BMKG : 134.600 Jiwa Pengungsi Gempa Maluku, Terbanyak di Malteng

Ambon Tual News – Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG, Agus Wibowo mengungkapkan berdasarkan data BPBD Provinsi Maluku per 6 Oktober 2019, pukul 18.00 WIT, tercatat jumlah penyintas gempa bumi di Provinsi Maluku, pasca gempa M 6,5 26 september lalu sebanyak 134.600 jiwa.

IDI Kabupaten Maluku Tengah menurunkan Tim Dokter dan tenaga medis melakukan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga di tempat pengungsian

Pengungsi gempa Maluku kata Wibowo, terinci terbanyak di Kabupaten Maluku Tengah 90.833 jiwa, disusul Kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB ) 37.787 jiwa dan Kota Ambon 5.980 jiwa pengungsi. Sementara korban meninggal dunia berjumlah 37 jiwa.

“ Adapun jumlah kerusakan rumah akibat goncangan gempa yang tidak berpotensi tsunami itu mencapai 6.344 unit rumah dengan tingkat kerusakan yang berbeda “ Ungkap Agus Wibowo dalam rilis yang diterima tualnews.com.

Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG, Agus Wibowo, mengaku kerusakan rumah penduduk yang berat ada di Kabupaten Malteng yakni 724 unit, SBB 298 dan Kota Ambon 251.

Rumah warga di Negeri Liang, Kabupaten Maluku Tengah yang rusak berat akibat goncangan gempa bumi kamis ( 26/9/2019 ) lalu

“ Untuk kategori rumah rusak sedang, Malteng 1.041 unit, SBB 469 dan Kota Ambon 253, sedangkan rumah rusak ringan ( RR ), Kabupaten Malteng 2.238 unit, Kota Ambon 654 dan SBB 353 unit rumah “ Jelasnya.

Kata dia, pos komando ( posko ) penanganan darurat bencana gempa disetiap wilayah terdampak masih terus dilakukan upaya penanganan darurat dilapangan, bahkan beberapa tantangan masih dihadapi oleh personil yang bertugas di masing – masing kabupaten / kota.

“ Sebaran titik penyintas tidak terfokus pada kelompok – kelompok besar sehingga menyulitkan tenaga personel kesehatan dalam memberikan pelayanan medis “ katanya.

Para pengungsi Kabupaten Malteng yang tinggal di tenda pengungsi di areal hutan pegunungan

Disisi lain kata Agus Wibowo, berbagai kebutuhan personel kesehatan masih sangat dibutuhkan seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker serta tenaga psikososial. Dikatakan, penanganan darurat di sektor kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga memastikan gzi terpenuhi pada kelompok rentan, kesehatan reproduksi, distribusi obat, pencegahan dan pengendalian penyakit.

“ Penanganan juga dilakukan disektor lintas seperti pendidikan, penanganan dan perlindungan penyintas, ekonomi, sarana dan prasarana serta logistik  “ ujarnya.

Hingga senin ( 7/10/2019 ), pukul 03.00 WIT BMKG mencatat lebih dari 1.000 kali gempa susulan terjadi. Hasil identifikasi BMKG, terjadi 1.149 kali gempa susulan, dan 122 diantaranya dirasakan oleh warga. “ dini hari tadi senin, pukul 02.15 WIB, gempa M 3,4 dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa tersebut berada di laut sekitar 24 km timur laut Ambon.

BMKG juga merilis senin siang ( 7/10/2019 ), terjadi lagi gempa susulan pukul 10.21 WIT M4,1 berjarak 12 km di arah selatan Kairatu pada kedalaman 10 km, sehingga masyarakat di Kota Ambon dan Kairatu merasakan dengan skala III MMI.

Kata BMKG, gempa bumi tektonik dengan magnitudo dibawah M 4,1 tidak dapat membangkitkan energi tsunami. ( team tualnews.com )