Maluku Tenggara, Tualnews.com — Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Sosial bergerak cepat merespons konflik berdarah di Ohoi Danar Ternate, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara.
Namun di balik distribusi bantuan, ratusan warga masih menghadapi realitas pahit, kehilangan rumah, trauma, dan ketidakpastian masa depan.
Konflik yang pecah Kamis malam, 26 Maret 2026, sekitar pukul 22.00 WIT itu meninggalkan jejak kehancuran serius.
Satu orang tewas, lima lainnya luka-luka, 74 rumah hangus terbakar, dan sekitar 450 jiwa terpaksa mengungsi.
Insiden dipicu cekcok antar kelompok pemuda yang berujung eskalasi kekerasan.
Saat ini, aparat TNI dan Polri telah mengendalikan situasi. Wilayah dinyatakan kondusif, tetapi ketegangan sosial belum sepenuhnya pulih.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang turun langsung ke lokasi pada 29 Maret lalu, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus peringatan keras agar masyarakat tidak terjebak provokasi.
“Konflik ini mencederai kedamaian kita bersama. Jangan mudah terhasut. Yang kita butuhkan sekarang adalah rekonsiliasi,” tegasnya.
Di lapangan, Dinas Sosial Provinsi Maluku mengklaim telah menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Kepala Dinsos, Raden Affandy Z. Hassannusi, menyebut bantuan mencakup makanan siap saji, perlengkapan anak, tenda, kasur, selimut, hingga seragam sekolah.
Nilai total bantuan mencapai Rp 361 juta.
Namun bantuan logistik hanya menjadi solusi jangka pendek.
Sejumlah pengungsi mengaku masih dihantui kekhawatiran, terutama terkait tempat tinggal permanen dan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.
“Yang kami butuhkan sekarang bukan hanya makan, tapi kepastian hidup ke depan,” ujar salah satu warga terdampak.
Upaya rekonsiliasi kini menjadi pekerjaan rumah terbesar.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan, tokoh adat, dan tokoh masyarakat terus berupaya menjembatani konflik sosial yang telah meretakkan hubungan antarwarga.
Nilai-nilai lokal seperti, Ain Ni Ain ( katong semua satu ‘- red ), digaungkan sebagai fondasi perdamaian.
Namun pertanyaannya, apakah kearifan lokal itu cukup kuat menahan potensi konflik serupa di masa depan?.
Peristiwa Ohoi Danar menjadi alarm keras, konflik kecil yang dibiarkan bisa berubah menjadi bencana sosial besar. Dan ketika api sudah membakar puluhan rumah, yang tersisa bukan hanya abu, tetapi luka sosial yang butuh waktu panjang untuk pulih.
Penulis : Nerius Rahabav