Jakarta, Tualnews.com — Di tengah meningkatnya tantangan intoleransi dan polarisasi sosial di Indonesia, sebanyak 350 pemuda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan dijadwalkan berkumpul dalam ajang Jambore dan Seminar Nasional Lintas Agama yang akan digelar pada 9–14 Juli 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta.
Mengusung tema “Berbeda Tetap Sama, Berdaya Membangun Bangsa”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan strategis bagi generasi muda lintas iman untuk memperkuat solidaritas, membangun dialog, dan merancang aksi nyata dalam menjaga keutuhan bangsa.
Ketua panitia penyelenggara pelaksana Jamore dan Seminar Nasional Lintas Agama, Cosmas Refra, S.H, M.H, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tualnews.com, Minggu 3 Mei 2026, menilai, Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi tantangan pembangunan, tetapi juga ujian serius dalam merawat harmoni sosial.

Refra mengakui, ujaran kebencian berbasis agama, minimnya ruang dialog antarumat, hingga menguatnya polarisasi dinilai berpotensi menggerus nilai-nilai persatuan.
“Banyak yang berbicara soal toleransi, tetapi tidak semua hadir untuk merawatnya bersama. Jambore ini ingin menjembatani itu, dari sekadar wacana menjadi aksi nyata,” Terangnya.
Dikatakan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada diskusi, tetapi juga menekankan pentingnya kolaborasi konkret.
” Para peserta akan terlibat dalam berbagai agenda seperti dialog lintas agama, seminar kebangsaan, hingga aksi sosial dan kepedulian lingkungan, ” Jelasnya.
Ketua Panitia menegaskan generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga masa depan bangsa. Dalam konteks keberagaman Indonesia, mereka dituntut untuk menjadi perekat, bukan pemicu perpecahan.
“Perbedaan bukan ancaman. Justru di situlah kekuatan kita. Ketika semua pihak berkontribusi dengan nilai terbaiknya, maka Indonesia akan berdiri lebih kokoh,” lanjutnya.
Selain mempererat persaudaraan lintas iman, kata Refra yang juga seorang Advokat, aktifis mahasiswa, PMKRI dan Pemuda Katolik, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus mendorong lahirnya gerakan kolaboratif di bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan ekologi.
Panitia berharap kegiatan ini mendapat dukungan luas dari pemerintah, lembaga swasta, serta masyarakat, mengingat pentingnya upaya kolektif dalam menjaga persatuan nasional di tengah keberagaman yang ada.
Refra berharap, jika berjalan sesuai rencana, Jambore ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga melahirkan jaringan kuat pemuda lintas iman yang mampu menjadi motor penggerak toleransi di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini juga didukung Yayasan Generasi Baru Bahana Indonesia ( Gebbana ).