MALUKU TENGGARA, Tualnews.com — Kemarau panjang yang masih melanda Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) pada Agustus 2026 mulai menunjukkan dampak serius.
Dalam tiga hari berturut-turut, lima kejadian kebakaran terjadi di sejumlah titik di Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Manyeuw.
Meski mayoritas kebakaran terjadi di lahan kosong dan semak belukar, kondisi tersebut patut diwaspadai karena beberapa lokasi berada tidak jauh dari kawasan permukiman warga dan fasilitas umum.
Kepala Seksi Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Maluku Tenggara, Thomy Renurth, S.Sos, membenarkan adanya lima kejadian tersebut ketika dikonfirmasi pada Minggu sore, 23 Agustus 2026.
“Benar, kebakaran terjadi di beberapa lokasi, yakni di Ohoi Langgur, Ohoi Namar dan tiga lokasi di Ohoi Kolser,” kata Thomy.

Dua Kebakaran Terjadi dalam Sehari
Dia melaporkan, pada Minggu, 23 Agustus 2026, petugas Damkar Malra harus bergerak dua kali dalam hitungan jam.
” Kebakaran pertama terjadi di kawasan hutan dan lahan kosong di depan Mess Bintara TNI Angkatan Udara Lanud Dumatubun Langgur, Ohoi Langgur, Kecamatan Kei Kecil, ” Ungkapnya.
Diakui, laporan diterima petugas Regu Siaga Kebakaran Shift 2 dari warga bernama Faizal sekitar pukul 12.01 WIT.
Petugas langsung diterjunkan dengan satu armada mobil pemadam dan 18 personel. Dalam proses pemadaman, petugas Damkar juga mendapat bantuan dari anggota TNI AU Lanud Dumatubun Langgur serta masyarakat setempat.
Api akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 14.09 WIT.
Belum lama berselang, kebakaran kembali dilaporkan di Ohoi Namar, Kecamatan Manyeuw.
Kebakaran terjadi di lahan kosong di belakang SD Ohoi Namar. Laporan diterima dari warga setempat, Antonius Sirwutubun, pada pukul 15.16 WIT.
Sebanyak 15 personel Damkar dengan satu armada dikerahkan ke lokasi. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.29 WIT.
“Siang terbakar di kompleks AURI, sore terbakar lagi di Ohoi Namar. Petugas langsung bergerak melakukan pemadaman,” ujar Thomy.
Sehari Sebelumnya, Dua Kebakaran Terjadi di Kolser
Thomy mengakui, rentetan kebakaran juga terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Ohoi Kolser, Kecamatan Kei Kecil.
” Kebakaran pertama terjadi sekitar pukul 12.40 WIT di lahan kosong dekat permukiman warga pada ruas jalan menuju Ohoi Ngayub, ” ujarnya.
Petugas Damkar langsung melakukan penanganan dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 13.10 WIT.
Namun kata dia, pada malam harinya, sekitar pukul 19.27 WIT, kebakaran kembali terjadi di depan Cafe Green Hill di Jalan Poros.
” Laporan diterima dari warga bernama Zila Tjoanda. Damkar Malra mengerahkan satu armada dan 18 personel, ” Terangnya.
Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 20.00 WIT.
Bahu Jalan Kolser-Loon Juga Terbakar
Sementara itu, ungkap Thomy, satu kejadian lainnya terjadi pada Jumat malam, 21 Agustus 2026, di Jalan Poros antara Ohoi Kolser dan Ohoi Loon.
Kebakaran terjadi pada lahan di sekitar bahu jalan dan dilaporkan oleh Wakil Ketua DPRD Maluku Tenggara, Bosko Rahawarin, melalui petugas Regu Jaga 3 Damkar Malra.
” Laporan diterima sekitar pukul 18.27 WIT. Sebanyak 14 personel dengan satu armada mobil pemadam diterjunkan ke lokasi. Setelah berjibaku dengan kobaran api, petugas berhasil memadamkannya sekitar pukul 20.05 WIT, ” jelasnya.
Ia menegaskan lima kejadian kebakaran dalam tiga hari menjadi alarm bahwa kondisi lahan kering akibat kemarau panjang tidak boleh dianggap sepele.
Thomy menjelaskan, sebelum melakukan pemadaman, petugas terlebih dahulu melakukan size up atau penilaian situasi untuk menentukan tingkat bahaya kebakaran.
” Setelah kondisi dinyatakan berstatus merah, petugas melakukan tindakan pemadaman dengan pola pemutusan api dan pendinginan, ” Katanya.
Namun, meningkatnya frekuensi kebakaran juga menuntut kewaspadaan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, khususnya di lahan kering dan kawasan yang berdekatan dengan permukiman.
Lima titik kebakaran dalam tiga hari bukan sekadar catatan kerja Damkar. Di tengah kemarau panjang, itu adalah peringatan keras bahwa satu percikan kecil dapat berubah menjadi ancaman besar bagi masyarakat Maluku Tenggara.