Ambon, Tual News.com – Pesisir Seram Utara dan Selatan Kabupaten Maluku Tengah mudah alami abrasi hal itu lantaran struktur tanah rata-rata berpasir.
Akibatnya banyak penduduk yang tinggal di pesisir pantai harus menerima risiko jika terjadi ombak.
Hal ini disampaikan anggota DPRD Maluku Alhidayat Wajo, SH, yang mana puluhan rumah di daerah seram utara sudah rusak sejak bencana ombak 2023 dan tahun ini ombak menerjang pemukiman penduduk pada awal Februari.
Wajo mengakui warga pesisir pantai di Wahatain, Pasahari, dan beberapa desa di Kobisonta masih menunggu tindakan nyata dari Pemkab Maluku Tengah (Malteng), dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku setelah dua tahun berturut-turut mengalami dampak abrasi dan cuaca ekstrim.
Kata dia, walaupun hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai jumlah rumah yang terdampak rusak akibat abrasi pantai dan badai yang terjadi sejak 2023, namun paling tidak tindakan nyata harus di lakukan.
“Di Negeri Pasahari, pada tahun 2023 lalu sekitar lima rumah dan satu Masjid yang rusak akibat abrasi. Di Wahatain juga mengalami hal serupa karena tidak adanya tanggul penahan. Sebenarnya ada tanggul, tetapi sudah terbawa arus,”ujar Alhidayat pada wartawan di Ambon, Rabu (05/02/25).
Menurutnya, pemerintah perlu lebih fokus dalam mengamankan wilayah pesisir karena banyak warga yang tinggal berdekatan dengan garis pantai.
“Jika tidak segera ditangani, kejadian ini bisa terulang lagi di musim hujan mendatang,”ujarnya.
Diakui, dua tahun kemarin, sekitar 500 warga Pasahari, Kobi, dan beberapa desa di Kobisonta sempat mengungsi selama tiga hari akibat cuaca ekstrem.
Sementara di Kobisonta sendiri tidak terjadi pengungsian, namun dampak dari cuaca buruk tetap dirasakan warga.
“Curah hujan tinggi, angin kencang, dan ombak besar sangat mengancam. Kami berharap, kejadian ini tidak semakin parah di tahun-tahun berikutnya,” Harap hidayat.
Dirinya juga mengkritik lambatnya respon dari Pemkab Malteng dan Pemprov Maluku dalam menangani permasalahan ini.





