TPNPB Klaim Penembakan Dua Agen Intelijen Militer Indonesia di Yahukimo

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Batalion Yamue, Kopi Heluka, bahwa penembakan yang terjadi di jalan poros Dekai kearah Lopon pada 12 Februari 2026 kemarin. ( foto- dokumen TPNPB)
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Batalion Yamue, Kopi Heluka, bahwa penembakan yang terjadi di jalan poros Dekai kearah Lopon pada 12 Februari 2026 kemarin,

Papua Tengah, TualNews. Com – Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Batalion Yamue, Kopi Heluka, bahwa penembakan yang terjadi di jalan poros Dekai kearah Lopon pada 12 Februari 2026 kemarin, mengakibatkan dua orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang bekerja sebagai sopir tangki air minum mengalami luka tembak, adalah benar dilakukan TPNPB.

Heluka juga melaporkan,  penyerangan tersebut dipimpin langsung Komandan operasi Batalion Yamue, Dejen Heluka bersama pasukan atas perintah TPNPB, karena itu  wilayah perang mereka.

“Truk tangki dan kedua korban penembakan tersebut kami sudah pastikan bahwa mereka adalah agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan aparat militer Indonesia, lalu masuk di wilayah konflik dengan alasan penjualan air tangki,” kata Kopi Heluka, dalam keterangan Pers, tertulis resmi yang diterima Tualnews.com, Senin ( 16 / 2 / 2026 ).

Komandan Operasi Batalion Yamue, Dejen Heluka menyoroti,  pernyataan Panglima Tinggi, Agus Subiato yang mengatakan  guru, dokter dan pekerja sipil lainnya yang ditugaskan di Papua adalah anggota TNI .

” Kami ketemu dimana saja, kami siap tembak,  entah pejual sayur, sopir taksi, tukang ojek, tukang bakso dan lainnya. Kami tetap tembak mati karena itu bagian dari aparat militer Indonesia, ” Ancamnya.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengimbau warga imigran Indonesia yang sedang berada di Yahukimo, Nduga, Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Tembagapura, Dogiyai, Paniai, Deiyai, Maybrat, Sorong, Nabire, Asmat, dan wilayah konflik bersenjata lainnya agar segera tinggalkan wilayah tersebut dan menutup  semua permainan judi, tempat seks, kios-kios dan lainnya.

” Jika melanggar,  kami siap tembak mati pemiliknya bahkan orang imigran Indonesia, ” Ancam TPNPB untuk kedua kalinya.

Hingga saat ini, pihak TNI-POLRI di Papua belum dapat dikonfirmasi terkait klaim TPNPB.