Langgur, Maluku Tenggara, Tualnews.com – Tepi pantai Ohoidertawun berubah menjadi panggung budaya terbuka pada Sabtu malam (18/7/2026).
Di bawah langit Kei yang perlahan diselimuti gelap, denting gong, hentakan tifa, tiupan suling bambu, petikan ukulele, nyanyian, serta debur ombak berpadu menghadirkan pengalaman budaya yang autentik dalam gelaran Malam Budaya Evav yang diselenggarakan Manoa Kei Boutique Villas.
Berdasarkan Rilis Pers yang diterima dari Manoa Kei, Senin ( 20 / 7 / 2026 ), menyebutkan sekitar 30 seniman dari Sanggar Eltun Jaya Ohoi Revav bersama kelompok musik Djuuk & Vuut dari Warbal tampil menyuguhkan kekayaan budaya Kepulauan Kei dalam sebuah pertunjukan tanpa sekat antara seniman dan penonton.
Acara dibuka secara adat oleh Patti Ohoidertawun yang menyampaikan doa dan sambutan dalam bahasa Evav.

Setelah itu, bunyi tifa pertama menggema, seolah menjawab suara ombak yang bergulung di pesisir.
Sorotan utama malam tersebut adalah penampilan tujuh irama tifa khas Kei yang masing-masing memiliki makna dan fungsi berbeda dalam kehidupan masyarakat.
Irama Tifa Nam, Tifa Wahai, dan Tifa Sawat Yabun dimainkan sebagai simbol penghormatan, sedangkan Tifa Elltuun, Tifa Varsokat, dan Tifa Tabel menjadi irama penyambutan tamu.
Sementara Tifa Silat mengiringi seni bela diri tradisional yang memadukan gerakan, kewaspadaan, dan kekuatan ritmis.
Bagi masyarakat Kei, tujuh irama tersebut bukan sekadar musik, melainkan bahasa budaya yang diwariskan turun-temurun.
Setiap ketukan tifa mengandung pesan penghormatan, persaudaraan, penyambutan, hingga perlindungan terhadap komunitas.
Nama Eltun sendiri berasal dari bunyi ombak yang menghantam tanjung saat angin timur berembus.
Makna itu terasa hidup ketika dentuman tifa bersatu dengan suara laut, langkah para penari di atas pasir, serta gemuruh gong yang memenuhi malam.

Suasana mencapai puncaknya ketika sejumlah pria berjalan memasuki laut sambil membawa obor.
Satu per satu api dinyalakan di hamparan meti Ohoidertawun, pasir terluas yang muncul ketika air laut surut di Kei Kecil.
Cahaya api memantul di permukaan air dangkal, menciptakan panorama dramatis yang memadukan alam dan tradisi.
Malam budaya kemudian berlanjut dengan penampilan Djuuk & Vuut dari Warbal.
Melalui petikan ukulele dan lagu-lagu pesisir, mereka menghadirkan kisah kehidupan masyarakat pulau yang lekat dengan tradisi melaut, menangkap ikan, dan berlayar.
Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah hilangnya batas antara penampil dan penonton.

Para tamu diajak duduk bersama para seniman, belajar memainkan tifa, ikut menari, hingga larut dalam irama budaya Kei.
Kehangatan juga hadir melalui sajian kuliner tradisional yang disiapkan bersama tim Manoa dan para pelajar magang sekolah pariwisata di Bombay.
Berbagai umbi lokal seperti kasbi dan kumbili dimasak dalam bambu, dipadukan dengan sir-sir, rumput laut lat-lat, serta ikan bubara segar dari Ohoidertom.
Seluruh hidangan disajikan menggunakan kamdada, wadah anyaman daun kelapa muda khas Kei.
Di balik suksesnya acara tersebut berdiri tim lintas pulau yang berasal dari Kelanit, Ohoinol, Bombay, Kei Besar, Selayar, Warbal, Kaswui, hingga Aru.
Mereka bergotong royong menyiapkan dekorasi, kuliner, penyambutan tamu, hingga pemasangan obor yang memperkuat nuansa budaya sepanjang malam.
Ketika seluruh rangkaian pertunjukan adat usai, suasana berubah menjadi lebih santai.
Musik cha-cha mengalun dan seluruh tamu, seniman, serta tim Manoa menari bersama tanpa memandang peran masing-masing.
Penampilan penutup datang dari Maria Raharusun, perempuan asal Dullah, Kota Tual yang kini menetap di Prancis.
Ia membawakan lagu legendaris karya Édith Piaf dalam bahasa Prancis.
Lagu tersebut menjadi simbol indah pertemuan budaya lokal dengan dunia internasional, sekaligus menutup malam yang penuh kehangatan.
Manoa menegaskan pengalaman budaya seperti ini tidak berhenti pada satu malam.
Wisatawan dapat mengunjungi Ohoi Revav untuk melihat langsung proses pembuatan tifa dan suling oleh para perajin, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warbal untuk mengenal pembuatan ukulele, tradisi pelayaran, serta kehidupan nelayan setempat.
Melalui kegiatan tersebut, Manoa ingin memperkenalkan wajah lain Kepulauan Kei yang tidak hanya dikenal karena pasir putih dan laut biru kehijauan, tetapi juga karena kekayaan bahasa, musik, seni, cerita, dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.
Bagi Manoa, keindahan Kei bukan hanya untuk dipotret, melainkan untuk didengar, dirasakan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
