Riri Satria Siapkan “Ledakan” Intelektual: Empat Buku Sekaligus Bidik Teknologi, Budaya, dan Kegelisahan Zaman

“Tulisan-tulisan itu seperti jejak diri saya di masa lalu. Ada yang masih relevan, ada mentah, bahkan ada yang mengejutkan saya sendiri,” ungkapnya, dalam keterangan tertulisnya via whatsaap kepada Tualnews.com, Jumat (20/3/2026)
“Tulisan-tulisan itu seperti jejak diri saya di masa lalu. Ada yang masih relevan, ada mentah, bahkan ada yang mengejutkan saya sendiri,” ungkapnya, dalam keterangan tertulisnya via whatsaap kepada Tualnews.com, Jumat (20/3/2026),

JAKARTA, Tualnews.com–  Di tengah laju zaman yang kian bising oleh algoritma dan percepatan digital, Riri Satria justru memilih jeda, lalu kembali dengan gebrakan.

Tak tanggung-tanggung, empat buku sekaligus tengah ia siapkan untuk terbit pada Mei 2026: “Bom Waktu”, “Gelombang Algoritma”, “Membingkai Kata-Kata”, dan “Kata, Rupa, dan Warna”. Sebuah proyek ambisius yang tidak hanya menandai produktivitas, tetapi juga memperlihatkan upaya serius membaca ulang arah peradaban.

Riri bukan sekadar penulis. Ia dikenal sebagai Komisaris Utama di salah satu BUMN sekaligus Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM), posisi yang membuatnya berdiri di persimpangan unik antara dunia teknologi, bisnis, dan kebudayaan.

Namun, alih-alih terjebak dalam euforia teknologi, ia justru menuliskan kegelisahan.

“Tulisan-tulisan itu seperti jejak diri saya di masa lalu. Ada yang masih relevan, ada mentah, bahkan ada yang mengejutkan saya sendiri,” ungkapnya, dalam keterangan tertulisnya via whatsaap kepada Tualnews.com, Jumat (20/3/2026),

Dari Keheningan ke Ledakan Gagasan Selepas menerbitkan buku “Login Haramain” pada 2025, yang lahir dari pengalaman spiritual berhaji.

Riri memilih mundur sejenak dari riuh publikasi. Ia memasuki fase yang ia sebut sebagai “tanah yang menunggu musim”.

Namun, keheningan itu ternyata bukan kekosongan. Sejak Oktober 2025, pasca perayaan komunitas Jagat Sastra Milenia, gagasan untuk kembali menulis berubah dari sekadar wacana menjadi komitmen serius.

Ia mulai menyisir ulang arsip digitalnya sejak 2022, memilah, mengelompokkan, dan mempertanyakan ulang tulisannya sendiri.

Dari proses itulah lahir empat wajah pemikiran,

Bom Waktu” — puisi-puisi yang memotret kegelisahan manusia modern.

Gelombang Algoritma” — pembacaan tajam atas arus teknologi dan kecerdasan buatan.

Membingkai Kata-Kata” — refleksi personal tentang proses menulis
“Kata, Rupa, dan Warna”  perenungan lintas budaya dan kemanusiaan.

Keempatnya bukan sekadar buku, melainkan peta kegelisahan.
Puisi sebagai Alarm Zaman
Salah satu karya yang lebih dulu mendapat sorotan adalah “Bom Waktu”.

Penyair Emi Suy menyebut buku ini sebagai semacam “alarm halus” bagi manusia modern.

“Membaca Bom Waktu seperti berdiri di tengah zaman yang bergerak terlalu cepat, lalu seseorang menepuk bahu kita dan berkata: lihatlah lebih pelan,” ujarnya.

Menurutnya, puisi-puisi Riri tidak sekadar berbicara tentang teknologi, tetapi juga menyingkap sisi yang kerap luput: kesunyian, ketimpangan, dan kecemasan eksistensial manusia.

Nada puisinya tenang, namun menyimpan daya ledak reflektif.

Di Antara Lega dan Cemas

Saat ini, keempat naskah masih berada dalam tahap pembacaan dan evaluasi oleh sejumlah penulis dan penyair, sebelum masuk tahap final di bawah penerbit Taresi Books.

Meski tampak matang, Riri mengaku belum sepenuhnya tenang.

“Ini bukan sekadar menulis. Ini tentang mengumpulkan, meragukan, mempercayai, lalu merelakan,” katanya.

Ia juga membuka diri terhadap kritik, sebuah sikap yang jarang terlihat di tengah budaya publikasi instan hari ini.

Menunggu Resonansi Publik

Empat buku ini akan menjadi ujian,  apakah publik masih memiliki ruang untuk merenung di tengah banjir informasi?.

Riri tampaknya tidak mengejar jawaban pasti. Ia hanya berharap karyanya menemukan pembaca dan mungkin, memantik percakapan lebih dalam tentang masa depan manusia di tengah dominasi teknologi.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Mei 2026 akan menjadi momen ketika “bom waktu” itu benar-benar meledak, bukan menghancurkan, tetapi menyadarkan.

Penulis   : Nerius Rahabav