Merajut Semangat Kartini di Era AI: Dari Pedalaman Papua Hingga Pusat Kebijakan Digital

Ilustrasi gambar Tualnews.com
Ilustrasi gambar Tualnews.com

Jakarta, Tualnews.com — Semangat R.A. Kartini tak lagi sekadar dikenang dalam balutan kebaya dan seremoni tahunan.

Di era kecerdasan buatan (AI), perjuangan itu menemukan wajah baru, di ruang kelas terpencil Papua hingga meja kebijakan pemerintah daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan realitas yang belum sepenuhnya berubah.

Rata-rata lama sekolah perempuan Indonesia pada 2025 masih berada di angka 8,79 tahun.

Bahkan di wilayah seperti Papua Pegunungan, angka itu jatuh drastis menjadi hanya 3,6 tahun.

Ini bukan sekadar statistik, ini potret ketimpangan yang nyata.

Dari Nduga: Melawan Sunyi, Menyalakan Harapan

Di tengah keterbatasan ekstrem, Ory Mangiri memilih bertahan.

Sejak 2010, ia mengabdi sebagai guru di pedalaman Kabupaten Nduga, wilayah tanpa listrik, tanpa internet, dan hanya bisa diakses pesawat kecil.

Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan logistik dan finansial.

Namun tantangan terbesar bukan hanya akses.

Budaya pernikahan dini mengancam masa depan anak-anak perempuan.

Murid kelas tiga SD sudah dipersiapkan menikah. Di titik ini, Ory melampaui perannya sebagai guru, ia menjadi advokat perubahan sosial.

Setiap Minggu, usai ibadah, ia berdiri di hadapan jemaat, menyuarakan pesan yang sama:

“Biarkan anak-anak ini belajar. Masa depan mereka sedang dibangun, ” Pintahnya.

Dua tahun ia mengulang pesan itu, hingga perlahan pola pikir berubah.

“Biarkan anak-anak ini belajar. Masa depan mereka sedang dibangun, ” Pintahnya.
“Biarkan anak-anak ini belajar. Masa depan mereka sedang dibangun, ” Pintahnya.

AI Masuk Kelas: Dari Keraguan Jadi Transformasi

Setelah dipindahkan ke Kenyam, Ory menghadapi tantangan baru,  kualitas pembelajaran yang stagnan dan minimnya pemanfaatan teknologi.

Di sinilah ia mulai bersentuhan dengan program Microsoft Elevate melalui pelatihan “AI for Educators” bersama Biji-biji Initiative.

Awalnya ragu, karena listrik dan internet masih terbatas, Ory akhirnya mencoba.

Hasilnya nyata. Dengan bantuan Microsoft Copilot, ia menyusun rencana pembelajaran lebih sistematis, menciptakan aktivitas belajar kreatif, dan menyederhanakan materi agar lebih mudah dipahami

Dampaknya terasa di kelas, murid lebih aktif bertanya, muncul rasa ingin tahu dan pembelajaran jadi relevan dengan kehidupan nyata.

Tak berhenti di situ, Ory juga “menulari” guru lain, bukan dengan paksaan, tapi dengan contoh.

Pada 2024, ia dianugerahi gelar Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan.

Jika Ory berjuang dari ruang kelas, Sherlita Ratna Dewi Agustin bertarung di level kebijakan.
Jika Ory berjuang dari ruang kelas, Sherlita Ratna Dewi Agustin bertarung di level kebijakan.

Dari Jawa Timur: AI sebagai Senjata Kebijakan Publik

Jika Ory berjuang dari ruang kelas, Sherlita Ratna Dewi Agustin bertarung di level kebijakan.

Sebagai Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, ia menghadapi tantangan berbeda: rendahnya literasi digital ASN dan kesenjangan akses teknologi berbasis gender.

Menurut data, penggunaan internet perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki.

Sherlita tidak tinggal diam. Ia mengikuti program GARUDA AI yang dikembangkan bersama BINAR dan Microsoft.

Di sana, ia mempelajari: Dasar AI, implementasi praktis, etika dan tata kelola teknologi.

Kini, dalam pekerjaannya sehari-hari, ia memanfaatkan AI untuk, analisis data skala besar, penyusunan kebijakan berbasis insight, dan komunikasi publik yang lebih efektif.

Namun ia menegaskan satu hal penting:

“AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia, ” ujarnya.

Transformasi yang Dimulai dari Dalam

Sherlita juga mendorong perubahan di internal pemerintahan.

Sepanjang 2025, lebih dari 1.100 ASN Jawa Timur telah mengikuti pelatihan digital dan AI.

Tujuannya jelas, mengurangi birokrasi lambat, meningkatkan efisiensi layanan publik, mewujudkan pemerintahan berbasis data.

Menurut laporan PwC, adopsi AI di sektor publik bahkan berpotensi, meningkatkan produktivitas, menekan defisit, dan mengurangi pengangguran.

Kartini di Era AI: Bukan Sekadar Simbol

Semangat Kartini hari ini hidup dalam tindakan nyata.

Baik Ory maupun Sherlita menunjukkan bahwa Perempuan bukan hanya penerima manfaat teknologi, tapi juga penggerak perubahan.

Dalam peringatan Hari Kartini, tokoh seperti Veronica Tan menegaskan pentingnya akses dan keadilan.

Sementara itu, pemimpin daerah seperti Sherly Tjoanda menyoroti pentingnya pelatihan AI yang inklusif untuk meningkatkan daya saing.

Di era AI, perjuangan Kartini berevolusi. Bukan lagi sekadar akses pendidikan, tetapi akses teknologi, literasi digital, dan Kesempatan memimpin.

Dari pedalaman Papua hingga ruang kebijakan pemerintah, satu benang merah terlihat jelas:

Perubahan tidak selalu dimulai dari sistem besar, kadang cukup dari satu guru, satu kelas, atau satu keputusan berani.

Dan seperti kata Ory:

“Perubahan bisa dimulai dari satu sekolah. Dari sana, ia akan menyebar.”

Penulis  : Nerius Rahabav