Reboisasi di Desa Tungu Jadi Contoh Pelestarian Hutan Berbasis Masyarakat di Kepulauan Aru

Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru, Simon Kamsy, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa 30 Juni 2026, menyebutkan dalam pelaksanaannya, berbagai jenis tanaman ditanam, baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif.
Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru, Simon Kamsy, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa 30 Juni 2026, menyebutkan dalam pelaksanaannya, berbagai jenis tanaman ditanam, baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif.

Kepulauan Aru, Tualnews.com – Lembaga Rettet den Regenwald bekerja sama dengan Kelompok Pemerhati Lingkungan Hidup Urai Uni terus melaksanakan program reboisasi di Desa Tungu, Kabupaten Kepulauan Aru, sejak tahun 2024 hingga 2026.

Program penghijauan tersebut secara resmi dibuka Kepala Desa Tungu, Menase Mukudjey, dan dilaksanakan di atas lahan milik masyarakat yang sebelumnya berupa lahan tidur dan kawasan ilalang yang tidak lagi dimanfaatkan secara produktif.

Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru, Simon Kamsy, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa 30 Juni 2026, menyebutkan dalam pelaksanaannya, berbagai jenis tanaman ditanam, baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif.

” Selama periode 2025–2026, tim berhasil menanam 1.012 pohon linggua, 200 pohon kayu besi Maluku, 400 pohon kelapa, 118 pohon mangga dan rambutan, serta 350 pohon pisang sebagai tanaman penyangga ketahanan pangan masyarakat, ” Ungkapnya.

Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru, Simon Kamsy, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa 30 Juni 2026, menyebutkan dalam pelaksanaannya, berbagai jenis tanaman ditanam, baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif.
Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru, Simon Kamsy, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa 30 Juni 2026, menyebutkan dalam pelaksanaannya, berbagai jenis tanaman ditanam, baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif.

Kata Simon, program ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu mengembalikan fungsi hutan dan lahan yang telah rusak, mengedukasi masyarakat agar semakin peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan, serta menjaga fungsi resapan air demi keberlanjutan sumber daya alam di wilayah tersebut.

Diakui meski demikian, pelaksanaan reboisasi tidak lepas dari berbagai tantangan.

” Cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama. Selain itu, kawasan ilalang sangat rentan terbakar saat musim kemarau,” Ujarnya.

Sementara kata dia, sebagian tanaman yang ditanam di area terbuka mengalami pertumbuhan kurang optimal akibat paparan sinar matahari secara langsung.

” Sebaliknya, tanaman yang ditanam di bekas kebun atau lahan yang masih memiliki vegetasi tumbuh lebih subur dan berkembang dengan baik, ” Katanya.

Melalui program ini, Rettet den Regenwald bersama Kelompok Pemerhati Lingkungan Hidup Urai Uni berharap reboisasi di Desa Tungu dapat menjadi contoh bagi masyarakat di seluruh Kepulauan Aru.

Di tengah semakin berkurangnya tutupan hutan, keterlibatan masyarakat sebagai pemilik lahan diharapkan mampu menjamin keberlanjutan kawasan yang direhabilitasi sehingga kelak menjadi hutan rakyat yang memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial bagi generasi mendatang.

Simon mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga tanaman yang telah ditanam agar upaya pemulihan lingkungan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Tungu dan Kepulauan Aru secara keseluruhan.