4 Warisan Budaya Takbenda Antar Maluku ke Panggung Nasional

Empat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Maluku resmi ditetapkan dan diapresiasi di tingkat nasional dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025, yang digelar Kementerian Kebudayaan RI, Senin malam (15/12), di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Jakarta.
Empat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Maluku resmi ditetapkan dan diapresiasi di tingkat nasional dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025, yang digelar Kementerian Kebudayaan RI, Senin malam (15/12), di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Jakarta, Tualnews.com  — Provinsi Maluku kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum kebudayaan Nusantara. Empat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Maluku resmi ditetapkan dan diapresiasi di tingkat nasional dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025, yang digelar Kementerian Kebudayaan RI, Senin malam (15/12), di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Acara bergengsi bertema “Membingkai Warisan, Menghidupkan Masa Depan” ini memberikan penghargaan kepada 35 provinsi yang dinilai serius dan konsisten dalam menjaga serta mengembangkan warisan kebudayaan daerahnya.

Dari Maluku, tim ahli menetapkan empat warisan budaya takbenda, yakni:

1. Batuku Adat – Kabupaten Seram Bagian Timur

2. Papalele – Kota Ambon

3. Tarian Tnbar Ilaa – Kabupaten Kepulauan Tanimbar

4. Maren – Kota Tual

Empat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Maluku resmi ditetapkan dan diapresiasi di tingkat nasional dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025, yang digelar Kementerian Kebudayaan RI, Senin malam (15/12), di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Jakarta.
Empat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Maluku resmi ditetapkan dan diapresiasi di tingkat nasional dalam Malam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025, yang digelar Kementerian Kebudayaan RI, Senin malam (15/12), di Plaza Insan Prestasi, Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dr. Lotje Singerin, didampingi Kabid Kebudayaan Rina Lappy, MH, menegaskan  tema Anugerah WBTbI tahun ini merepresentasikan pendekatan baru pelindungan budaya yang lebih holistik.

“Pelindungan budaya tidak lagi berdiri sendiri. Ia terhubung dengan lingkungan alam, ruang hidup, serta komunitas pendukungnya. Inilah kristalisasi pelestarian kebudayaan yang berkelanjutan,” ujar Singerin.

Ia juga menyampaikan kebanggaannya atas tampilnya Tarian Tnbar Ilaa dalam malam apresiasi tersebut, yang sukses memukau para undangan dari seluruh Indonesia.

“Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi penegasan identitas Maluku di panggung nasional,” katanya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, dalam sambutannya menekankan  pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan ekosistem budaya yang hidup, dinamis, dan produktif.

“Apresiasi ini tidak berhenti pada penetapan. Warisan budaya takbenda harus diregistrasi, dihidupkan ekosistemnya, dan diberi nilai tambah. Inilah soft power bangsa,” tegas Fadli Zon.

Sertifikat penetapan WBTbI diterima langsung oleh Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Samuel Huwae, yang mewakili Gubernur Hendrik Lewerissa.

Ia menyebut capaian ini sebagai hasil dari proses panjang dan seleksi yang sangat ketat.

“Dari 804 usulan nasional, hanya yang lolos penilaian pakar melalui tiga kali sidang dan verifikasi faktual lapangan yang ditetapkan. Ini kebanggaan besar bagi Maluku,” ujarnya.

Malam apresiasi ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Sekjen Kemendikbud Bambang Wibawarta, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, serta para gubernur, wakil gubernur, bupati, dan wali kota dari seluruh Indonesia.

Penetapan empat WBTbI ini menjadi bukti bahwa Maluku bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga konsisten menjaga denyut hidup kebudayaannya, siap menjadikannya kekuatan identitas, ekonomi kreatif, dan diplomasi budaya di masa depan.