Jakarta – Tualnews.com, Dalam momen bersejarah Hari Pahlawan 2025, Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh bangsa, dua di antaranya mantan Presiden, Jenderal Besar H.M. Soeharto dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Upacara kenegaraan berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025), diwarnai pengumandangan Indonesia Raya dan hening cipta untuk mengenang jasa para pahlawan.
“Marilah kita mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah memberi segalanya agar kita bisa hidup merdeka dan sejahtera,” ujar Presiden Prabowo dalam amanatnya sebelum menyerahkan tanda kehormatan.
Penganugerahan ini berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 116/TK/Tahun 2025, yang diteken pada 6 November 2025.
Soeharto dan Gus Dur: Dua Presiden, Dua Era, Satu Pengakuan Sejarah
Penetapan Soeharto dan Gus Dur menjadi Pahlawan Nasional menciptakan momentum rekonsiliasi sejarah bangsa.
Keduanya dianggap berperan besar menjaga stabilitas nasional, nilai kemanusiaan, dan persatuan bangsa.
Ketua Dewan Gelar, Fadli Zon, menegaskan Soeharto layak mendapat pengakuan karena perannya memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Operasi Trikora, dua peristiwa penting yang mengukuhkan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia.
“Serangan Umum 1 Maret menjadi bukti Republik masih ada. Saat itu Belanda menganggap Indonesia sudah tidak eksis, namun serangan itu mengguncang dan mengubah peta diplomasi internasional,” kata Fadli Zon, dikutip dari DetikNews (10/11/2025).
Suara dari Timur: Tual Jadi Pengusul Awal Soeharto dan Gus Dur
Usulan agar Soeharto dan Gus Dur dianugerahi gelar Pahlawan Nasional ternyata juga datang dari Kota Tual, Provinsi Maluku.
Melalui surat terbuka tertanggal 1 Agustus 2025, Salim Hamid Nuhuyanan dan Dullah Tusek meminta Presiden Prabowo agar negara mengakui jasa Soeharto, B.J. Habibie, dan Gus Dur sebagai tokoh besar bangsa.
“Kami bersyukur suara dari timur akhirnya didengar. Ini bukan sekadar tentang Soeharto atau Gus Dur, tapi tentang bangsa yang berdamai dengan sejarah,” ujar Salim Hamid Nuhuyanan usai upacara Hari Pahlawan di Balai Kota Tual.
Daftar Lengkap 10 Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2025
1. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Presiden ke-4 RI, tokoh demokrasi dan toleransi (Jawa Timur)
2. Jenderal Besar H.M. Soeharto – Presiden ke-2 RI, pemimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Operasi Trikora (Jawa Tengah)
3. Marsinah – Aktivis buruh perempuan (Jawa Timur)
4. Prof. Mochtar Kusumaatmadja – Tokoh hukum laut dan diplomasi (Jawa Barat)
5. Hj. Rahma El Yunusiyyah – Pelopor pendidikan perempuan Islam (Sumatera Barat)
6. Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo – Tokoh TNI dan pembina Resimen Mahasiswa (Jawa Tengah)
7. Sultan Muhammad Salahuddin – Pejuang rakyat Bima (Nusa Tenggara Barat)
8. Syaikhona Muhammad Kholil – Ulama besar dan guru pendiri NU (Jawa Timur)
9. Tuan Rondahaim Saragih – Pejuang pergerakan Batak (Sumatera Utara)
10. Zainal Abidin Syah – Sultan Tidore, pejuang integrasi Maluku Utara ke NKRI (Maluku Utara)
Makna Besar: Negara Berdamai dengan Sejarah
Penganugerahan ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol rekonsiliasi nasional.
Langkah Presiden Prabowo dianggap sebagai upaya meneguhkan persatuan dengan mengakui jasa para pemimpin dari lintas zaman, terlepas dari kontroversi politik mereka.
Peringatan Hari Pahlawan 2025 pun menjadi penanda: bangsa besar adalah bangsa yang tidak menafikan masa lalu, tetapi belajar darinya untuk melangkah ke depan.