MIMIKA, Tualnews.com – Di tengah arus pembangunan yang sering diukur dengan angka dan proyek fisik, Pemerintah Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menghadirkan pesan yang lebih dalam yaitu, pembangunan manusia tidak hanya soal pendidikan dan ekonomi, tetapi juga tentang iman dan karakter.
Buktinya, Kamis, 29 Januari 2026, sebuah Tabernakel, tempat penyimpanan Hosti Kudus dalam tradisi Gereja Katolik, diberangkatkan dari Kampung Nawaripi, Mimika, Provinsi Papua Tengah menuju Gereja Katolik Santa Theresia Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB), Provinsi Maluku.
Pemberangkatan itu dilakukan melalui jalur laut, bersamaan dengan kepulangan siswa-siswi asal Nawaripi yang kembali ke Maluku untuk melanjutkan pendidikan.
Tabernakel tersebut bukan sekadar benda liturgis. Ia adalah simbol, hasil karya Balai Latihan Kerja (BLK) Kampung Nawaripi yang dihibahkan langsung Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun.
Dari tangan masyarakat desa, lahir karya yang melintasi laut dan batas geografis, menuju ruang sakral tempat umat berdoa.
Langkah ini mengandung pesan edukatif yang kuat. Di satu sisi, BLK desa menunjukkan bahwa pelatihan kerja tidak hanya melahirkan tenaga siap pakai, tetapi juga karya bernilai spiritual dan budaya.

Di sisi lain, pemerintah kampung menegaskan perhatian terhadap generasi muda tidak boleh berhenti pada urusan sekolah dan ijazah semata.
Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, kepada media ini, Kamis malam ( 29 / 1 / 2026 ), menegaskan bahwa hibah Tabernakel ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan rohani para pelajar yang merantau.
“Kami ingin siswa-siswi Nawaripi tidak hanya tumbuh sebagai orang pintar, tetapi juga sebagai pribadi yang beriman dan berkarakter,” ujarnya.
Menurut Norman, dalam konteks yang lebih luas, peristiwa ini menyentil paradigma pembangunan desa.
” Selama ini, banyak program desa terjebak pada pembangunan fisik jalan, gedung, dan infrastruktur. Padahal, pembangunan yang berkelanjutan justru bertumpu pada kualitas manusia, pendidikan, moral, dan spiritualitas, ” Tegasnya.
Kata dia, Tabernakel dari Nawaripi menjadi pelajaran sosial yang penting, yakni desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang mampu melahirkan karya, nilai, dan solidaritas lintas daerah.
” Ketika desa berani merawat iman generasi mudanya, di situlah pembangunan menemukan maknanya yang paling hakiki, ” Terangnya.
Pemberangkatan Tabernakel dan siswa-siswi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Papua dan Maluku, bahwa investasi terbesar bukan hanya pada beton dan aspal, tetapi pada manusia yang beriman, berpengetahuan, dan berkarakter.