Nabire, Tualnews.com- Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) kembali mengumumkan kabar duka.
Seorang anggotanya, Rubanus Mirip, dilaporkan gugur dalam pertempuran bersenjata di wilayah Nabire pada 16 Maret 2026.
Kabar kematian Rubanus Mirip disampaikan langsung Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB setelah menerima laporan dari komandan lapangan Mayor Aibon Kogoya.
Dalam pernyataan resminya, Jumat malam, 20 Maret 2026, TPNPB bahkan menetapkan status “duka nasional” bagi seluruh jaringan mereka di 36 Komando Daerah Pertahanan se-Tanah Papua.
Rubanus bukan nama baru dalam lingkar konflik bersenjata Papua. Ia disebut sebagai anggota aktif Batalion D Dulla yang kerap terlibat dalam berbagai operasi di wilayah panas seperti Intan Jaya dan Paniai.
TPNPB mengklaim, ia juga terlibat dalam sejumlah aksi perampasan senjata api milik aparat keamanan Indonesia, klaim yang hingga kini sulit diverifikasi secara independen.
Namun yang lebih menyentak, laporan internal TPNPB menyebut jasad Rubanus Mirip sempat tergeletak selama empat hari di sekitar Kali Pepaya, Nabire, dalam kondisi membusuk setelah ditembak mati oleh aparat militer Indonesia.
Tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait kronologi maupun identitas korban.
Keluarga korban, menurut TPNPB, telah menerima kematian tersebut sebagai “gugur dalam perjuangan”.
Tanpa prosesi formal, jasad Rubanus akhirnya dimakamkan langsung di lokasi yang mereka sebut sebagai “medan perang”.
Pengumuman ini kembali menegaskan satu hal, konflik bersenjata di Papua belum mereda, justru terus menelan korban di kedua sisi.
Di tengah minimnya transparansi, publik kembali dihadapkan pada narasi sepihak, antara klaim perjuangan kemerdekaan dan operasi penegakan keamanan negara.
Seruan TPNPB kepada seluruh pasukannya untuk “tetap setia, berani, dan rela berkorban” menjadi sinyal bahwa eskalasi konflik belum akan berhenti.
Pertanyaannya, sampai kapan siklus kekerasan ini terus berulang tanpa jalan keluar yang jelas?.
Penulis : Nerius Rahabav