Maluku Tenggara, Tualnews.com — Ketahanan pangan sering kali berhenti pada slogan dan dokumen perencanaan.
Namun di Ohoi Langgur, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, sebuah koperasi desa justru membuktikan ketahanan pangan dapat diwujudkan melalui kerja nyata, bahkan sebelum dana besar dari pemerintah pusat turun.
Terbukti, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Ohoi Langgur membuka lahan pertanian seluas 25 hektar untuk budidaya jagung pakan ternak ayam.
Langkah ini dilakukan meski koperasi belum menerima dana senilai Rp 3 miliar yang direncanakan untuk pembangunan kantor, gerai, gudang, dan modal usaha.
Ketua Kopdes Merah Putih Ohoi Langgur, Fransiskus Xaverius Renaldy Renyut, menegaskan keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menunda program strategis desa.
“Ketahanan pangan tidak bisa menunggu. Kami bergerak bersama pemerintah ohoi untuk membuka lahan dan menanam jagung pakan ternak,” ujarnya di lokasi kebun, Jumat (23/1).
Menurut Renyut, program ini merupakan implementasi dari kebijakan nasional yang mewajibkan desa mengalokasikan minimal 20 persen Dana Desa untuk program ketahanan pangan, mencakup sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.
” Kebijakan tersebut bukan sekadar aturan administratif, melainkan strategi memperkuat ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar wilayah, ” Tegasnya.
Kata dia, di Maluku Tenggara, ketergantungan terhadap pasokan jagung pakan ternak dari Jawa dan Makassar masih sangat tinggi.
” Konsekuensinya, biaya produksi peternakan meningkat, harga daging ayam tidak stabil, dan ekonomi lokal kehilangan peluang nilai tambah, ” Terangnya.
Renaldy Renyut menjelaskan kebutuhan jagung pakan ternak di Maluku Tenggara dan Kota Tual mencapai puluhan hingga ratusan ton per bulan.
” Dalam satu hari, kebutuhan pakan ayam bisa mencapai 4 ton, atau sekitar 120 ton per bulan, ” Ungkapnya.
Angka ini kata Renyut, menunjukkan bahwa jagung pakan bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi komoditas strategis yang memiliki dampak ekonomi luas.
“Selama ini pengusaha ternak membeli jagung dari luar daerah dengan biaya tinggi. Ini peluang yang harus diambil oleh desa,” katanya.
Dikatakan, dengan membuka lahan 25 hektar, Kopdes Merah Putih tidak hanya membangun usaha pertanian, tetapi juga membangun rantai ekonomi lokal: dari petani, koperasi, hingga pelaku usaha peternakan.
Kolaborasi Desa, Koperasi, dan Petani
Sekretaris Kopdes Merah Putih Ohoi Langgur, Yoseph Ohoira, mengakui program ini dijalankan melalui pola kemitraan dengan petani sebagai pemilik lahan.
” Petani terlibat sejak pembukaan lahan, pengolahan tanah, penanaman, hingga perawatan tanaman, sementara koperasi bertanggung jawab pada aspek pemasaran, ” Jelasnya.
Menurut Ohoira, model kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana koperasi desa dapat berfungsi sebagai institusi ekonomi rakyat, bukan sekadar formalitas organisasi.
Dia mengungkapkan, dukungan juga datang dari Dinas Pertanian Kabupaten Maluku Tenggara yang menyediakan satu unit traktor, dua operator, serta pendampingan penyuluh pertanian.
” Kehadiran teknologi dan pengetahuan pertanian modern memberikan perubahan signifikan bagi petani yang selama ini bergantung pada metode tradisional, ” Terangnya.
Pendidikan Ekonomi bagi Desa
Salah satu petani Ohoi Langgur, Poly Rumangun, mengaku program ini membuka wawasan baru bagi petani desa.
“Selama ini kami bertani secara tradisional. Sekarang kami belajar menggunakan alat modern dan mendapat pendampingan dari penyuluh,” ujarnya.
Kata dia, pembukaan lahan jagung ini menjadi proses pendidikan ekonomi bagi masyarakat desa.
” Petani tidak hanya diajak menanam, tetapi juga memahami rantai produksi, pasar, dan nilai ekonomi komoditas, ” Pungkasnya.