Uskup Merauke Akui Kei Besar Merdeka

Penjemptan secara Adat Kei Uskup Diosis Amboina di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, Jumat ( 13/11/2020 )
Penjemptan secara Adat Kei Uskup Diosis Amboina di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, Jumat ( 13/11/2020 )

Tual News – Uskup Agung Merauke, yang juga Uskup Administrator Keuskupan Amboina,  Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC kepada tualnews.com, Kamis ( 19/11/2020 ) mengakui masyarakat Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara sudah merdeka dalam menikmati infrastruktur jalan dan penerangan listrik satu kali dua puluh empat jam.

“ Kalau selama ini warga di Kei – Kecil merdeka, sekarang saatnya masyarakat Kei Besar nikmati kemerdekaan jalan dan listrik 1 x 24 jam “ Ungkap Uskup Mandagi yang baru pulang melaksanakan Perayaan Misa Krisma di Kei Besar.

Mandagi mengaku, selain infrastruktur jalan yang sudah bagus dan penerangan listrik, masyarakat juga sudah menikmati jaringan telpon seluler (HP )  dan internet.

“ sangat luar biasa Kei Besar, cuma saya marah satu kampung di sana yakni Desa / Ohoi Ohoifau, Kecamatan Kei Besar Utara Timur, masyarakat menghalangi jalanya listrik masuk ke kampung lain “ Sesal Uskup Amboina.

Atas hal ini, Uskup Merauke  berharap murka Allah berupa Gempa Bumi turun melanda kampung tersebut, karena menghalangi dan menganggu aliran listrik bagi tempat lain.

“ Orang – orang di kampung itu terlalu egoisme, saya harap mereka bertobat dengan pernyataan ini, sebab sudah tidak benar hidup sebagai orang kristiani “ Ujarnya.

Menyoal konflik Kepala Ohoi di Kabupaten Maluku Tenggara yang  merusak sendi persaudaraan dan kekeluargaan orang Kei, Mandagi yang baru mendapat penugasan baru sebagai Uskup Agung Merauke itu berharap masyarakat di Bumi Larvul Ngabal harus mengedepankan Adat dan Budaya Kei.

“ Dimana – mana ada konflik Kepala Ohoi, namun saya  minta kedepankan budaya orang Kei, Ain Ni Ain, Vuut Ain Mehe Tilur, Manut Ain Mehe Ngifun ( samua adalah satu -red ) sebagai orang saudara dalam selesaikan semua persoalan secara kekeluargaan dan perdamaian “ Harapnya.

Dikatakan, kehidupan orang Kei sebagai satu keluarga dalam bingkai persaudaraan sudah saatnya meninggalkan sikap dan prilaku saling menyerang dengan konflik yang tidak membawah keuntungan.

” masyarakat  yang setiap hari hidup berkelahi, dan bakar membakar, bukan umat beragama, melainkan orang kafir ( tidak beragama ) ” sebut Mandagi.

Untuk diketahui selama melaksanakan perjalanan Kanonik di Kei Besar, Uskup Administrator Keuskupan Amboina dikawal para Pemuda Ohoijang yang dipimpin Kiki Heatubun.  ( TN )