Tragedi Berulang di JMP, Alarm Keselamatan Ambon Berbunyi, Pemerintah Jangan Tunggu Korban Berikutnya

Ketua Komisaris IMM KIP Unpatti, Samil Rahareng, dalam keterangan tertulisnya kepada Tualnews.com, Jumat 10 April 2026, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut.
Ketua Komisaris IMM KIP Unpatti, Samil Rahareng, dalam keterangan tertulisnya kepada Tualnews.com, Jumat 10 April 2026, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut.

AMBON, Tualnews.com-  Ikon kebanggaan Kota Ambon, Jembatan Merah Putih, kembali menjadi lokasi tragedi.

Malam Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 22.10 WIT, seorang pria bernama Anto Haninu dilaporkan tewas setelah melompat dari ketinggian jembatan.

Peristiwa ini kembali mengguncang publik dan memicu seruan keras agar keselamatan di kawasan tersebut segera dibenahi.

Insiden tersebut bukan yang pertama. Pada 20 Maret 2026, seorang perempuan berusia 21 tahun juga meninggal dunia setelah melompat dari jembatan yang sama.

Rentetan kejadian dalam waktu berdekatan itu menegaskan bahwa JMP bukan lagi sekadar ruang publik ikonik, tetapi telah berubah menjadi titik rawan yang membutuhkan intervensi serius.

Ketua Komisaris IMM KIP Unpatti, Samil Rahareng, dalam keterangan tertulisnya kepada Tualnews.com, Jumat 10 April 2026, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut.

Ia menilai setiap peristiwa bukan sekadar statistik, melainkan kehilangan nyata bagi keluarga dan masyarakat.

“Ini bukan sekadar angka. Ini nyawa manusia. JMP seharusnya menjadi simbol harapan, bukan saksi tragedi,” ujarnya.

Samil mendesak langkah cepat dan konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Ia mengusulkan sejumlah tindakan preventif, mulai dari patroli rutin pada jam rawan, pendirian pos penjagaan permanen di titik strategis, hingga peninggian pagar jembatan untuk membatasi akses berbahaya.

Selain itu, ia juga mendorong pemasangan sensor gerak dan alarm darurat agar potensi tindakan berisiko dapat segera terdeteksi.

Tak hanya pendekatan fisik, ia menekankan pentingnya koordinasi dengan layanan kesehatan mental serta pelibatan komunitas untuk memberikan pendampingan emosional bagi warga yang membutuhkan.

Menurutnya, pendekatan komprehensif menjadi kunci agar JMP kembali aman tanpa kehilangan fungsi sebagai ruang publik.

“JMP adalah simbol kebanggaan Ambon. Kita tidak bisa hanya mempercantik ikon, tapi mengabaikan keselamatan. Tragedi ini harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bergerak bersama,” tegasnya.

Seruan tersebut menjadi tekanan moral bagi pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk segera mengambil langkah nyata.

Jika tidak, ikon kebanggaan kota itu berisiko terus diingat bukan karena kemegahannya, melainkan sebagai lokasi tragedi yang berulang.