Pemuda Adat Papua Suarakan Keadilan Iklim di Panggung Dunia COP30 Brasil

Img 20250707 wa0012

Jakarta, Tualnews.com – Dua pemuda adat dari ujung timur Indonesia, Iqbal Kaplele (25) dari Suku Sobey dan Vanessa Reba (24) dari Suku Saireri, akan menjadi perwakilan suara masyarakat akar rumput dalam forum perubahan iklim paling strategis di dunia — Conference of the Parties (COP30) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan digelar November mendatang di Belém, Brasil.

Keterlibatan mereka bukan sekadar simbol representasi, tetapi bagian dari perjuangan nyata menyuarakan kondisi ekologis tanah kelahiran mereka yang tergerus tambang dan kebijakan pembangunan yang seringkali mengabaikan masyarakat adat.

“Kita harus berhenti berpura-pura bahwa Bumi baik-baik saja. Kami, orang muda, yang paling terdampak krisis iklim, tapi justru paling jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” tegas Iqbal, yang saat ini aktif sebagai pegiat lingkungan dari komunitas Papua Trada Sampah.

Iqbal dan Vanessa tergabung dalam 23 pemuda Indonesia yang ikut menyusun Deklarasi Pemuda Global untuk Keadilan Iklim, sebuah dokumen politik dan moral yang akan dibacakan secara resmi dalam forum COP30.

Img 20250707 wa0011

Deklarasi ini merupakan hasil kolaborasi lebih dari 600 pemuda dunia melalui organisasi Life of Pachamama dari Kolombia.

Narasi dari Tanah yang Luka

Lahir dan besar di wilayah adat Mamta, Iqbal menyaksikan langsung bagaimana hutan dan tanah adat mulai rusak akibat ekspansi tambang. Vanessa, yang berasal dari Suku Saireri dan aktif dalam Gerakan Malamoi, membawa cerita serupa — tentang tanah kaya sumber daya yang perlahan luka, dan keterpinggiran suara pemuda adat dalam forum kebijakan nasional.

“Tantangan terbesar adalah sempitnya ruang partisipasi formal bagi pemuda dalam kebijakan iklim. Forum seperti Musrenbang dan Forum Anak Indonesia belum efektif melibatkan suara kami,” ujar Iqbal.

Vanessa menambahkan, “Saya ingin suara orang muda, terutama dari wilayah terpinggirkan secara geografis dan struktural, benar-benar diakui dalam proses pengambilan keputusan global.”

Tuntutan Nyata, Agenda Konkret

Deklarasi Pemuda Global untuk Keadilan Iklim berisi lima tuntutan utama:

1. Partisipasi bermakna pemuda dalam kebijakan iklim dan lingkungan,

2. Desentralisasi berbasis wilayah,

3. Akuntabilitas korporasi atas kerusakan lingkungan,

4. Perlindungan bagi pembela lingkungan muda, dan

5. Keterbukaan informasi melalui pembentukan observatorium pemuda.

 

Juan David Amaya, Direktur Eksekutif Life of Pachamama, menyebut deklarasi ini sebagai “afirmasi politik dan strategis” atas peran penting pemuda dari Selatan global dalam membentuk arah tata kelola sosial-lingkungan dunia.

Tiga Isu Utama dari Papua ke Brasil

Dalam forum COP30 nanti, Iqbal akan menyuarakan tiga isu utama dari Indonesia:

Hak masyarakat adat,

Deforestasi, dan

Dampak ekspansi pertambangan.

“Kalau kita serius menangani perubahan iklim, RUU Masyarakat Adat harus segera disahkan. Ini solusi iklim yang kritikal,” ujarnya.

Keduanya berharap, partisipasi mereka di COP30 bisa membuka jalan bagi pengakuan lebih luas terhadap masyarakat adat sebagai garda depan perlindungan bumi dan generasi muda sebagai mitra strategis dalam menyelamatkan masa depan planet ini.