Konferensi Perdamaian Perempuan Dunia di Korea: Pesan Tegas dari Zona Konflik, “Kami Bukan Korban, Kami Pelaku Perdamaian”

Img 20250924 wa0011

Cheongju, Tualnews.com  – Suara perempuan dari zona konflik bergema di Cheongju, Korea Selatan.

Lebih dari 800 peserta dari 44 negara menghadiri Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional 2025 yang digelar International Women’s Peace Group (IWPG), 19 September lalu.

Dengan tema “Melampaui Konflik: Kepemimpinan Perdamaian Perempuan Menuju Harapan dan Pemulihan”, forum ini menegaskan satu hal, yakni perempuan tidak lagi dipandang sebagai korban, melainkan aktor utama perdamaian.

Tokoh perempuan dari Mali, Yaman, dan Libya tampil dengan kesaksian nyata.

Bouaré Bintou Founé Samaké, mantan Menteri Mali, menegaskan perempuan mampu memimpin transisi pasca-konflik.

Dari Libya, Aisha Al-Mahdi Shalabi, anggota parlemen nasional, menyebut perdamaian sebagai “jalan bertahan hidup di tengah perang”.

Sementara Dr. Faiza Sallam dari Yaman menyoroti pendidikan perdamaian sebagai benteng di negara yang dilanda konflik berkepanjangan.

Pengalaman konkret datang dari Maria Theresa Timbol (Filipina) yang membantu mengubah Mindanao tanah yang lama berdarah menjadi lahan perdamaian.

Dari Mongolia, pendidikan perdamaian bahkan menyusup ke militer, membuktikan perubahan bisa dimulai dari ruang yang paling keras.

Selain diskusi, konferensi ini juga menghasilkan Lokakarya Keluarga Damai, di mana puluhan pemimpin IWPG merumuskan langkah konkret memperluas jaringan perdamaian perempuan di berbagai belahan dunia.

Ketua IWPG, Na Yeong Jeon, menegaskan arah gerakan ini:

“Perempuan di seluruh dunia bersatu. Ini bukan sekadar forum, ini langkah nyata menuju perdamaian berkelanjutan,” Pintahnya.

Konferensi berskala internasional ini membuktikan bahwa perempuan tidak lagi menunggu perdamaian diciptakan orang lain, mereka sendiri yang memimpin jalannya.