Dobo, Tualnews.com- sebelah selatan pulau Papua terdapat kepulauan yang hampir belum dikenal, tertutup oleh hutan hujan tropis, dibentangi hutan bakau.
Bahwa di Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku hingga kini terselematkan dari rencana eksploitasi, semuanya berkat Simon Kamsy ( 61 ) dan pergerakannya.
” Saya selama 10 hutan jalan dan hidup di alam, Kabupaten Kepulauan Aru, motivasi anak – anak lewat permen gula – gula, ajak tanam bakau dan pelihara hutan alam untuk masa depan anak cucu, ” Ungkap Aktivis lingkungan, Simon Kamsy yang diwawancarai Tualnews.com via telepon selulernya, Selasa ( 20 / 5 / 2025 ).
Bapak berusia 61 tahun ini sangat mencintai alam dan menyemangati anak muda di bumi Jargaria, Kabupaten Kepulauan Aru dengan sejarahnya tentang perjuangan menyelamatkan hutan.
Diakui hingga saat ini belum ada perusahaan besar yang masuk untuk mengelolah potensi SDA, bahkan merusak hutan dan alam.
Namun dirinya mengaku menangis ketika melihat orang kampung menyewa atau kontrak petuanan hutan alam kepada pengusaha lokal untuk mengambil hasil kayu besi, linggua dll.
” Sangat miris saya lihat orang kampung di Kabupaten Kepulauan Aru, kontrak petuanan hutan alam kepada pengusaha, sebab yang untung pengusaha, sedangkan masyarakat rugi, baru hutan dan alamnya rusak, ” Kesalnya.
Simon merinci, pengusaha lokal menyewa satu buah mesin gergaji kayu ( sensor- red ) dengan satu kubik kayu besi seharga Rp 2 jutaan.
Sedangkan hasil produksi masyarakat yang dijual pengusaha kepada para pembeli dengan harga fantastis yaitu per kubik kayu besi seharga Rp 4 – 5 juta.
” Yang untung pengusaha, masyarakat dirugikan dan jadi korban, baru hutan alam disikat habis, ” Ujarnya.
Kata Simon, perbedaan bumi dan langit kalau pengusaha kontrak petuanan hutan atau lahan milik masyarakat satu bulan dengan satu buah mesin gergaji kayu sebesar Rp 3 juta.
” Bukan pemilik petuanan yang terkena dampak, tapi dampak perubahan iklim untuk katong semua, ” Katanya.

Kata dia, praktek seperti ini sudah berlangsung lama, tapi pemerintah seperti melakukan pembiaran.
” Ini saya juga bingung. Kabupaten Kepulauan Aru 80 % kawasan hutan, sedangkan hutan lindung sedikit saja, nah bagaimana tindakan pemerintah terhadap pelaku yang masuk di kawasan hutan, ” Sorot Simon Kamsy.
Simon mengakui hingga saat ini tidak ada tindakan pemerintah, hanya kalau ada laporan – laporan kena tangkap baru dibawah ke lokasi kerja tersebut.
” Jadi kebanyakan izin di HPL, tapi actifitas penebangan kayu di kawasan hutan, ” Sinisnya.
Menurut Simon, secara logika kalau hanya satu atau dua orang mencintai dan menjaga hutan demi anak cucu, tapi kalau yang melakukan penebangan kayu diatas sepuluh orang pasti berbanding terbalik.
” Satu dua orang kerja selamatkan bumi, tapi banyak orang kejar uang merusak alam, maka kasihan juga. Saya kadang – kadang hati menangis melihat ini, ” Kata Pria asal Desa Namara yang tinggal di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru.
Simon yang mengaku aktivis lingkungan sudah lama dan fokus sejak tahun 2012 hingga saat ini, terus bergerak secara swadaya sendiri, memulai dari hal – hal kecil.
” Katong sebagai aktivis kerja untuk semua orang. Saya tidak melihat uang, tapi bagaimana melihat hutan dan alam untuk lestarikan, demi alam dan anak cucu, dengan cara ke kampung – kampung ajak anak – anak, hanya beli permen gula- gula, katong pergi tanam pohon hutan bakau, kayu besi, linggua dll, ” pungkasnya.
Lewat ajakan dan motivasi Simon Kamsy, saat ini sudah ditanami ratusan pohon buah – buahan, di Desa Tungu, Kabupaten Kepulauan Aru.
” Beta Juga mencoba tanam Arel padang savana / alang – alang, ” Ujarnya.
Untuk diketahui, Kabupaten Kepulauan Aru nampak dari udara bagai sebuah hutan luas.
Sebenarnya di sana terdapat 800 pulau yang dipisahkan oleh selat-selat kecil.
80 persen dari kepulauan Aru masih tertutup baik oleh hutan primer dan bakau.
Ini adalah hal yang luar biasa di Indonesia dan sebuah keberhasilan dari perjuangan panjang masyarakat adat di sana, terutama Simon Kamsy.
Penulis : Neri Rahabav