Kecil Timur, Kei Kecil Barat dan Hoat Sorbay, Sabtu ( 23/05/2020 ), menemukan proyek gagal air bersih yang dibiayai APBD tahun 2019 di Desa Ohoira dan Ohoinol.

Video wawancara tualnews.com bersama Esebius Utha Savsavubun

Salah satu Anggota Pansus, Esebius Utha Savsavubun, usai melihat secara langsung beberapah proyek air bersih yang gagal, kepada tualnews.com, Sabtu ( 23/05/2020 ) membenarkan hal ini.

“ Benar, setelah pansus turun lapangan di Ohoinol, Kecamatan Kei Kecil Timur, ternyata proyek pembangunan pengembangan jaringan perpipaan ( SPAM ) tahun 2019, dengan 81 penyambungan rumah, namun fakta lapangan sambungan rumah sudah dilaksanakan, tapi asas manfaat proyek tersebut sangat rendah, karena masyarakat belum menikmati air bersih “ Ungkapnya.

Anggota Pansus, Esebius Utha Savsavubun, naik tangga melihat bak penampung air di Ohoinol, Kecamatan, Kei Kecil Timur, Sabtu ( 23/05/2020 )

Politisi PDI – Perjuangan ini menilai proyek air bersih di Ohoinol gagal, karena ketinggian bak penampung air tidak memenuhi syarat.

“ Kami sesalkan karena bak penampung air bersih di Ohoinol bukan dibangun baru, tapi menggunakan bak penampung beberapah tahun lalu, kemudian direhabilitasi. Jadi asas manfaat sama sekali tidak ada, sehingga akan ditindaklanjuti dalam rekomendasi pansus kepada saudara Bupati  Malra “ Sesalnya.

Proyek air bersih yang sama juga ditemui Pansus di Desa Ohoira, Kecamatan Kei Kecil Barat.

Ini bak penampung air di Desa Ohoira, Kecamatan Kei Kecil Barat, dibangun diatas tanah

“ Di Ohoira, ada 180 penyambungan baru air bersih ( SR ) disana, kami temui pemasangan instalasi air sudah baik, hanya saja persoalan yang ada pada sumber air, karena bak penampung air tidak berada di ketinggian “ Jelasnya.

Untuk melayani kebutuhan masyarakat akan air bersih, Pemerintah Ohoi mendatangkan mobil air untuk mengisi bak penampung air yang ada agar distribusi air bersih bisa terlayani di masyarakat.

“ Kami sesalkan, perencanaan Dinas PUPR hanya fokus agar proyek selesai dikerjakan, tapi tidak melihat asas manfaat bagi masyarakat. Bayangkan bak yang dibangun diatas tanah, sehingga tekanan air masuk ke kampung untuk layani 180 SR sangat tidak maksimal “ kesal Savsavubun.

Kata dia, hal ini kalau segera diatasi intansi teknis terkait, maka dianggap proyek gagal, sebab masyarakat tidak menikmati air bersih.

Sementara itu, terkait proyek tahun 2019 di tempat wisata Ohoi Waab, kata Esebius Utha Savsavubun, pansus menemukan pembangunan dua buah gapura yang diselesaikan dengan baik.

Ini Gasebo yang dibangun di pantai wisata Waab

“ Pembangunan dua gapura ditempat wisata Waab senilai Rp 198 juta, pembuatan tempat parkir Rp 309 juta dan pembuatan pagar pembatas Rp 984 juta, serta gasebo 24 unit senilai 769 juta “ rincinya.

Kata dia, pansus menemukan tingkat kekurangan pada pembangunan 24 unit gasebo di pantai wisata Waab, yakni sloop atau sepatu dari beberapah gasebo sangat tidak lengkap.

“ Kami juga dapat informasi dari PPTK kalau didalam kontrak ada pembuatan ayunan, namun belum terpasang, termasuk sebagian belum dicat “ katanya.

Sementara itu untuk pembangunan dua unit ruang ganti dan toilet senilai 706 juta, Savsavubun memberikan apresiasi atas penyelesaian pekerjaan tersebut, namun kembali soal asas manfaat, terkait air bersih yang digunakan, sama sekali tidak ada sumber air.

“ asas manfaat tidak ada karena belum ada sumber air, lalu blognya diatas tanah sejak tahun 2019 “ ujarnya. ( team tualnews )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.