TUAL, TUALNEWS.COM — Di saat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku mulai membidik dua proyek raksasa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Tual, realitas di lapangan justru memperlihatkan ironi pahit, warga masih memikul air dengan gerobak, sementara proyek bernilai lebih dari Rp 100 miliar diklaim telah berjalan.
Dua proyek SPAM yang kini menjadi sorotan masing-masing berada di Tayando dan Dula Laut, dibiayai APBN dan APBD Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2023–2024.
Namun, klaim operasional pemerintah berseberangan dengan kesaksian warga.
Pantauan langsung Tualnews.com di wilayah Tayando memperlihatkan pemandangan yang tak seharusnya terjadi di daerah yang telah digelontor dana puluhan miliar rupiah.
Warga masih mengandalkan gerobak, jerigen, dan bak penampungan sederhana untuk memperoleh air bersih.
Sejumlah fasilitas penampungan yang dibangun tampak terbengkalai. Pipa ada, bak ada, namun air tak pernah mengalir ke rumah warga.
“Ini proyek Abunawas. Anggarannya habis, tapi air tidak pernah sampai ke masyarakat,” ujar seorang warga Tayando Yamtel dengan nada kesal, Selasa (10/2).
Bagi warga, proyek SPAM Tayando lebih mirip monumen beton mahal ketimbang solusi krisis air bersih.
Kejati Maluku Mulai Menggali
Sumber resmi Tualnews.com di lingkungan Kejati Maluku mengungkapkan, aparat penegak hukum tengah melakukan full data collection terhadap dua proyek SPAM tersebut.
Sorotan utama tertuju pada
SPAM Tayando, di tiga desa yakni Tayando Tam, Tayando Langgiar dan Tayando Ohoiel, minus Desa Tayando Tam, nilai proyek: Rp 21,3 miliar,
Pelaksana: PT Fikri Bangun Persada.Status: Dana 100 persen cair sejak 2024.
Sedangkan SPAM Dula Laut
Nilai kontrak: Rp 31,4 miliar
Pelaksana: PT Citra Mutiara Abadi.
Tak hanya itu, berdasarkan arsip pemberitaan Tualnews.com akhir 2024, tambahan anggaran rehabilitasi intake, jaringan transmisi, dan penguatan kelembagaan PDAM, membuat total dana proyek air bersih di Kota Tual membengkak hingga Rp 101,8 miliar.
Kepala PDAM Klarifikasi: Tidak Semua Wilayah Tayando Terlayani
Menanggapi tudingan publik, Kepala PDAM Kota Tual Hasan Rengifuryaan, ST angkat bicara.
Ia menegaskan bahwa tidak seluruh wilayah Tayando masuk dalam cakupan SPAM yang saat ini beroperasi.
“SPAM berbasis desalinasi (SWRO) di Tayando baru melayani tiga desa: Tayando Langgiar, Tayando Yamru, dan Tayando Ohoiel. Tayando Yamtel belum terlayani,” jelas Hasan, dalam wawancara bersama Tualnews.com, Selasa ( 10 / 2 ).
Menurutnya, kendala utama di Tayando Yamtel adalah keterbatasan sumber air dan belum adanya tambahan infrastruktur SWRO, meski di lapangan terdapat waduk yang hingga kini tidak dimanfaatkan.
Dulla Laut: Air Mengalir, Tapi Tidak untuk Semua
Untuk SPAM Dula Laut, Hasan mengklaim sistem telah beroperasi sejak 2024 dan menggunakan pipa bawah laut.
“Air sudah mengalir dan digunakan masyarakat,” katanya.
Namun klaim tersebut dibantah realitas di lapangan. Layanan air bersih baru dinikmati sebagian warga, karena sambungan rumah dan meteran belum terpasang secara merata.
“Yang menikmati air baru sedikit. Banyak warga belum terlayani karena tidak ada meteran,” ungkap B. Raharusun, mantan anggota Badan Saniri Ohoi (BSO) Dullah Laut.
Raharusun juga membenarkan bahwa tim penyidik Kejaksaan Negeri Tual telah turun langsung ke Dullah aut untuk menyelidiki dugaan penyimpangan proyek.
Hasan tidak menampik keterlibatan aparat penegak hukum. Meski belum ada surat resmi, ia mengakui staf PDAM telah dimintai keterangan.
“Saya sudah instruksikan agar semua data dibuka, termasuk jumlah pelanggan dan sistem operasional,” tegasnya.
Masuknya Kejati Maluku ke Kota Tual membangkitkan harapan publik agar proyek air bersih ini tidak berhenti pada pemeriksaan formalitas.
“Yang kami tunggu, apakah kasus ini dibongkar sampai ke aktor intelektualnya, atau kembali menguap seperti air bersih yang tak pernah mengalir ke rumah kami,” sindir seorang warga.
Hingga berita ini diterbitkan, baik Dinas PUPR Provinsi Maluku, Kepala Balai Sungai Maluku dan pihak kontraktor pelaksana proyek belum memberikan keterangan resmi, meski upaya konfirmasi telah dilakukan.