Lemahnya Rupiah Sebagai Pemicu Utama Kenaikan Harga BBM “Pertamax”
Oleh : Samil Rahareng
Kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang terjadi barusan saja, ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.
Di balik penyesuaian harga dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter per 10 Juni 2026, terdapat tekanan mendasar yang bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Sebagai negara yang sejak tahun 2004 menjadi importir bersih minyak bumi, Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari dampak pergerakan mata uang global dan data statistik memperjelas keterkaitan tersebut.
A. Fakta Statistik
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bank Indonesia, dan kajian Institut Energi dan Sumber Daya (IESR), gambaran ketergantungan dan tekanan biaya terlihat sangat nyata.
a. Tingkat ketergantungan impor.
Lebih dari 55% kebutuhan minyak nasional masih harus didatangkan dari luar negeri, dengan total kebutuhan mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 650 ribu barel.
Seluruh transaksi pembelian minyak mentah, bahan bakar jadi, maupun aditif peningkat kualitas Pertamax menggunakan mata uang dolar AS.
b. Pergerakan nilai tukar
Jika pada awal tahun 2026 rupiah masih berada di kisaran Rp 16.300 per dolar AS, maka pada Mei Juni 2026 nilainya terus merosot hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
Artinya, rupiah terdepresiasi sekitar 10 sampai 11% dalam waktu kurang dari enam bulan.
Bahkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 di mana kurs berada di Rp 15.400, pelemahan mencapai hampir 17%.
c.Asumsi APBN yang meleset.
Pemerintah semula memperhitungkan kurs Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak US$ 85 per barel dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026.
Namun kenyataannya, nilai tukar bergerak jauh di atas perkiraan tersebut.
Berdasarkan hitungan Direktorat Jenderal Anggaran, setiap kenaikan Rp 100 per dolar AS diperkirakan menambah beban biaya impor energi sebesar Rp 2,4 triliun per bulan.
d. Dampak langsung pada harga.
Menurut kajian IESR per Mei 2026, harga keekonomian Pertamax sebenarnya telah menyentuh angka Rp 17.000 – Rp 18.000 per liter akibat kombinasi harga minyak dunia yang mencapai US$95–US$105 per barel dan pelemahan rupiah.
Kenaikan yang terjadi hingga Rp16.250 per liter baru mencerminkan sekitar 75–80% dari tekanan biaya yang sebenarnya, di mana Pertamina masih menyerap sebagian beban agar tidak melonjak terlalu tajam.
e. Perbandingan kontribusi faktor.
Analisis Bank Indonesia menunjukkan bahwa dari total kenaikan biaya penyediaan Pertamax sebesar 32% sejak awal tahun 2026, sekitar 62% disebabkan oleh pelemahan rupiah, sedangkan kenaikan harga minyak dunia hanya berkontribusi sekitar 38%. Ini membuktikan bahwa nilai tukar memiliki pengaruh yang lebih dominan.
B. Mekanisme Perambatan Dampak
Pertamax sebagai BBM non-subsidi sepenuhnya mengikuti prinsip harga pasar, sehingga perubahan biaya pengadaan langsung tercermin dalam harga jual.
a. Biaya pembelian minyak mentah dan bahan penambah kualitas yang semuanya berdenominasi dolar langsung membengkak ketika rupiah melemah.
b. Biaya pengolahan di kilang juga terpengaruh karena sebagian besar peralatan, suku cadang, dan teknologi masih bergantung pada impor.
c. Biaya distribusi dan logistik juga ikut meningkat karena transportasi laut dan darat juga menggunakan komponen berharga dolar
d. Ketika beban ini terus bertambah tanpa penyesuaian harga, maka akan menggerus kesehatan keuangan Badan Usaha Milik Negara, sehingga akhirnya harus diteruskan ke konsumen
C. Dampak Sosial-Ekonomi yang Terasa Lebih Luas
Kenaikan harga Pertamax yang dipicu lemahnya rupiah membawa dampak berantai yang tidak hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi
a. Beban pengeluaran rumah tangga menengah ke atas meningkat rata-rata 4–6%, sedangkan bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang menggunakan Pertamax untuk kendaraan operasional atau mesin produksi, biaya operasional naik sekitar 7–10%
b. Tekanan inflasi secara keseluruhan bertambah; Bank Indonesia mencatat bahwa setiap kenaikan 10% harga BBM non-subsidi dapat menaikkan inflasi sebesar 0,3–0,4% dalam jangka pendek
c. Penurunan daya beli masyarakat secara umum, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,1–0,2% jika tidak disertai kebijakan penyangga yang tepat
D. Tantangan Jangka Panjang dan Implikasi Kebijakan
Selain dampak langsung, kondisi ini juga mengungkap tantangan struktural yang dihadapi Indonesia
a. Ketergantungan energi yang tinggi
Data menunjukkan bahwa nilai impor minyak dan gas pada tahun 2025 mencapai US$32,7 miliar, atau sekitar 12% dari total nilai impor nasional. Ini menjadi salah satu penyebab utama defisit neraca perdagangan yang turut memperlemah rupiah secara berkelanjutan.
b.Kurangnya substitusi energi
Hingga saat ini, pangsa energi terbarukan dalam bauran energi nasional baru mencapai sekitar 12%, sehingga ketika harga minyak berfluktuasi dan rupiah melemah, tidak ada alternatif yang cukup besar untuk meredam tekanan harga.
c.Perlunya langkah terpadu
Menstabilkan rupiah tidak cukup hanya melalui intervensi moneter. Diperlukan upaya meningkatkan ekspor, mengurangi impor yang tidak strategis, mempercepat pengembangan kilang dalam negeri, dan memperluas penggunaan energi terbarukan agar tekanan pada nilai tukar dan harga energi dapat dikurangi secara bertahap.
E. Kesimpulan
Data statistik dan analisis mekanisme ekonomi memperkuat pendapat bahwa lemahnya nilai tukar rupiah merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan harga Pertamax. Selama Indonesia masih bergantung pada impor energi dalam jumlah besar, stabilitas rupiah akan selalu menjadi penentu utama harga bahan bakar di dalam negeri. Oleh karena itu, memperkuat fundamental ekonomi, menekan ketergantungan impor, dan mempercepat transisi energi menjadi langkah strategis yang harus diambil secara berkelanjutan agar tekanan kenaikan harga tidak terus membebani masyarakat dan perekonomian nasional.
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pattimura Ambon “Sekom IMM KIP UNPATTI”