Manifesto Kepemudaan Maluku Tenggara

Manifesto Kepemudaan Maluku Tenggara

Oleh :  Fikry Rahayaan

Di bumi Larvul Ngabal, pemuda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi penjaga harmoni masyarakat.

Sejak dahulu, masyarakat Kei membangun kehidupan bersama (living together) di atas fondasi nilai-nilai Larvul Ngabal yang menempatkan martabat manusia, persaudaraan, dan keadilan sebagai landasan utama kehidupan sosial.

Dalam falsafah Ain ni Ain, orang Kei diajarkan bahwa sesama manusia bukanlah orang lain, tapi bagian dari diri itu sendiri.

Oleh karenanya, ketika satu orang terluka, seluruh komunitas ikut merasakan luka tersebut.

Sebaliknya, ketika seseorang berhasil, keberhasilannya menjadi kebanggaan bersama.

Namun, realitas sosial Maluku Tenggara, galibnya di Kepulauan Kei dewasa ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur tersebut tengah menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.

Dalam beberapa bulan terakhir, misalnya, masyarakat Kei dihadapkan pada sejumlah konflik sosial yang muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari konflik antarkampung, perselisihan batas wilayah adat dan tanah ulayat, ketegangan antar-kelompok pemuda, sengketa sumber daya alam (natural resources), hingga pertikaian yang dipicu oleh informasi yang tidak terverifikasi dan penyebaran provokasi melalui media sosial.

Beberapa peristiwa konflik yang terjadi di sejumlah wilayah Kepulauan Kei telah menunjukkan betapa rapuhnya kohesi sosial ketika ruang dialog dan mekanisme penyelesaian masalah tidak berjalan secara optimal.

Di era digital saat ini, konflik bahkan dapat berkembang lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Sebuah informasi yang belum tentu benar dapat menyebar dalam hitungan menit dan memicu kesalahpahaman yang berujung pada ketegangan sosial.

Perubahan sosial yang berlangsung cepat, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), meningkatnya kompetisi ekonomi, serta menguatnya sentimen kelompok tertentu menjadi tantangan baru yang tidak pernah dihadapi oleh generasi-generasi sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton yang menyaksikan konflik terjadi dari kejauhan. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi.

Oleh sebab itu, menjadi pemuda Kei hari ini bukan sekadar soal usia atau semangat yang menggelora.

Menjadi pemuda Kei justru memikul tanggung jawab moral dan kultural untuk menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, dan memastikan bahwa setiap perbedaan pandangan, kepentingan, maupun identitas tidak berkembang menjadi sumber perpecahan.

Pemuda harus hadir sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan, sebagai ruang dialog yang menenangkan ketegangan, dan sebagai kekuatan sosial yang mampu mengubah konflik menjadi kolaborasi.

Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari jumlah jalan yang dibangun, gedung yang didirikan, atau investasi yang masuk.

Kemajuan yang sesungguhnya juga ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya menjaga kepercayaan sosial, membangun solidaritas, serta memelihara rasa saling memiliki terhadap daerah dan sesama warga.

Tanpa persatuan, pembangunan akan kehilangan fondasinya. Tanpa kedamaian, kemajuan akan selalu berada dalam ancaman.

Berdasarkan alas pikir tersebut di atas, maka Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Maluku Tenggara ke depan harus tampil lebih dari sekadar organisasi kepemudaan.

KNPI harus menjadi rumah bersama bagi seluruh pemuda Kei, tanpa memandang perbedaan kampung, agama, organisasi, latar belakang sosial, maupun afiliasi politik.

KNPI harus menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan gagasan-gagasan terbaik generasi muda, menjadi ruang rekonsiliasi yang mampu menjembatani perbedaan, serta menjadi laboratorium sosial yang melahirkan berbagai inovasi untuk menjawab persoalan masyarakat.

Dalam konteks itulah, kepemimpinan Fikri Tamher menjadi relevan untuk mendorong lahirnya gerakan kepemudaan yang lebih responsif, inklusif, dan bertanggung jawab.

Sebuah gerakan yang tidak hanya hadir ketika momentum politik tiba, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, mediasi, edukasi, dan solusi.

Gerakan yang mampu menghidupkan kembali semangat Ain ni Ain sebagai etika sosial yang relevan bagi generasi muda masa kini.

Tersebab kepemimpinan pemuda bukanlah tentang siapa yang paling keras berbicara atau paling kuat menunjukkan pengaruhnya.

Kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mendengar suara masyarakat, merangkul perbedaan, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, dan menggerakkan energi kolektif untuk kebaikan bersama.

Seorang pemimpin muda harus mampu menjadi teladan dalam dialog, menjadi pelopor dalam rekonsiliasi, dan menjadi penggerak dalam pembangunan.

Saatnya pemuda Maluku Tenggara mengambil peran sebagai agen-agen perdamaian (agents of peace), pelopor pembangunan, dan penjaga nilai-nilai luhur Larvul Ngabal.

Saatnya generasi muda berdiri di garis depan untuk meredam konflik, memperkuat persaudaraan, dan membangun ruang-ruang kolaborasi yang produktif bagi masa depan daerah.

Dengan semangat persatuan, kreativitas, dan pengabdian, mari menjadikan KNPI sebagai wadah yang mampu menghubungkan cita-cita pemuda dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Karena ketika pemuda bergerak dengan kesadaran, tanggung jawab, dan semangat Ain ni Ain, maka Maluku Tenggara tidak hanya akan menjadi daerah yang maju secara pembangunan, tetapi juga kuat dalam kebudayaan, kokoh dalam persaudaraan, damai dalam kehidupan sosial, dan bermartabat dalam perjalanan masa depannya.

Pemuda yang menjaga persaudaraan adalah pemuda yang menjaga masa depan.

Dari semangat Ain ni Ain, kita bangun Maluku Tenggara yang damai, inklusif, maju, dan bermartabat.

Tabe hormat.

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Mahasiswa Evav Jakarta-Jawa Barat)