IWPG Gandeng Turki dan Belanda di CSW70, Dorong Perempuan Jadi Aktor Utama Perdamaian

Dalam Rilis Pers yang diterima Tualnews.com, Jumat 27 Maret 2026, IWPG menyebutkan, dalam forum paralel di Church Center PBB, IWPG berkolaborasi dengan International Network of Liberal Women (INLW) dan Turkish Green Crescent Society (TGCS) mengangkat tema, "  kepemimpinan perempuan dalam situasi konflik, "( foto - IWPG)
Dalam Rilis Pers yang diterima Tualnews.com, Jumat 27 Maret 2026, IWPG menyebutkan, dalam forum paralel di Church Center PBB, IWPG berkolaborasi dengan International Network of Liberal Women (INLW) dan Turkish Green Crescent Society (TGCS) mengangkat tema, "  kepemimpinan perempuan dalam situasi konflik, "( foto - IWPG)

Jakarta, Tualnews.com–  Kelompok Perdamaian Perempuan Internasional (IWPG) menegaskan peran strategis perempuan sebagai aktor utama perdamaian global dalam Sidang ke-70 Komisi Status Perempuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (CSW70) di New York, 17 Maret 2026.

Bersama mitra dari Turki dan Belanda, IWPG menggelar dua forum internasional yang menyoroti kepemimpinan perempuan dalam menghadapi konflik hingga isu kesehatan masyarakat berbasis gender.

Dalam Rilis Pers yang diterima Tualnews.com, Jumat 27 Maret 2026, IWPG menyebutkan, dalam forum paralel di Church Center PBB, IWPG berkolaborasi dengan International Network of Liberal Women (INLW) dan Turkish Green Crescent Society (TGCS) mengangkat tema, ”  kepemimpinan perempuan dalam situasi konflik,

Sekretaris Jenderal IWPG, Kyungnam Choi, menegaskan perempuan tidak lagi bisa diposisikan sebagai korban semata.

“Perempuan adalah agen utama yang mampu memulihkan komunitas dan membangun kembali perdamaian,” tegasnya.

Choi menyebut tiga kunci utama perdamaian berkelanjutan, yakni kesadaran diri perempuan, penguatan jaringan solidaritas, serta transformasi suara akar rumput menjadi kebijakan.

Senada, Kepala Perencanaan Strategis IWPG Kyungmi Lee,  memaparkan hasil riset di sejumlah negara konflik seperti Yaman, Ukraina, dan Myanmar.

Temuan menunjukkan perempuan yang mendapat pendidikan perdamaian mampu bangkit dari trauma perang dan menjadi penggerak stabilitas sosial.

“Mereka bukan hanya bertahan, tapi menjadi katalisator perdamaian di komunitas, bahkan di kamp pengungsian,” jelas Lee.

IWPG juga menyoroti efek berantai dari pemberdayaan perempuan di mana perubahan individu berdampak pada pemulihan kepercayaan dan solidaritas kolektif dalam masyarakat.

Sementara itu, dalam forum lanjutan di Markas Besar PBB, IWPG bersama Misi Tetap Turki, TGCS, serta sejumlah organisasi internasional membahas tantangan kecanduan perilaku pada perempuan.

Dalam sesi tersebut, Choi menekankan pentingnya konektivitas sosial dalam proses pemulihan.

“Ketika perempuan terisolasi, kecanduan semakin dalam. Namun ketika perempuan terhubung, pemulihan dimulai,” ujarnya.

Partisipasi IWPG di CSW70 juga memperlihatkan perluasan jejaring global organisasi tersebut.

Selama forum, IWPG terlibat dalam kolaborasi lintas sektor bersama Uni Afrika, pemerintah Turki, serta berbagai organisasi sipil internasional.

Langkah ini memperkuat posisi IWPG sebagai mitra strategis dalam isu perdamaian, ketahanan masyarakat, dan respons kesehatan global.

Sebagai organisasi yang terdaftar di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), IWPG kini memiliki 115 cabang di 123 negara serta bermitra dengan lebih dari 900 organisasi di 68 negara.

Dengan pendekatan berbasis pendidikan dan jaringan global, IWPG terus mendorong terwujudnya perdamaian dunia yang berkelanjutan melalui kepemimpinan perempuan.

Penulis  : Nerius Rahabav