Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menegaskan bahwa Hari Raya Idul Adha bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat nilai pengorbanan, keikhlasan, dan persatuan di tengah keberagaman.
Ambon, Tualnews.com.— Sekretaris IMM Komisariat KIP Universitas Pattimura, Samil Rahareng, menegaskan makna besar Idul Adha harus dimaknai lebih luas dari sekadar prosesi penyembelihan hewan kurban.
Menurutnya, nilai yang diwariskan dari keteladanan Nabi Ibrahim adalah tentang keikhlasan dalam berkorban dan kemampuan menundukkan ego demi kepentingan yang lebih besar.
“Idul Adha mengajarkan kita bahwa Allah tidak melihat darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hamba-Nya. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi pengingat untuk memperkuat persatuan di tengah perbedaan,” ujar Samil dalam rilis resminya di Ambon, Selasa (26/5).
Ia menilai tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga menjaga solidaritas dan persatuan di tengah beragam pandangan, baik dalam kehidupan sosial maupun dunia akademik.
Menurut Samil, nilai pengorbanan yang diajarkan Idul Adha harus diwujudkan dalam tindakan nyata: saling menghormati, mengedepankan dialog, serta menolak segala bentuk perpecahan yang berpotensi melemahkan kekuatan kolektif mahasiswa.
Di lingkungan Universitas Pattimura, lanjutnya, semangat Idul Adha harus menjadi energi bersama untuk memperkuat kebersamaan lintas organisasi, suku, dan pandangan.
“Persatuan adalah fondasi utama gerakan intelektual dan sosial. Tanpa persatuan, nilai pengorbanan akan kehilangan makna dalam kehidupan bersama,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen mahasiswa menjadikan Idul Adha sebagai ruang evaluasi diri sekaligus penguatan komitmen kebersamaan demi menciptakan lingkungan kampus yang harmonis, inklusif, dan berkeadilan.