Rahantan Dorong Pulau Walir Tayando Jadi Sentra Hilirisasi Kelapa Kota Tual

Tual, Maluku, Tualnews.com – Dorongan agar Pulau Walir di gugusan Tayando, Kota Tual, menjadi kawasan strategis hilirisasi kelapa semakin menguat.

Potensi kelapa yang melimpah di wilayah ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk peningkatan ekonomi masyarakat lokal maupun sebagai komoditas ekspor unggulan.

Selama ini, masyarakat di Kecamatan Tayando Tam umumnya hanya menjual kelapa dalam bentuk kopra mentah.

Harga yang fluktuatif dan ketergantungan pada tengkulak membuat pendapatan petani tidak stabil dan cenderung rendah.

Pulau Walir dikenal sebagai salah satu sentra kelapa yang konsisten dalam produktivitas.

Menurut Adam R. Rahantan, tokoh muda asal Tayando yang juga Koordinator Daerah BEM Nusantara Maluku, berbagai produk turunan kelapa seperti minyak kelapa, arang tempurung briket, hingga batok kelapa untuk industri kerajinan memiliki potensi ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik.

“Ini potensi luar biasa. Kita tidak bicara potensi mentah, tapi bagaimana memanfaatkannya agar masyarakat bisa langsung merasakan manfaatnya. Sayangnya, hingga kini belum ada infrastruktur memadai untuk pengolahan kelapa di Pulau Walir,” ujar Rahantan, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini.

Negara Harus Hadir Wujudkan Hilirisasi

Rahantan menegaskan, negara harus hadir secara nyata untuk mewujudkan hilirisasi kelapa di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), termasuk Tayando.

Ia menyebut visi pembangunan nasional yang menjanjikan pembangunan dari pinggiran harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan konkret dan pengadaan sarana produksi.

“Minyak kelapa dari Walir bisa diekspor, arang briket bisa dijual, bahkan batok kelapa pun punya nilai jual tinggi. Tapi itu semua hanya akan jadi mimpi kalau negara tidak turun tangan dengan serius,” tegasnya.

Rahantan menyebutkan kebutuhan Mendesak Hilirisasi Kelapa :

1. Pendirian rumah produksi atau workshop pengolahan kelapa.

2. Penyediaan mesin pengolah minyak kelapa, alat pembakaran arang, dan alat pengepakan.

3. Pelatihan teknis dan manajemen usaha kecil bagi masyarakat lokal.

4. Koneksi ke pasar nasional dan internasional serta pendampingan UMKM.

5. Akses modal dan pembentukan koperasi produksi berbasis petani.

Rahantan juga mendorong Pemerintah Kota Tual agar mengambil peran aktif sebagai fasilitator utama, serta menjalin kemitraan dengan kementerian teknis dan lembaga pendukung pusat.

“Pemerintah Kota Tual harus memimpin gerakan ini. Sekarang tinggal bagaimana Pemda hadir sebagai penghubung ke lembaga-lembaga nasional. Masyarakat tidak bisa lagi hanya menjual kopra, sudah waktunya naik kelas menjadi pengolah dan eksportir,” tandasnya.

Manfaat Ekonomi dan PAD untuk Daerah

Jika hilirisasi berjalan, menurut Rahantan, tidak hanya pendapatan masyarakat yang akan meningkat, tetapi juga Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tual akan terdongkrak.

“Kalau hilirisasi jalan, PAD bisa naik. Tidak hanya dari pusat kota, tapi juga dari pulau-pulau. Ini bukan mimpi. Ini bisa terjadi kalau semua pihak serius,” ujarnya optimistis.

Keadilan Pembangunan bagi Wilayah Pesisir

Dorongan menjadikan Pulau Walir sebagai sentra hilirisasi kelapa disebut Rahantan sebagai bentuk nyata perjuangan masyarakat pesisir untuk keluar dari ketertinggalan.

Dengan dukungan pemerintah pusat, sinergi pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, Tayando diyakini bisa menjadi contoh sukses pembangunan berbasis komoditas lokal di Indonesia Timur.

“Petani sudah terlalu lama jual kopra murah. Saatnya kita bangun rumah produksi. Jadikan Pulau Walir sebagai pusat kelapa bernilai tinggi. Rakyat sejahtera, daerah untung, negara kuat,” pungkas Rahantan.