Rat Magrib Akui Ohoimel Fiditan Adalah Tempat Bersejarah

Tual News – Raja Madwaer atau dikenal dengan sebutan Rat Magrib, Frans Renfaan, kepada tualnews.com, di Ohoi Madwaer, Kecamatan Kei – Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Minggu ( 23/08/2020 ), pukul 16.00 WIT, mengakui lokasi proyek pembangunan Ablel Fiditan, oleh Balai Sungai Maluku di Kota Tual merupakan tempat bersejarah Kaisar Magrib, yang dulu dikenal dengan nama kampung Ohoimel.

“ Jadi lokasi itu dulu diberi nama Ohoimel, namun karena masalah moyang perempuan kami ditanya untuk kawin, tapi para orang tua tidak mau, sehingga karena sudah ada dendam, lalu Badmas, Naraha dan Yamtel, membunuh moyang perempuan Renfaan dilokasi tanah itu, disaat para lelaki pergi ke laut mencari ikan “ Ungkap Rat Magrib.

Kata Rat Magrib, ketika para lelaki pulang dari laut, melihat semua basudari perempuan dibunuh dilokasi tanah Ablel tersebut, mereka tidak membalas untuk melakukan penyerangan, namun para leluhur laki – laki Renfaan menyimpan semua barang dan pergi meninggalkan Ohoimel menuju Desa Letman, Kecamatan Kei – Kecil, Kabupaten Malra.

“ Tujuh leluhur laki – laki Marga Renfaan, berangkat meninggalkan Ohoimel menuju Desa Letman, disitu empat orang menetap di Desa Letman dan tiga lainya langsung ke Desa Madwaer,Kecamatan Kei – Kecil Barat ( KKB ) “ Jelasnya.

Wow..Proyek Embung Air Fiditan 8 M Dibangun Ditengah Hutan Kota Tual

Dikatakan, tiga leluhur laki – laki Renfaan, setelah sampai di Ohoi Madwear, sudah ada orang yang menetap disitu yakni, Marga Rumohoira, Lumyar, Welafubun dan Renyaan.

“ Kekuasaan disini adalah Marga Renyaan, ketika leluhur Renfaan datang, Welafubun menahan kami untuk tinggal di Madwaer dengan menyerahkan sebidang tanah kepada tiga orang tua kami untuk tahan tinggal masing – masing, Kilkian, Der dan Kamear “ Ujar Rat Magrib.

Balai Sungai Maluku Bangun Proyek 8 M Diatas Situs Sejarah Rat Magrib

Setelah tiga leluhur Renfaan tinggal disitu, kata Rat Magrib,  kemudian berpindah menetap bersama Renyaan di ujung Kampung Madwaer yang dikenal dengan nama Fau Kenar.

“ Setelah tinggal disitu, mereka bermusyawarah untuk membuka pemukiman baru yang pertama Langrid, kemudian pemukiman baru  Badang Mas, setelah itu baru sejarah Tobi dan Tobai atau Tabob masuk.  Jadi  Ngutunrid ada di Woma Tarwalek, sedangkan Tenanbes tinggal di woma El Larngas Desa Faan, yang menaungi dua puluh kampung, termasuk Desa Tual, Taar, Dumar dan Mangon “ Terang Rat Magrib.

Kata Renfaan, pemukiman baru di Ohoi Madwaer, ada empat leluhur yang ditikam dan tidur dipusat kampung Madwaer hingga saat ini.

Proyek Air Bersih Balai Sungai Maluku di KotaTual Mubasir

“ Kami naik di Ohoi Madwaer sudah enam belas generasi, karena lewat sumpahan orang tua, kami dilarang makan dan minum kalau turun kesana, termasuk PNS dari Ohoitel, Vatraan dan Ohoitahit kalau datang laksanakan tugas di Ohoi Madwaer, harus bawah bekal sendiri, karena kalau makan – minum dikampung Madwaer, setelah pulang  pasti meninggal “ Tandas Rat Magrib.

Pemkot Tual Beli Lahan TPA Buka Alam Pikir Rat Magrib   

Rat Magrib, Frans  Renfaan, mengisahkan setelah ditahun 2015, ketika Pemkot Tual membeli lahan tanah dua hektare untuk pembangunan TPA Kota Tual, baru kembali membuka alam pikir mereka untuk mengenang pesan para Leluhur tentang Nuhu Met.

Ini lokasi lahan TPA Pemkot Tual dua hektare

“ Kami harus berjuang, karena memang sudah ada keputusan para leluhur, namun kami siap untuk perbaiki adat istiadat itu, intinya harus ada perdamaian  adat Ain Ni Ain, bersama Marga Badmas, Naraha dan Yamtel, karena benar sesuai amanat leluhur, sudah ada satu nyawa sebagai tebusan, tapi harus diperbaiki “ Tegas Rat Magrib.

Ditegaskan, ada sebagian kelompok tertentu yang merasa berhak untuk ini, namun harus diketahui kalau kami adalah induk Rat Magrib.

Lima Tahun Biaya Pelepasan Tanah TPA Kota Tual Mengendap ?

“ Jadi ada yang mencari untuk ambil hak ini secara terpisah – pisah, jelas tidak bisa, olehnya itu harus bergabung bersama supaya hak tanah dilokasi itu dikembalikan, karena saya adalah induk “ Tegasnya.

Lokasi Tanah Ablel Fiditan Bukan Peperangan

Menyoal tentang tujuh leluhur laki –laki Renfaan yang keluar dari Ohoimel karena peperangan ( FUN ), Rat Magrib kembali menegaskan kalau hal itu terjadi bukan karena peperangan atau istilah bahasa Kei Fun.

“ Itu bukan peperangan ( Fun ), waktu tahun 1998, saya diuji oleh para Lattupati yang persoalkan hal ini, namun saya jawab,  bukan karena lewat peperangan, tapi karena malu, seperti pesan Leluhur Evav yakni Mas Tom Ron Mam, Melyanan Ron Mat Nan Lafik Renad Urad ( orang mati karena saudari perempuan dan batas tanah )  “ Ungkap Rat Magrib.

Dikatakan semua Tuan Tanah di Pulau Dullah mengakui, kalau itu bukan lewat peperangan, tapi Nuhu Met itu adalah milik Rat Magrib.

“ Dullah terbagi tiga yaitu Utan Tel Timur ( Raja Ohoitahit ), Utan Tel Varat ( Raja Baldu Hadat ), dan Utan Tel Varuhan adalah saya ( Rat Magrib ), tapi pada saat itu, kami tidak bawah Raja dari sana “ Ujarnya.

Sementara itu Anak Rat Magrib, menjelaskan kalau Pulau Dullah dulu dikatakan dengan sebutan Elmuwar, yang terbagi atas tujuh,tapi tinggal enam, karena satu ada di Rat Magrib.

“ Pembagian batas wilayah kekuasaan ada tiga yakni Utan Tel Timur, Utan Tel Varat dan Utan Varuhan. Jadi Danau Ablel masuk Utan Tel Varuhan, karena dekat pemukiman Balmas Wain, kalau bicara sejarah awal, kami bukan Raja, tapi Sultan “ Tegasnya.

Kata dia, nama Sultan pertama di Elmuwar adalah Baldia Magrib, anaknya Balmas Wain. “ Setelah pindah kesini, kami hanya bawah nama Magrib, karena nama Balmas Wain tetap ada di pulau Dullah “ sebutnya.

Ditegaskan Raja Dullah berkedudukan di Desa Dullah Laut, bukan di Dullah Darat.

Menyoal tentang pembangunan mega proyek Balai Sungai Maluku di tempat bersejarah Balmas Wain, kata turunan Magrib generasi tujuh belas ini mengaku tidak ada pemberitahuan resmi.

“ kemarin kami sempat berdiskusi tentang masalah ini, lalu ada pertanyaan dari keluarga Reubun tentang danau Ablel, saya jawab danau Ablel masuk Utan Tel Varuhan, sebab letaknya tidak berada di Utan Tel Timur atau Utan Tel Varat, sehingga itu mutlak hak milik Balmas Wain dan keluarga Reubun langsung berjabat tangan dengan saya, karena apa yang saya sampaikan adalah benar, sesuai pesan para leluhur mereka  “ Ungkapnya.

Dirinya juga menyesalkan sikap Pemkot Tual yang tidak dapat menyelesaikan persoalan pembebasan lahan TPA Kota Tual, sebab tiga tahun lalu pihaknya sudah menanam tanda larangan sasi  ( hawear ), dilokasi TPA, tapi tidak ada penyelesaian adat.

“ Untuk pembangunan mega proyek Ablel, kami akan tanam sasi ( Hawear-red ), agar Walikota Tual dan instansi terkait sadar kalau selama ini tidak ada penyelesaian adat, lalu kenapa sampai ada pembangunan di Ablel Fiditan, tanpa pemberitahuan. Ini menunjukan Pemkot Tual tidak menghargai kami sebagai pemegang hak penuh atas tanah Ablel “ Kesalnya.

Aksi pemasangan sasi akan diputuskan dalam rapat Marga Renfaan di Ohoi Madwaer, minggu malam ini ( 23/08/2020 ). ( TN )

tualnews

tualnews.com adalah portal berita di Kepulauan Kei sebagai media publik penyambung suara hati masyarakat. semoga media ini menjadi sarana informasi dan publikasi yang aktual, tajam dan terpercaya

Komentar Pembaca