Tanah Kei Menangis Dalam Dada Kita
Di tanah ini,
laut bersujud kepada karang,
angin membawa nyanyian leluhur,
tapi mengapa tangan-tanganmu
memukul darah sendiri ?
Bukankah kita anak batu bertuah,
yang dilahirkan dari adat yang menjunjung langit ?
Bukankah nenek moyang kita
menanam sumpah
di bawah akar suci
agar kita saling jaga, bukan saling luka ?
Aku malu pada burung-burung pagi
yang terbang tanpa dendam,
aku malu pada ombak
yang selalu kembali meski dipukul pantai.
Saudaraku—
jangan bakar rumah karena nyamuk,
jangan wariskan bara kepada anak-anak
yang ingin belajar damai.
Adat itu pelita, bukan parang.
Leluhur itu pelindung, bukan dalih.
Tanah Kei itu ibu,
dan kita sedang menampar wajahnya
dengan amarah yang dibeli murah.
Mari pulang.
Pulang ke hati yang basah oleh maaf.
Pulang ke pelukan negeri
yang lelah menanggung tangis
dari luka yang kita ciptakan sendiri.
@Gaila (tual, 17/05/2025)