Tualnews.com – Umat Islam di Indonesia, termasuk di Kota Tual, Jumat (16/1), memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1447 Hijriah.
Peringatan peristiwa agung dalam sejarah Islam ini diharapkan menjadi momentum refleksi spiritual untuk memperkuat keimanan dan menebar nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua DPRD Kota Tual, Aisa Renhoat, mengajak umat Islam menjadikan Isra Mikraj 1447 H sebagai momentum religi untuk memperkokoh iman, menjaga persatuan, serta mempererat nilai persaudaraan dan toleransi di tengah keberagaman.
“Saya dan keluarga menyampaikan selamat memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1447 Hijriah. Semoga peristiwa suci ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk memperbaiki diri dan memperkuat nilai-nilai kebajikan,” ujar Aisa Renhoat kepada Tualnews.com, melalui pesan WhatsApp, Jumat siang (16/1).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan bahwa Isra Mikraj merupakan perjalanan iman Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina (Isra), kemudian naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha (Mikraj) dalam satu malam untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah SWT.
“Peristiwa ini mengajarkan keikhlasan, keteguhan iman, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang harus kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menegaskan, peringatan Isra Mikraj tidak sekadar seremoni, tetapi harus menjadi dorongan nyata untuk memperkuat persatuan, menebar kebaikan, serta menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan damai.
Menag Serukan “Pertobatan Ekologis”
Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, menyerukan agar peringatan Isra Mikraj 1447 H dijadikan sebagai momentum pertobatan ekologis bagi umat Islam.
Menurut Nasaruddin, kesalehan ritual seperti salat tidak boleh dipisahkan dari kesalehan sosial dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan menguasai bumi secara serakah. Karena itu, Isra Mikraj layak menjadi momentum pertobatan ekologis—berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi alam semesta,” tegas Nasaruddin dalam sambutannya pada Peringatan Isra Mikraj Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (15/1) malam.
Dalam peringatan yang mengusung tema “Pesan Ekoteologi dalam Peristiwa Isra Mikraj”, Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat menghentikan perilaku yang merusak alam.
Ia menekankan bahwa perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak nyata di bumi. Meski mencapai puncak spiritual di Sidratul Muntaha, Nabi SAW kembali ke bumi untuk menebar rahmat bagi seluruh alam.
“Spirit langit yang kita rayakan seharusnya menjelma menjadi aksi bumi. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan sikap hemat air, cinta kebersihan, dan keengganan merusak alam,” kata Nasaruddin.
Ia juga mencontohkan praktik ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi SAW untuk berhemat air saat berwudu. Masjid Istiqlal, lanjutnya, telah menerapkan prinsip tersebut hingga meraih sertifikat internasional EDGE dari Bank Dunia sebagai Green Mosque.
Di akhir sambutannya, Nasaruddin mengajak masyarakat mendoakan serta membantu para korban bencana banjir dan longsor di sejumlah daerah, sekaligus menjadikan musibah tersebut sebagai peringatan untuk lebih menjaga alam.