“Falbe” Yang Menggetarkan Samudra: Louis Margot Akui Sapaan Orang Kei Tak Ditemukan di Dunia

Tiba di kepulauan kei, sabtu (7/2/2026) di manoa kei, ohoidertawun, kei kecil, mantan juara dunia junior dayung itu disambut bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.
Tiba di Kepulauan Kei, Sabtu (7/2/2026) di Manoa Kei, Ohoidertawun, Kei Kecil, mantan Juara Dunia Junior Dayung itu disambut bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.

Tualnews.com – Setelah mengayuh lebih dari 40.000 kilometer mengelilingi dunia tanpa mesin dan tanpa bantuan mekanis, Louis Margot, pendayung samudra asal Swiss, akhirnya menemukan sesuatu yang tak pernah ia temui di tengah ganasnya lautan, dan kehangatan sapaan manusia.

Tiba di Kepulauan Kei, Sabtu (7/2/2026) di Manoa Kei, Ohoidertawun, Kei Kecil, mantan Juara Dunia Junior Dayung itu disambut bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.

Hamparan pasir putih halus menyambut langkahnya, lalu iringan tarian adat mengantarnya ke daratan, sebuah prosesi yang, menurutnya, tak tergantikan oleh apa pun di dunia.

“Saya merasa hangat ketika tiba di Kei, dijemput secara adat dengan pasir putih halus, lalu diantar dengan tarian adat ke daratan,” ungkap Margot.

Namun, kata Margot,  yang paling membekas bukan hanya seremoni adatnya, melainkan satu kata sederhana yang sarat makna: “Falbe.”

Louis margot bersama pemilik manoa kei, ibu maria di ohoidertawun, kecamatan kei- kecil, kabupaten maluku tenggara, sabtu ( 7 / 2 )
Louis Margot Bersama Pemilik Manoa Kei, Ibu Maria Di Ohoidertawun, Kecamatan Kei- Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu ( 7 / 2 )

Di setiap sudut kampung, ia mengaku disapa ramah oleh warga.

“Halo, selamat pagi, siang, malam… dan mereka bertanya bagaimana—Falbe,” tuturnya dengan wajah berbinar.

“Saya sangat senang dan bangga, karena sapaan seperti ini tidak ditemukan di dunia. Hanya ada di Kepulauan Kei, ” Salutnya.

Pernyataan itu bukan datang dari wisatawan biasa. Margot adalah penjelajah samudra yang telah menyeberangi Atlantik seorang diri sejauh 5.000 kilometer.

Ia telah bersua dengan berbagai budaya di lintas benua. Namun, menurutnya, kehangatan sosial masyarakat Kei memiliki karakter unik: tulus, spontan, dan tanpa jarak.

Di tengah dunia yang makin individualistis, sapaan “falbe”, menurut Louis Margot,  menjadi simbol bahwa Kepulauan Kei masih memegang teguh nilai penghormatan dan persaudaraan antar sesama manusia.

” Bukan sekadar basa-basi, tetapi cerminan falsafah hidup masyarakat adat yang menjunjung tinggi martabat orang lain, ” Terangnya.

Bagi Margot, Kei bukan hanya titik singgah dalam peta perjalanan globalnya.

Kei adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar manusia bukan hanya otot untuk mendayung ribuan kilometer, tetapi hati untuk menyapa dan menghargai sesama.

Dan mungkin, kata Ĺouis Margot, di antara riuhnya dunia modern, hanya di tanah Kei sapaan sederhana bisa terasa sedalam samudra.