Gejolak Global dan “Reset Dunia Baru”: Bung Reno Sebut Tatanan Lama Sedang Runtuh

Jakarta, Tualnews.com —
Aktivis politik asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Reno, yang akrab disapa Bung Reno, menilai gejolak geopolitik dan geostrategi global saat ini bukan sekadar krisis biasa, melainkan tanda pengaturan ulang tatanan dunia.

Menurutnya, umat manusia sedang berada di ambang runtuhnya sistem lama dan memasuki babak baru peradaban global.

Dalam sebuah diskusi aktivis politik di Jakarta, Bung Reno menyampaikan,  tatanan bumi lama sedang “di-reset”, seiring pesatnya perkembangan teknologi, informasi, dan kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini, kata dia, memicu refleksi kolektif umat manusia atas satu pertanyaan mendasar, apakah manusia benar-benar pernah bebas, atau hanya hidup dalam kenyamanan sebuah ilusi?.

“Selama beberapa dekade terakhir, manusia hidup dalam sistem yang tampak stabil, tetapi sesungguhnya penuh perbudakan oleh uang, monopoli, dan sistem lama yang sarat korupsi, ketimpangan, intrik, penindasan, serta ketidakadilan,” ujar Bung Reno, dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Minggu ( 8 / 2 / 2026 ).

Ia menilai persoalan yang dihadapi umat manusia hari ini bersifat global dan seragam: kemiskinan, kelaparan, perang, permusuhan, hilangnya empati, hingga krisis cinta dan krisis kemanusiaan.

Semua itu, menurutnya, merupakan gejala kegagalan sistem lama yang selama ini dipertahankan oleh segelintir elite global.

Bung Reno menyoroti kemunculan dan perluasan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta negara-negara anggota baru) sebagai penanda awal pergeseran kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia.

Kelompok ini dinilainya merepresentasikan kebangkitan negara-negara Global South yang mulai menantang dominasi Barat, khususnya hegemoni dolar Amerika Serikat dan lembaga keuangan internasional konvensional.

“Dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar. Dominasi tunggal perlahan goyah,” tegasnya.

Krisis Global dan Isyarat Alam

Menurut Bung Reno, perubahan besar ini juga ditandai oleh fenomena bencana alam ekstrem yang terjadi masif di berbagai belahan dunia.

Ia memaknainya sebagai panggilan kesadaran agar manusia kembali selaras dengan alam dan meninggalkan sistem eksploitasi lama, di mana manusia diperlakukan layaknya mesin demi selembar kertas bernama uang.

“Selama ini, segelintir pihak bebas mencetak uang dan memonopolinya, sementara mayoritas manusia dipaksa bekerja berjam-jam untuk bertahan hidup,” katanya.

Ia bahkan menyebut runtuhnya dolar AS sebagai pintu masuk menuju sistem keuangan baru, seraya mengkritik peran Federal Reserve yang menurutnya tidak sepenuhnya berada di bawah kendali negara, melainkan dikuasai kepentingan kapital global.

Bung Reno mengaitkan perubahan ini dengan gagasan NESARA (National Economic Security and Recovery Act) dan GESARA (Global Economic Security and Recovery Act) yang sempat mengemuka pada era awal pemerintahan Presiden Donald Trump.

Ia juga menyinggung keputusan Amerika Serikat keluar dari PBB dan WHO sebagai sinyal perubahan arah kekuatan global.

Bagi kalangan IT, Bung Reno mengibaratkan NESARA dan GESARA seperti LAN dan WAN dalam jaringan komputer global.

Dalam kerangka Quantum Financial System (QFS), ia berpendapat setiap individu ke depan berpotensi menjadi “bank berjalan”.

“Perubahan drastis ini, menurut saya, akan mulai terasa sejak awal bulan ini,” ujarnya optimistis.

Bung Reno meyakini akhir dari era perbudakan modern akan ditandai dengan kembalinya sistem transaksi berbasis nilai riil, seperti emas dan perak. Dalam tatanan dunia baru, teknologi seharusnya hadir untuk meringankan beban kerja manusia, bukan menindasnya.

“Manusia harus punya lebih banyak waktu untuk hidup, mencintai, dan bersama keluarga,” katanya.
Ia menutup pandangannya dengan optimisme tentang masa depan peradaban manusia.

“Di era baru, tidak boleh lagi ada air mata, ratap tangis, monopoli, dan dominasi kuasa. Semua bangsa harus bekerja sama, saling menopang dalam kemanusiaan, menjaga perdamaian, dan mewujudkan keadilan sosial. Peradaban tidak pernah mati—ia selalu berakhir untuk memulai kembali,” pungkas Bung Reno.