Gelar Kelas Bahasa Inggris, Mahasiswa KKN-PPM UGM Bangun Kepercayaan Diri Anak-Anak Ohoi Elaar Berani Berbicara

Keterbatasan akses pembelajaran Bahasa Inggris di daerah terpencil tidak menyurutkan semangat anak-anak Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, untuk belajar.
Keterbatasan akses pembelajaran Bahasa Inggris di daerah terpencil tidak menyurutkan semangat anak-anak Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, untuk belajar.

Maluku Tenggara, Tualnews.com  – Keterbatasan akses pembelajaran Bahasa Inggris di daerah terpencil tidak menyurutkan semangat anak-anak Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, untuk belajar.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil 2026 menghadirkan program “English Talk and Share: Belajar Bicara Bahasa Inggris“, sebuah kelas yang tidak hanya mengajarkan kosakata, tetapi juga menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri generasi muda dalam berkomunikasi.

Program yang berlangsung pada 5–14 Juli 2026 ini merupakan salah satu program unggulan KKN-PPM UGM.

Pelaksanaannya semakin kuat melalui kolaborasi bersama Dewan Gereja serta Pengurus Sekolah Minggu Ohoi Elaar Lamagorang yang memiliki kepedulian serupa terhadap peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di desa tersebut.

Penanggung jawab program, Ardhanamesvari Nuringtyas Aji (Vari), mahasiswi Program Studi Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, menjelaskan pembelajaran difokuskan pada kemampuan berbicara (speaking skill).

Menurutnya, keberanian menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari jauh lebih penting sebagai fondasi awal sebelum mempelajari materi yang lebih kompleks.

“Harapan kami adalah membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar mengenai kosakata dan ungkapan sederhana sehingga mereka memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk berbicara dalam Bahasa Inggris,” ujar Vari.

Selama empat kali pertemuan yang digelar setiap Selasa dan Minggu di Gedung Sumber Kasih, sekitar 30 hingga 40 peserta berusia 9–15 tahun mengikuti pembelajaran dengan penuh antusias.

Kata Vari, berbagai metode interaktif diterapkan, mulai dari praktik pengucapan, permainan edukatif, dialog sederhana, hingga latihan berbicara secara langsung agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Diakui, program ini lahir dari kenyataan bahwa anak-anak di Ohoi Elaar Lamagorang memiliki semangat belajar yang tinggi, sementara akses terhadap pendidikan Bahasa Inggris masih sangat terbatas.

” Di tingkat sekolah dasar, mata pelajaran Bahasa Inggris belum tersedia secara formal, ditambah minimnya tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut, ” Katanya.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Vari mengakui setelah mengikuti empat kali pembelajaran, para peserta telah mampu memperkenalkan diri, keluarga, dan teman dalam Bahasa Inggris.

” Mereka juga menguasai berbagai kosakata mengenai hobi, warna, buah-buahan, emosi, tempat, hingga mampu menyusun kalimat sederhana tentang aktivitas sehari-hari, ” ujarnya.

Perubahan tersebut bahkan tampak di luar ruang kelas. Anak-anak kini terbiasa menyapa mahasiswa KKN dengan ucapan seperti “Good Morning” maupun “Good Afternoon” ketika berpapasan di jalan.

Rasa ingin tahu mereka pun semakin berkembang. Di luar jadwal pembelajaran, mereka kerap bertanya mengenai Bahasa Inggris dari berbagai benda yang ditemui di lingkungan sekitar sekaligus mencoba mempraktikkan kosakata baru yang telah dipelajari.

Bagi tim KKN-PPM UGM, keberhasilan program ini bukan semata diukur dari banyaknya materi yang berhasil diajarkan, melainkan dari tumbuhnya keberanian anak-anak untuk mencoba, berbicara, dan terus belajar.

“Meskipun masa pengabdian kami telah berakhir, kami berharap semangat belajar anak-anak Elaar Lamagorang akan terus hidup dan berkembang. Itulah warisan paling berharga yang ingin kami tinggalkan,” tutup Vari.