Jangan Hanya Lihat Api, Ada Luka Yang Lebih Dulu Menyala

Rani Yanti Ngabalin, M.I. Kom
Rani Yanti Ngabalin, M.I. Kom

Jangan Hanya Lihat Api, Ada Luka Yang Lebih Dulu Menyala

Oleh : Rani Yanti Ngabalin, M.I. Kom

Danar, Maluku Tenggara, Tualnews.com  — Gelombang informasi yang beredar luas beberapa hari terakhir didominasi oleh visual rumah-rumah yang terbakar di Danar.

Gambar-gambar itu cepat menyebar, menggugah emosi, dan membentuk opini publik dalam waktu singkat.

Namun di balik kobaran api yang terlihat, ada rangkaian peristiwa yang lebih dulu terjadi dan nyaris luput dari perhatian.

Sejumlah warga dilaporkan menjadi korban sebelum kebakaran terjadi.

Mereka mengalami luka serius akibat serangan, termasuk terkena panah, dan hingga kini sebagian masih menunggu penanganan medis lanjutan karena proses rujukan yang belum tuntas.

Di tengah keterbatasan itu, keluarga korban hanya bisa menunggu dengan cemas, sementara rasa sakit terus ditahan tanpa kepastian.

Duka semakin dalam dengan meninggalnya seorang warga bernama Aimar.

Bagi keluarga dan masyarakat setempat, ia bukan sekadar nama dalam daftar korban, melainkan bagian dari kehidupan kampung yang kini hilang.

Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, terlebih karena kondisi yang menyertai kematiannya menggambarkan peristiwa yang tragis.

Situasi ini menunjukkan bahwa narasi yang berkembang di ruang publik belum sepenuhnya menggambarkan keseluruhan peristiwa.

Fokus yang lebih besar pada dampak akhir berupa kebakaran dinilai menutup fakta bahwa ada korban jiwa dan luka-luka serius yang terjadi lebih dahulu.

Pihak keluarga dan warga menegaskan bahwa penyampaian ini bukan untuk memperkeruh keadaan atau memicu kebencian.

Mereka berharap publik dapat melihat peristiwa secara lebih utuh, dengan mempertimbangkan seluruh rangkaian kejadian dan dampaknya terhadap manusia.

“Setiap korban adalah manusia, bukan sekadar bagian dari narasi,” demikian pesan yang disampaikan keluarga.

Mereka juga menekankan pentingnya empati yang adil, tanpa membedakan perhatian terhadap satu pihak dan mengabaikan pihak lain.

Di tengah situasi yang masih menyisakan duka, warga berharap semua pihak dapat menahan diri dan membuka ruang bagi penyelesaian yang adil.

Mereka juga mendorong agar penanganan korban, baik yang luka maupun keluarga yang kehilangan, menjadi prioritas.

Peristiwa di Danar menjadi pengingat bahwa dalam setiap konflik, ada sisi-sisi yang tidak selalu tampak di permukaan.

Ketika perhatian hanya tertuju pada apa yang viral, ada risiko bahwa sebagian penderitaan akan tenggelam tanpa suara.

Pada akhirnya, warga hanya meminta satu hal: agar peristiwa ini dilihat secara utuh, bukan hanya dari apa yang terbakar, tetapi juga dari luka yang lebih dahulu terjadi.